
"Loh, ini kan yang tadi ketemu sama oma di minimarket. Kamu temannya Yuri?"
Saat ini keluarga Deo dan Yuri sudah berkumpul di rumah Yuri untuk menyambut kedatangan oma.
Deo tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh, tadi mama sudah bertemu dengan Deo?"
"Deo? Jadi ini Deo?"
"Iya, ini Deo. Cucu menantu mama."
"Oalah, Deo toh. Aduh, padahal tadi ona sudah niat banget loh, jadiin kamu berondong oma. Habis kamu unyu, sih."
Yuri tertawa ngakak mendengar omongan omanya.
"Kate, kok lo ketawa sih?"
"Gue cuma ngebayangin aja, masa maduku nenekku. Anak suamiku adalah tanteku, dong?"
"Ck, kenapa kaya judul novel yang pernah gue baca?" tanya Deo manyun, jadi pengen ditarik.
"Jadi kamu mau nyari berondong? Aku gini-gini masih kuat, loh."
Muncullah seorang pria berambut putih.
Siapa lagi, ini?
"Opa, Yuri kangen. Kangen sama uang Opa, pasti tambah banyak karena gak Yuri palakin."
Opa Daniel langsung mencubit gemas pipi cucunya itu.
"Darling, i miss you so much."
Kedua orang lanjut usia itu langsung cipika cipiki tanpa malu.
"Halo semuanya, yang paling ganteng sudah datang, nih."
"Heleh, yang paling ganteng. Ada juga yang paling tua."
"Opa, Oma?"
Deo langsung menghampiri opa dan omanya.
Mereka kini tengah berkumpul di taman belakang sambil menikmati makanan dan minuman yang dibawa oleh para opa dan oma.
"Oma masih ingat banget, waktu menemani kamu sunatan. Waktu itu umur kamu baru lima tahun, kalau tidak salah," ucap oma Dania, omanya Yuri.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar si Otong, sudah sebesar apa ya sekarang?" lanjutnya bertanya.
"Otong, siapa si Otong?" tanya Yuri.
"Itu, punyanya Deo yang dulu di sunat."
Yuri tertawa terpingkal-pingkal, termasuk yang lainnya.
Deo langsung manyun dengan wajah sangat merah.
"Oma, ih. Namanya bukan Otong, Oma. Tega deh ngasih nama enggak keren, banget. Namanya Beo, Oma."
Emang dasar somplak, bukannya malu malah ngasih tahu namanya.
"Beo? Loh, itu bukannya nama saudara kembar kamu, yang tadi kamu sebut di minimarket? Tapi ngomong-ngomong, kamu kan enggak punya saudara kembar."
"Iya, Oma. Dia kan kembaran aku, brojolnya saja barengan."
Oma Dania manggut-manggut mengerti.
"Kamu tahu, gak, Yuri? Dulu itu si Otong besarnya hanya sekelingking oma, tapi masih kecilan si Otong."
Yuri memegang perutnya yang terasa keram, bukan karena datang bulan, tapi karena tertawa.
Bibir Deo semakin manyun, karena Otong dighibahin. Lagian masih saja nyebut Otong, kan sudah diberi tahu kalau namanya Beo.
"Kenapa justru Oma Dania yang ingat sama Beo? Oma Risma dan mommy gak pernah cerita, tuh."
"Ya ingat, dong. Kan yang nyunatin kamu opa Daniel. Oma saja masih nyimpan foto dan video kamu waktu masih disunat."
"Aku mau lihat mau lihat mau lihat," Yuri kegirangan mendengar perkataan omanya soal foto dan video itu.
Deo langsung menoyor Yuri.
"Dasar mesum! Lagian ngapain sih lihat-lihat? Otong itu masa lalu, yang masa depan adalah Beo. Mau lihat? Ayo ngamar."
Gantian Yuri yang sekarang menoyor Deo.
"Dasar mesum!"
Jadilah sepasang suami istri muda itu toyor-toyoran, mengingatkan yang tua-tua pada masa muda mereka.
"Deo waktu masih kecil bilang gini tentang Otong 'Kenapa ada ulat bulu yang nempel di sini? Cabutin, Mom. Ulat bulunya nakal, main nemplok aja.'"
"Stop, Oma. Yuri tobat, jangan bikin keram lagi."
Yuri langsung berlari ke dalam sambil ketawa dan mengusap air matanya, dalam keadaan bagian belakangnya telah bernoda. Gara-gara dia ketawa terlalu banyak, jadinya bocor dah tuh si palang merah, ditambah duduknya yang grasak-grusuk, pembalutnya jadi miring akhirnya nembus.
Sedangkan yang lain juga berebutan kamar mandi terdekat, takut ngompol kaya Yuri cuma beda warna saja.
Deo?
Jangan ditanya!
Dia hanya bisa mengelus dada karena mendapat pembullyan di rumah mertuanya.
Entah dosa apa yang kamu lakukan dulu, Beo. Mungkin waktu diaqikah dan khitan, doa untukmu kurang? Sayang khitan cuma sekali, kalau bisa dua kali, gue khitan lagi deh, lo. Kali nasib lo jadi beruntung, bisa melepas masa perjaka.