
Mereka memasuki ruangan Yuri. Yuri masih tidur, dengan selang infus tertancap di lengannya. Wajahnya pucat, membuat meraka kembali merasa sedih.
Deo mendekati Yuri dan memeluknya dari samping.
"Maafkan aku, yang tidak bisa menjaga kamu dan anak kita."
Perasaan mereka saja atau bukan, Deo mendadak terlihat seperti pria dewasa, bukan anak sekolahan yang masih berumur hampir delapan belas tahun.
"Yang sudah terjadi, dijadikan pelajaran saja. Bukan hanya untuk kamu dan Yuri, tapi juga untuk kami."
🍁🍁🍁
Yuri membuka matanya. Dilihatnya Deo yang tidur di samping brankarnya dengan posisi duduk.
"Deo!" Yuri mengguncang pelan lengan Deo.
"Kamu bangun?"
"Haus."
Deo segera memberikan Yuri air minum.
"Aku kenapa? Kok di sini?"
Deo tidak langsung menjawab, dia bingung harus mengatakan yang sebenarnya pada Yuri.
Kenapa di saat seperti ini, mereka malah tidak ada.
"Aku kenapa?" tanya Yuri, lalu dia meringis sakit pada perutnya.
"Perut kamu masih sakit?"
"Aku kenapa, sih?"
"Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kamu dan calon anak kita."
"Calon anak? Kamu hamil?"
"Ish, kamu lah yang hamil, masa aku."
"Iya, maksudnya gitu. Aku hami? Terus?"
"Dia sudah enggak ada. Kamu keguguran. Maafkan aku."
Yuri diam saja. Dia mulai mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum dia masuk rumah sakit.
Hal yang terakhir dia ingat adalah, dia sedang olahraga, lalu ada yang menyenggolnya sampai dia jatuh. Dan tiba-tiba saja perutnya terasa sangat sakit.
Air mata Yuri menetes. Dia gemetar ketakutan. Dia ingat kalau banyak darah yang keluar, dan itu di sekolah.
Yuri langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Tubuhnya bergetar, dan dia menangis terisak. Deo memeluk tubuh berselimut itu.
"Yuri?" panggil maminya. Yuri semakin merapatkan selimutnya.
"Yuri, kamu kenapa, Sayang?"
Mami berusaha membuka selimut itu, dan berhasil. Yuri langsung memeluk Deo, terlihat ketakutan.
"Yuri, kamu ...?"
"Jangan marah padaku, Mami. Jangan memarahi aku! Maafkan aku!"
Oke, mereka mengerti sekarang. Anak itu pasti ketakutan mereka akan memarahinya.
"Kami tidak marah padamu, atau Deo. Bukan salah kalian. Memang belum rejekinya, nanti juga akan ada lagi, tenang saja, ya!"
"Kalian enggak marah?"
"Enggak, dong."
"Benar? Enggak bohong, kan? Nanti setelah pulang dari sini, aku dimarahi?"
"Enggak. Janji, kami tidak akan memarahi kamu dan Deo. Yang salah itu bukan kalian."
"Benar, yang salah itu bukan kalian, tapi si Emily, tuh. Dia sengaja nyenggol kamu sampai jatuh!" ucap Chia.
"Apa? Sengaja menyenggol Yuri sampai jatuh?" kaget keluarga Yuri dan Deo. Mereka baru tahu hal ini.
Deg
Yuri baru sadar ada mereka. Apa yang akan mereka pikirkan tentang dirinya? Hamil di saat umurnya belum delapan belas tahun, bahkan masih sekolah.
Apa mereka akan berpikiran jelek? Seperti dia hamil di luar nikah. Yuri menunduk malu. Dia meremas tangannya.
Chia dan Airu langsung memeluk Yuri.
"Enggak apa, kami tetap sahabat kamu."
"Kami hanya sebal saja. Masa kamu nikah enggak bilang-bilang. Kami kan mau makan gratis," ucap Chia.
"Biar saja Chi. Jadi kita juga enggak perlu kasih amplop atau kado. Nikahan dia juga nanti disuguhi cilok."
Suasana yang tadinya sedih, menjadi berantakan karena perkataan mereka.