
Jam istirahat, Yuri langsung pergi ke kantin. Dia memesan banyak makanan dan minuman. Siapa yang membayarnya? Tentu saja Deo.
Deo mengusap sudut bibir Yuri yang belepotan sambal.
"Kamu doyan atau lapar?"
"Doyan."
Mereka yang ada di kantin melirik Deo dan Yuri. Fix, mereka pacaran, batin mereka. Pasangan yang paling tidak disangka ini memang membuat orang lain percaya dengan istilah dari jangan terlalu benci, nanti jadi cinta.
Padahal sebenarnya Deo dan Yuri itu tidak pernah saling membenci, tapi memang sikap mereka saja yang suka menjaili satu sama lain.
🍂🍂🍂
Deo mendekap Yuri dalam pelukannya. Selama beberapa waktu ini, akhirnya dia berhasil mengajak Yuri nyicil buat bikin cucu untuk kedua orang tua mereka. Pria itu sedang senyum-senyum sendiri. Dia ingin. segera memiliki anak, agar hubungannya dengan sang istri semakin erat. Pria yang sudah semakin dewasa dalam berpikir dan bersikap itu tentu saja takut kehilangan istrinya.
Wajah Yuri yang semakin terlihat dewasa, justru semakin cantik. Auranya semakin terpancar. Apalagi nanti, saat mereka kuliah, pasti akan banyak pria yang mendekati istrinya, apalagi istrinya itu punya daya pikat untuk orang lain tetap menyukainya meski suka barbar.
"Kamu milikku, hanya milikku. Tidak akan aku biarkan pria lain memiliki kamu."
Pokoknya aku harus sering ngajakin Yuri praktek produksi, biar kami punya anak yang lucu dan menggemaskan.
Cup
Dikecupnya bibir istrinya itu. Lalu Deo membuka ponselnya, melihat sosial media istrinya yang pengikutnya banyak kaum adamnya. Ada yang mahasiswa, anak sekolah, pekerja kantor dan wajah mereka juga tampan-tampan.
Jangan-jangan muka setingan. Gantengan juga gue. Belum tentu juga dokter benaran.
Lihat saja, aku akan menjadi CEO terkenal dan menyadarkan diri mereka, kalau akulah yang paling pantas menjadi pendamping Yuri.
Ya walaupun sekarang memang dia sudah menjadi pendamping Yuri, tapi itu karena perjodohan, kan. Ada rasa takut jika suatu saat nanti Yuri akan bertemu dengan pria lain yang membuat dia jatuh cinta. Lalu bagaimana nasib Deo?
Deo melirik istrinya, melihat tubuh indah itu hanya ditutupi oleh selimut saja. Dia juga sangat sadar, bentuk tubuh Yuri yang sudah semakin bagus. Bentuk tubuh seorang remaja yang menjadi dewasa.
Ya ampun, aku bisa gila kalau begini terus.
Dia mengelus lengan Yuri begitu halus. Tiba-tiba gelenyar aneh kembali menimbulkan hasratnya. Bukan hanya Yuri saja yang mengalami perubahan fisik. Deo pun sama. Lengannya semakin kokoh dengan dada bidang yang membuat para perempuan pasti ingin sekali bersandar di dada bidang itu. Untung saja hanya Yuri yang pernah melihatnya.
"Pokonya kalau kamu berenang, harus pakai baju. Celana juga Haris selutut. Ingat, aku enggak suka ya kamu pamer badan di depan perempuan lain," ucap Yuri saat itu.
Sebagai orang yang melewati masa sekolah bersama bertahun-tahun, tentu saja mereka tahu pertumbuhan masing-masing. Yuri yang tadinya sering dikatain kate, bukan karena dia pendek, tapi memang tidak setinggi Deo. Selain itu kan memang Yuri nama tengahnya Kate.
"Sayang, bangun!"
"Hm?"
"Bangun!"
"Ke toilet sendiri, nanti aku jagain di sini."
Ish, dikiranya aku anak kecil yang minta ditemani pipis sama emaknya?
Tanpa banyak bicara, Deo lalu mengecup bibir ranum Yuri. Membuka selimut yang langsung memperlihatkan tubuh mulus putih bersih milik istrinya itu.