Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
57 Marcell


"Yang satu kena azab, malah aku yang kena tuduh. Tapi moga-moga aja yang satunya lagi juga segera nyusul azabnya."


Freya berkata ketus di hadapan mereka. Dia meminum air putih banyak-banyak, hal yang harus selalu dia lakukan untuk proses penyembuhannya.


Dimulai dari hari ini, Freya akan melakukan tahap rehabilitasi narkoba.


Tahap yang pertama adalah tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi). Dokter akan memeriksa kesehatan pecandu, baik kesehatan fisik maupun mental si pengguna. Setelah itu dokter akan menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan untuk mengurangi gejala putus obat.


Pemberian obat tergantung jenis narkoba yang digunakan dan tingkat keparahan gejala yang dialami. Misalnya, heroin yang mudah sakau diberikan terapi obat methadone atau naltrexone.


Sejak di rumah sakit, dokter juga selalu memantau kondisi Freya yang berkaitan dengan gejala umum kecanduan narkoba. Seperti apakah mata merah dan pupil mata yang mengecil atau membesar. Berat badan yang naik atau turun secara signifikan. Pola makan atau pola tidur menjadi tidak beraturan. Tidak peduli dengan penampilan (jarang mandi atau ganti baju). Mudah merasa lelah dan sedih atau justru terlalu berenergi dan tidak bisa diam. Sering cemas dan menarik diri dari lingkungan sosial, sulit berkonsentrasi, sering mimisan, tubuh terasa bergetar atau bahkan kejang, lebih berani untuk melakukan hal yang berbahaya.


Dokter melakukan pemeriksaan itu baik secara langsung maupun tidak (melalui CCTV). Tahap pertama tersebut sudah dimulai sejak Freya masih di rumah sakit.


Setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter dan terapis, selanjutnya adalah detoksifikasi, reaksinya mulai dari rasa mual hingga badan terasa sakit. Setelah itu stabilisasi, untuk membantu pemulihan jangka panjang dengan memberikan resep dokter.


Tahap kedua adalah yaitu tahap rehabilitasi nonmedis, yaitu pemulihan secara terpadu mulai dari konseling, terapi kelompok, hingga pembinaan spiritual/keagamaan dan sebagainya.


Di sini vila inilah tahap ini akan dimulai, dengan suasana yang nyaman dan udara yang bersih.


🌿🌿🌿


Waktu berlalu, namun dari berita yang Freya dengar, Nuna tidak dikeluarkan dari sekolah. Mungkin saja Arby merengek kepada papinya agar tidak mengeluarkan Nuna apalagi menikahkan Nuna dengan orang lain.


Di sisi lain ada perasaan lega karena Nuna tidak pindah ke luar negeri apalagi menikah dengan orang lain, karena jika itu terjadi, maka dia semakin tidak dapat lepas dari Arby.


Yang ingin dia lakukan bukanlah memisahkan keduanya, tapi berpisah dari Arby. Apa yang dia lakukan saat itu hanyalah ingin menunjukkan ke orang-orang bagaimana bejatnya Arby. Dia juga sudah menduga bahwa bahwa Arlan akan mengingkari janjinya karena rasa sayangnya kepada Arby.


Andai saja orang tuaku yang menyayangiku seperti itu.


Nuna memang masih berada di sekolah itu, namun dia tidak memiliki teman. Dia selalu duduk sendiri di mana pun dia berada, karena selama.ini dia memang hanya berteman dengan Freya, Nania dan Aruna saja.


Aku kangen banget sama kamu.


Nuna lalu membuka ponselnya, dia melihat beberapa foto. Foto empat orang yang terlihat senang.


🌸🌸🌸


Yang melakukan konseling bukan hanya Freya, tapi juga Arby, Marcell, Vian, Ikmal, Nania dan Aruna. Bukan karena mereka juga pemakai, namun ini dilakukan sebagai pencegahan. Bukankah ada yang menjadi penyebab seseorang menjadi pemakai?


Entah itu masalah keluarga seperti broken home, coba-coba, atau ingin terlihat keren dan gaul, pengaruh pergaulan bebas dan sebagainya.


Dalam kasusnya Freya, tentu saja mereka bahkan sahabat-sahabatnya paham bahwa pemicunya adalah bentuk protes atas ketidak adilan yang dia rasakan.


Di sinilah mereka berada, dalam suatu ruangan yang dihadiri oleh para remaja dan orang dewasa (para dokter, orang tua, psikolog bahkan ustad yang akan memberikan tausiah). Karena terapi kelompok (sesama pengguna narkoba) tidak dapat dilakukan, maka sebagai gantinya dilakukan konseling kelompok agar mereka tahu apa yang para remaja itu rasakan sebagai seorang anak, remaja, pelajar, sahabat dan makhluk sosial, agar hal yang terjadi pada Freya yang menggunakan narkoba, tidak terjadi pada yang lainnya.


Bahkan di situ juga ada orang tua Nania, Aruna, Marcell, Vian dan Ikmal. Bisa dianggap ini sebagai ajang curhat terbuka.


"Aku suka sebel kalau papa mama maunya aku jadi dokter. Aku kan enggak suka lihat darah yang banyak, harus hapal organ tubuh manusia, nama penyakit dan obat-obatan. Lihat jarum suntik aja aku pusing," keluh Marcell.


Dia menghela nafas, lalu melanjutkan, "Aku tuh masuk IPA terpaksa. Setiap hari harus lihat angka-angka dan hapalin rumus."


Kedua orang tua Marcell terdiam.


"Sebenarnya bukan kami ingin memaksa kamu jadi dokter, Cel, tapi kakak kamu jadi arsitek, kami hanya ingin ada anak papa mama yang jadi dokter. Dokter itu pekerjaan mulia, bisa menolong orang. Kamu tahu Cel, dulu waktu papa masih kecil, papa pernah demam. Kakek dan nenek kamu tidak punya uang untuk papa berobat. Kamu tahu sendiri kan keluarga papa hanya keluarga biasa, kakek kamu hanya buruh bangunan. Kalau ada yang mau bikin rumah, baru punya kerjaan, sedangkan nenek kamu hanya buruh cuci harian. Untung saja majikan nenek kamu itu baik, beliau yang seorang dokter langsung membawa kamu ke rumah sakit dan menanggung semua biayanya hingga papa sembuh. Sejak saat itu papa ingin menjadi dokter. Namun biaya untuk menjadi dokter itu tidak murah, papa sudah menabung, namun kakek dan nenek kamu kecelakaan dan uang tabungan papa untuk kuliah kedokteran papa gunakan untuk mereka berobat, namun tidak cukup. Majikan nenek kamu yang kembali membantu, sedangkan papa hanya bisa kuliah teknik saja, itu pun dengan beasiswa. Makanya papa mau kamu jadi dokter, agar kamu bisa seperti majikan nenek kamu, seorang dokter yang baik. Meskipun tidak membalas kebaikan mereka secara langsung, tapi kamu bisa mengobati orang-orang yang tidak mampu. Kamu tahu? Majikan nenek kamu itu adalah orang tua mama kamu, yang artinya mereka adalah nenek dan kakek kamu."


Marcell terdiam, selama ini dia tidak pernah mendengar cerita ini. Yang dia tahu keluarga papanya memang hanya kaum biasa.


Kakek dari mamanya seorang CEO yang perusahaannya bergerak di bidang properti. Sedangkan nenek dari pihak mamanya seorang dokter. Atas saran dari kakeknya, akhirnya papanya Marcell kuliah dibidang tehnik sipil. Setelah lulus kuliah, dia bekerja di oerusahaan kakek Marcell. Karena melihat karakter papa Marcell yang baik, jujur dan bertanggung jawab, dia menjodohkan papa dan mamanya. Sedangkan mamanya Marcell menjadi seorang dokter anak.


Dalam ingatan Marcell, selama ini orang tuanya memang tidak pernah banyak menuntut padanya selain menginginkan dia menjadi seorang dokter. Orang tuanya juga selalu perhatian padanya dan kakak laki-lakinya. Selalu menanyakan nilai-nilainya, kegiatannya di sekolah, juga teman-temannya.