Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
48 Ketiga Kalinya


Suara tawa memenuhi ruang tamu itu. Keempat dokter itu sibuk tertawa, lebih tepatnya menertawakan Arby dan Arlan, ayah anak yang telah mengalami penderitaan akibat ulah Freya.


"Aku kan sudah bilang, bukan seperti itu menyikapi Freya. Dia masih muda, memiliki jiwa pemberontak, tapi kalian malah egois dan semakin mengekangnya."


Arlan memang memanggil keluarga Freya dan keempat dokter itu untuk memeriksa keadaannya dan Arby juga para korban lainnya, apakah ada luka fatal atau tidak, meskipun tadi sudah memanggil beberapa tukang urut, sekaligus membicarakan kaburnya Freya yang menimbulkan kericuhan dan rasa sakit.


"Aku hanya tidak ingin Freya kabur dan salah pergaulan."


"Tapi nyatanya Freya tetap berhasil kabur, kan!" sahut Anwar.


"Jika nanti Freya ditemukan, jangan lagi mengekangnya, tetap awasi dia dengan cara yang baik. Kalian kan juga pernah muda, jadi seharusnya bisa memahaminya."


Sementara itu di kamar Arby, dia tengkurap sambil memukul-mukul bantal guling.


"Dasar istri durhaka!"


Lalu dia duduk bersandar sambil sesekali memegangi pinggangnya yang ngilu luar biasa.


Ikmal menoyor kepala Arby.


"Woy, apa-apaan, sih!"


"Enggak salah tuh bilang Freya istri durhaka? Emang situ sudah jadi suami bijak?"


"Ck, maksudnya apa, coba?"


"Dia jadi istri durhaka karena suaminya dzolim.#


" Apaan sih."


"Semoga saja Freya bisa kabur dan menemukan pendamping hidup yang lain."


"Aamiin," seru Ikmal, Marcell dan Bian serempak.


"Teman laknat, memang."


"Bodo amat!" lagi ketiganya berseru kompak.


.


.


.


Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Sudah tiga hari Freya menghilang.


Sebenarnya dia tidak pergi jauh, dia hanya tinggal di hotel milik Arlan dengan menunjukkan kartu yang hanya boleh digunakan oleh keluarga saja, maka Freya memanfaatkan itu.


Dia ingin kabur ke luar kota, tapi dia juga tidak bodoh, pasti mereka mengobrak-abrik seluruh kota untuk mencarinya, jadi dia tidak akan menggunakan cara yang sama untuk kabur.


Mereka pun tak ada yang menduga bahwa Freya ada di sana. Mengandalkan pengalaman masa lalu yang pernah Freya lakukan (kabur ke luar kota), maka mereka sibuk mencari Freya di luar kota.


"Tuan, kami menemukan nona Freya."


"Di mana dia?"


"Di hotel."


"Hotel mana?"


"Hotel milik tuan yang ada di Jakarta."


Arlan menghela nafas. Jauh-jauh mencari Freya sampai ke luar kota, ternyata dia ada di hotel miliknya.


Empat puluh menit kemudian keluarga Freya datang bersamaan dengan Arby dan keluarganya. Mereka mendapat info bahwa Freya ada dikamar VVIP. Salah satu petugas memberikan card key pada Arlan.


Mereka membuka pintu, aroma khas minuman keras dan rokok memenuhi kamar itu.


Mereka melihat Freya yang tergeletak di lantai dengan banyak botol minuman yang telah kosong. Bukan hanya itu, alat suntik dan alat hisap sabu juga ada di di sampingnya.


Dokter Anwar yang ikut datang segera memeriksa keadaan Freya. Terlihat lengan Freya yang banyak bekas jarum suntik, menunjukkan bahwa sebensrnya dia telah lama menggunakan alat itu.


Selama ini memang tidak terlihat, karena saat sekolah memang seragamnya lengan panjang, dan Freya juga selalu menggunakan kaos lengan panjang.


"Dia OD!"


Serbuk sabu masih ada di lantai. Anwar langsung menelepon rumah sakit untuk mengirimkan ambulans, sementara dia sendiri langsung memberikan pertolongan pertama.


Pemandangan itu sangat miris. Di mana gadis cantik kini tak sadarkan diri dengan wajah pucat. Bahkan obat-obatan dari berbagai jenis berhamburan di lantai. Ga*ja yang diplinting tiggal setengah.


"Kalian lihat sendiri kan akibat dari keegoisan kalian. Dia sudah pernah satu kali lepas dari maut, berdoa saja kali ini ada mukzizat lagi, dan bertobatlah kalian dan meminta maaf pada anak ini!"


"Tutupi masalah ini rapat-rapat, jangan sampai bocor ke siapapun atau kalian tahu akibatnya!"


"Baik tuan."


.


.


.


Ini sudah yang ketiga kalinya Freya masuk UGD. Kalau kata Nania, seharusnya dia dapat piring.


Semua obat yang ada di dalam kamar hotel itu juga jarum suntik serta alat hisap sabu juga dibawa.


Sample darah Freya diambil untuk diperiksa jenis apa saja dan berapa banyak kandungan obat yang dikonsumsinya.


Sisa obat yang ada di dalam tubuh Freya segera dibersihkan. Alat pernafasan dipasang dan alat kejut jantung juga digunakan karena pernafasan Freya kembali berhenti.


.


.


.


Jantung Freya kembali berdetak, membuat para dokter merasa lega meskipun belum sepenuhnya. Mereka ingin anak perempuan ini kembali sadar dan sembuh, bukan karena mereka takut kepada pemilik rumah sakit ini, tapi karena mereka kasihan kepada remaja perempuan berwajah cantik yang nasibnya sangat malang.


Tanpa terasa mereka meneteskan air mata mereka.


Berjuanglah, nak!


.


.


.


Bugh


Bugh


"Apa yang kamu lakukan?"


Anwar langsung menghajar Arlan saatbdirinya keluar dari ruang UGD.


"Inilah hasil perbuatan kalian, sekarang Freya koma!"


"Koma?"


"Dengar, aku juga punya anak, tapi aku tidak pernah memaksakan kehendakku padanya. Mungkin kamu bisa seperti ini karena Freya hanya menantu bagimu, bagaimana jika dia anak kandungmu dan mengalami nasib sepertinya? Dan kalian (menunjuk Wildan dan Ami), kalian orang tua yang sangat egois. Mengorbankan masa depan anak tanpa memikirkan dampak negatifnya sama sekali. Aku malu mengenal orang-orang seperti kalian."


Anwar pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada mereka mengenai kondisi Freya.


Anwar, meskipun dia kepala rumah sakit di situ, tapi dia memutuskan untuk menangani sendiri kasus Freya. Dia benar-benar merasa iba pada anak itu. Dia mengingat anak-anaknya di rumah.


Jangan sampai anakku mengalami nasib sepertinya.


Freya dipindahkan ke ruang ICU, untuk yang ketiga kalinya. Mungkin sebelum berhasil menjadi dokter, dia harus terbiasa berada di rumah sakit dengan menjadi pasien.


Suster yang ikut merawat Freya juga merasa iba. Namun mereka bisa apa, selain mendoakan yang terbaik. Ternyata menjadi anak orang kaya dan berwajah cantik tidak selalu menjadi hal yang membahagiakan, pikir mereka.


Ada harga yang harus dibayar untuk semua itu.


Kaya miskin


Cantik ganteng jelek


Pintar bodoh


Ada sisi positif dan negatifnya.


Sebenarnya kunci dari semua itu adalah dukungan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Apakah mereka bisa memberikan motivasi dan justru menjerumuskan. Freya masuk ke golongan kedua.


Pernah Freya berpikir, seandainya saja dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, mungkin keluarganya akan saling memperhatikan. Menikmati ikan asin, sayur asam, lalapan dan sambel terasi pasti akan sangat nikmat dan terasa mewah.


Atau jika dirinya tidak cantik, mungkin mereka tidak akan menjodohkan dirinya. Bukannya Freya terlalu percaya diri, tapi dari logikanya, apa iya jika dia akan dijodohkan dengan Arby yang berwajah tampan dengan dirinya jika wajahnya jelek? Rasanya tidak mungkin, mereka pasti akan malu memiliki menantu buruk rupa. Jangan lupa bahwa kedua keluarga itu sangat menjunjung tinggi nama baik keluarga dalam hal apapun.


Freya ingin menjadi gadis yang biasa-biasa saja, yang penting dia bahagia.