Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
62 Arby


Freya meninggalkan apotek itu dengan jantung berdetak kencang. Akan lebih memalukan baginya ketahuan membeli taspack di usia yang baru saja tujuh belas tahun dari pada ketahuan menjadi pecandu narkoba dan alkohol, karena senakal nakalnya dia, dia bukanlah penganut free s*x dan tidak ada yang tahu kalau dia sudah menikah selain keluarga besar dan sahabat-sahabatnya.


"Lama amat?" tanya Nania saat Freya masuk ke kamarnya, ternyata sudah ada Aruna.


"Mini marketnya rame."


.


.


.


Freya bangun pagi-pagi sekali untuk menggunakan alat tersebut. Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya hasilnya keluar juga. Dalam hatinya dia berdoa agar tidak hamil.


Dua garis!


Freya mengacak-acak rambutnya.


"Freya, kamu di dalam?" tanya Aruna.


"Iya tunggu, baru mau mandi nih."


"Lama amat, dari tadi ngapain aja?"


"Ngayal," jawabnya asal.


Freya langsung membungkus taspack tersebut dengan pembalut bersih yang dilipat, lalu dimasukkan ke dalam kertas, lalu dibungkus lagi ke dalam pelastik dan diikat kencang kemudian dibuang ke tempat sampah. Tentu saja dia tidak akan ceroboh dengan membawanya ke sekolah atau membuangnya asal-asalan di ruman Nania. Bisa-bisa keluarga Nania heboh jika melihat testpack itu dan mengira Nania yang hamil.


Saat sarapan pagi, Freya tampak makan dengan lahap. Kemudian pikirannya menerawang, bagaimana nasibnya nanti?


Di rumah Arby


Arby terbaring lemah di atas kasur, pikirannya kini hanya tertuju pada satu perempuan saja.


Freya


Apa benar dia hamil?


Arby memegang dadanya yang berdetak kencang. Dia tidak tahu apa harus merasa senang atau justru takut jika memang Freya hamil lagi.


.


.


.


Tidak ada yang boleh tahu, atau semuanya akan kacau. Tapi sampai kapan rahasia ini bisa aku tutup-tutupi?


Freya terus berpikir sambil memakan bakso malang dan mie ayam pangsit.


"Kamu lapar apa doyan sih, Ya?" tanya Aruna.


"Lapar dan doyan. Ya maklum ajalah, kita kan banyak tes karena mau ikut ujian nasional, jadi bawaannya lapar mulu."


Nania dan Aruna tidak curiga, karena apa yang dikatakan Freya memang benar, terlalu banyak berpikir membuat mereka lapar.


Freya sendiri juga tidak tahu, apakah ***** makannya ini karena hamil atau terlalu banyak berpikir, atau mungkin perpaduan keduanya.


Bodo amat lah, yang penting aku bisa makan.


Namun ada kesedihan dalam dirinya.


πŸ’§πŸ’§πŸ’§


Seberapa kuat pun Freya menghindar, tetap saja dia tak dapat lari. Kini dokter sedang memeriksanya.


"Nona Freya sedang hamil, untuk lebih memastikan usia kandungannya, harus dilakukan USG."


Mereka yang mendengarnya menahan nafas, menunggu reaksi Freya. Tidak ada gurat kekagetan di wajah Freya, dia terlihat masa bodo.


Irma segera dipanggil untuk kembali menangani Freya, karena tidak ada satu pun yang tahu isi hati Freya. Mereka tidak ingin hal yang sama terulang kembali.


Keesokannya Freya dibawa ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan, Arby pun ikut.


"Usia kandungannya tiga minggu."


Tidak ada tangisan haru


Tidak ada senyum kebahagiaan


Sepasang suami istri muda itu justru terlihat tertekan dengan pikiran dan perasaan masing-masing.


🌿🌿🌿


Sabar dan ikhlas, kembali kata-kata itu yang Irma ucapkan.


"Anak itu anugerah, banyak yang telah lama menikah tapi belum memiliki anak, bahkan hingga usia tua tidak juga memiliki anak. Kamu beruntung dan harus bersyukur, itu artinya Allah percaya padamu untuk menitipkan seorang anak."


"Memiliki anak di usia muda, ada baiknya. Usia kamu dan anak kamu tidak akan terlalu jauh, nanti kalian bisa terlihat seperti kakak adik saat jalan-jalan ke mall."


Kabar kehamilan Freya sudah didengar ooeh sahabat Freya dan Arby.


"Topcer juga ya kamu, Ar. Sekali bikin langsung jadi mulu." Marcell mengacungkan dua jempolnya.


"Itu juga karena Freya yang subur, kalau enggak subur juga belum tentu jadi," kali ini Vian yang berkomentar.


"Tapi baguslah, mengingat Freya yang pernah memakai narkoba dan minum alkohol. Bisa cepat hamil itu berarti mukjizat."


Dalam hati Arby mengiyakan, dia kembali bisa punya anak.


Anak kedua


Namun tetap saja dia merasa khawatir. Dia sangat tahu bagaimana karakter Freya, tidak ingin terkekang.


Di kamar Freya


"Jadi ini ceritanya gimana sih, emang kapan kamu melakukannya dengan Arby? Kamu dipaksa lagi sama dia?" tanya Nania.


Freya akhirnya menceritakan apa yang terjadi malam itu saat ulang tahun Nania.


"Seharusnya kamu ikut nginap di rumah Aruna."


Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun taknada gunanya lagi.


"Jangan sampai setres, nanti kamu keguguran lagi."


Aruna mengusap pelan punggung Freya. Meski pun tak mengatakan apa-apa, tapi mereka cukup tahu bahwa Freya sedang gusar.


Jika ingin ada yang disalahkan, ya salahkan saja kenapa keduanya mabuk saat itu, tapi kan setidaknya mereka berdua memang sudah menikah, jadi tak perlu takut apalagi malu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Nuna sudah tahu bahwa Freya hamil, langsung dari mulut Arby. Gadis itu sewot-sewot dan memaki-maki.


Arby sendiri masih terus merasakan couvade syndrome.


Tidak ada makanan yang bisa dia makan, bahkan harus diinfus. Sahabat-sahabatnya merasa iba melihat pemuda tampan sejuta pesona itu kini terbaring lemah di kasur.


Asisten rumah tangga membawakan buah-buahan dan air lemon.


"Jadi seperti ini yang dulu dirasakan oleh Freya?" katanya pelan, namun masih tetap dapat didengar.


Arby mengambil rujak itu dan meminum air lemon tersebut, dan ajaibnya dia tidak muntah.


Dia kembali teringat saat dia membuang makanan dan minuman yang dibawa oleh Nania, Aruna dan Mico.


Memangnya kamu pikir ini mauku? Aku juga mau makan enak, bukannya muntah-muntah.


Kata-kata yang pernah Freya katakan saat mereka bertengkar dulu. Kini dia yang merasakan semuanya, tidak dapat makan apapun, bahkan minum air putih saja dia merasa mual.


Pernah dia hanya memuntahkan air saja dengan rasa yang sangat pahit, lebih pahit dari obat. Mungkin saja itu cairan dari empedu atau apa, Arby juga tak mengerti.


Bahkan dia akan mual mencium aroma pagi, dan rasanya ingin marah-marah saat mencium aroma masakan yang dibuat di dapur.


Dia akan kesulitan tidur bahkan hingga menjelang subuh.


Seperti ini kah rasanya wanita hamil? Apa sesakit ini yang Freya rasakan dulu?


Setidaknya Arby tak harus menanggung beban harus menjaga pikiran dan perasaannya agar tidak setres lalu keguguran. Sedangkan Freya? Di usia muda dia sudah harus menanggungnya.


Arby melihat tangannya yang diinfus. Wajah Freya selalu terbayang dalam pikirannya.


Ini baru awal, tidak ada yang tahu sampai kapan Arby akan merasakan ini, harus merasakan mual dan muntah, juga segala apa yang dirasakan oleh wanita hamil.


"Akun maj mie rebus dong, pakai cabe rawit yang banyak, ya."


Itu dulu makanan yang dimakan Freya saat malam-malam dia merasakan lapar, namun dengan kejamnya Arby membuang makanan wanita hamil itu.