
"Hahaha ...."
Ara dan Marteen tertawa mendengar curhatan Deo perihal ngambeknya Yuri sejak pulang sekolah tadi.
"Pi, untung Deo hanya nulis itu, ya. Coba kalau ditulis cara unboxing-nya gimana, bisa berabe, Pi."
"Diputar ...."
"Dibuka ...."
"Terus dicelupin ...."
"Berapa lapis?"
"Ratusan!"
Marteen dan Ara sahut-sahutan. Deo dan Yuri lagi-lagi menghela nafas bersamaan.
Kenapa gue punya orang tua dan mertua yang sama-sama gesrek?
"Jangan cemas, Deo. Yuri ngambek karena mau datang bulan aja, jadinya sensitif. Perempuan kalau mau atau lagi datang bulan, tuh, jadi moody. Kadang bawaannya jadi doyan makan, marah-marah, pengen shoping, atau yang lainnya."
"Emang gitu, Mi?" tanya Deo.
"Iya. Mami aja kalau lagi PMS, doyannya shoping."
"Dih, Mami kan PMS enggak PMS memang doyan shoping," celetuk Marteen.
"Hehehe, Papi memang My Husband yang the best, tahu aja."
"Ya iyalah, Papi gitu, loh."
"Ayuk, Pi, masuk kamar. Panas-panas gini enaknya ngadem di balik selimut. Biar saja Deo merenungi nasibnya. Mami papi tinggal ya, Deo, kali aja bisa ngasih kamu adik ipar yang unyu-unyu."
Ara dan Marteen meninggalkan Deo seorang diri.
Astoge, mertua enggak ada salak (note: ini bukan typo, tapi memang begitu. Soalnya Deo mau bilang enggak ada akhlak, takut kualat, dan dipecat jadi mantu idaman. Gengsi dong, masa statusnya duda perjaka).
Ngasih adik ipar yang unyu? Penyu, kali!
Deo jadi teringat mommy dan daddynya, yang siang-siang doyan mendekam di kamar.
Jangan-jangan mereka juga berinisiatif ngasih Yuri adik ipar yang imut-imut. Dih, amit-amit.
"Yuri, ngamar juga, yuk?"
Deo menghampiri Yuri di ruang makan, yang lagi makan sop buah.
"Mau ngapain?"
"Ya bobo siang, lah! Dah napa, jangan ngambek lagi. Gue kan juga enggak sengaja tadi, dan sudah bilang kalau itu gue yang nulis."
"Makanya jangan gitu lagi, nanti dikira gue dah gak perawan, kan kasihan suami gue nanti, meragukan keperawanan gue."
"Lah, suami lo kan, gue."
"Iya, ya? Ko gue lupa?"
"Dasar, giliran minta uang jajan baru lo ingat kalau gue suami lo."
"Kan ada maunya, makanya gue ingat."
Deo menghela nafasnya.
Sabar-sabar ... orang sabar anaknya banyak.
Enggak ada hubungannya, tapi biar saja dia berpikir apa yang bisa membuat hatinya senang.
"Dah yuk, bobo siang dulu. Nanti jam lima kita ke mall."
"Ayuk!"
Langsung nurut dia, begitu mendengar kata mall.
Sesampainya di kamar, Yuri langsung tiduran. Keram perutnya yang suka datang tiba-tiba memang menyusahkan, setengah tubuhnya akan merasa sakit.
"Dah, tidur dulu. Nanti sore kalau keramnya udah hilang, kita ke mall."
Yuri memejamkan matanya, meski perutnya terasa diulek-ulek.
.
.
.
Jam lima mereka ke mall, sesuai dengan janji Deo. Melihat wajah Yuri yang cemberut dan mogok bicara dengannya saat di rumah tadi, membuat Deo jadi bingung sendiri. Biasanya kan gadis itu selalu berantem dengannya, meskipun berantem ala mereka itu unik.
"Sayang, jangan ngambek lagi, dong. Maafin aku, ya. Aku tahu aku salah, janji deh enggak gitu lagi. Dah jangan marah lagi, nanti perut kamu jadi keram, aku yang dimarahin sama orang tua kita," ucap Deo sambil mengelus-ngelus perut Yuri, karena di mobil tadi, perut Yuri keramnya kumat.
"Perut kamu enggak apa-apa, kan?" tanyanya lebih lanjut, masih mengusap perut itu.
"Kita makan dulu, yuk. Kan yang di dalam perutku juga butuh nutrisi."
Deo dan Yuri tidak sadar, bahwa ada emak-emak yang menyimak pembicaraan mereka.
"Jeng, Jeng ... anak muda jaman sekarang memang liar, ya. Masih sekolah tapi sudah hamil. Lihat tuh tadi cowoknya, ngelus-ngelus perut pacarnya. Haduh!
" Iya, mana dari pembicaraan mereka, kelihatannya orang tua mereka tahu pergaulan bebas anak-anak itu."
"Iya, babynya butuh nutrisi tuh, muka ibunya pucat banget, tapi malah jalan-jalan ke mall."
Itulah orang-orang, enggak tahu apa-apa tapi banyak komentar. Padahal yang dimaksud Deo kan, keram perut karena datang bulan, sedangkan maksud Yuri dengan yang di dalam perut butuh nutrisi, ya cacing.
Cacing-cacing dalam perut butuh makanan, istilah lain dari lapar, pake segala mengkambing hitamkan cacing, lah.
Setelah makan, Deo mengajak Yuri belanja. Banyaknya belanjaan itu membuat Yuri dan Deo membaginya. Deo menenteng lima kantong, sedangkan Yuri tiga kantong.
"Deo, itu ada Chia dan Airu. Lo jalan duluan sana."
"Ya udah."
.
.
"Yuri!"
"Eh, Chia, Airu."
Mode pura-pura enggak tahu.
"Lo di sini juga? Tadi kami telp enggak diangkat-angkat."
"Oh, ponsel gue ketinggalan."
"Oh, ya sudah. Ayo kita belanja lagi."
Mereka masuk ke toko kramat.
"Yuri, lo enggak beli?"
Yuri sangat ingin beli bra da CD yang warnanya baby pink, karena benda-benda kramat seperti inilah yang belum pernah Deo belikan untuknya. Tapi masalahnya ....
"Gue engga bawa uang, gimana, nih?"
"Lah, terus lo beli ini dari mana?"
What? Mampus gue. Gue lupa lagi megang barang belanjaan.
"Owh, ini dibelikan sama om, gue."
"Ya sudah, lo beli aja. Nanti gue yang bayarin deh, tapi sepasang aja, ya."
"Oke."
Ke luar dari toko kramat, mereka berpapasan dengan Deo, Gara dan Qavi.
"Kalian juga di sini?" tanya Gara.
"Iya dong, masa dihatimu," jawab Chia.
"Terus sekarang mau ke mana?"
"Makan ah, lapar."
"Gue ditraktir lagi, ya? Gue kan enggak bawa uang."
Yuri cengengesan melihat teman-temannya.
"Gampang, ayo."
Baru juga makan, sudah lapar lagi tuh cewek?
Di cafe
"Yuri, seingat gue, lo kan enggak punya om. Terus om mana yang beliin barang-barang ini?"
"Oh, hmmm, itu ... om ... om ketemu gede."
Deo langsung tersedak.
Sialan, gue dibilang om-om.
"Yuriii, dah gue bilang jangan sembarangan sama orang. Dulu lo dikasih black card sama orang yang gak jelas, sekarang dibelanjain sama om-om."
"Ini sebagai ucapan terima kasih aja, karena gue udah bantuin dia."
"Bantuin apa?"
"Nunjukin dia arah pulang."
"Ke hatiku, masa hatimu," jawabnya enteng.
"Tau ah, dah yang penting gue makan dulu."
"Emang ciri-cirinya gimana, Ri?" tanya Airu yang masih penasaran.
"Hmmm, rambutnya putih."
Deo melihat ke cermin.
Gawat, jangan-jangan rambut gue ada ubannya.
"Terus, jenggotnya tipis."
Deo kembali berkaca sambil memegang dagunya.
Enggak ah, dagu gue mulus begini, kok.
"Kumisnya tebal."
Deo memegang bagian bawah hidungnya.
Aman, enggak ada rambut yang numbuh.
"Deo, lo ngapain, sih?" tanya Qavi.
"Hah? Enggak ngapa-ngapain. Orang gue lagi terpesona sama ketampanan gue."
"Habis ini nonton, yuk," ajak Chia.
"Iya, iya, lo dibayarin lagi," celetuk Airu.
"Hehehe, tahu aja apa yang gue pikirin."
Mereka berenam akhirnya membeli tiket.
"Kalian para jomblo sejati, ngapain pada ikut, sih?" tanya Chia ke cowok-cowok itu.
"Memangnya kalian enggak jomblo?"
"Jomblo juga, tapi kita jomblo limited edition."
"Jangan bawel, kami juga mau nonton."
Deo mana mungkin membiarkan Yuri nonton tanpa dirinya.
Mereka masuk ke ruang theater dengan urutan sebagai berikut, dari yang paling pojok.
Airu
Chia
Yuri
Deo
Gara
Qavi
Lampu mulai diredupkan, dan film dimulai.
.
.
.
"Ih, nyebelin banget sih, mereka."
"Iya, ngeselin."
"Memang kenapa?" tanya Yuri pada Chia dan Airu, ketika mereka telah selesai menonton.
"Masa yang di depan kami, pada *******. Kan ngeselin."
"Masa, sih?"
"Terus, kalian kesel karena keganggu?" tanya Gara.
"Bukan, kan kami jadi galau."
"Galau kenapa?" kali ini Qavi yang bertanya.
"Ya galau, lah. Yang mana yang mau kami nonton. Yang dilayar atau yang dibangku."
"Yang dilayar film hantu, yang dibangku film romantis."
Deo, Gara dan Qavi saling tatap, bingung mau nyahutinnya seperti apa.
"Aaaa, ngeselin. Kenapa kalian enggak bilang sama gue, gue kan juga pengen lihat."
Deo langsung menyentil kening Yuri.
"Sakit, Deodoran!"
"Lama gak, adegannya?"
"Ya, lumayanlah."
"Ish, kalian enggak malu apa, bicara kaya gitu di depan cowok?"
"Enggak."
"Dah yuk, pulang."
"Yuri, nih ongkos buat lo pulang. Maaf, ya, kami enggak bisa antar lo pulang. Udah malam banget soalnya.
" Eh, enggak usah. Gue bisa bayar pas di rumah, kok."
"Oh, iya juga ya."
"Loh, ko diambil lagi, uangnya?" tanya Yuri.
"Lo kan bisa bayar di rumah."
"Ck, gue kan pura-pura nolak, tahu."
"Orang tua lo tajir, tapi lo matre banget sih, Ri?"
"Beli batre, buat jam antik ...."
"Cakep," ucap Chia dab Airu.
"Biar matre, yang penting cantik."
"Balas, Chia," kata Airu.
"Ada ee, kecebur ke spiteng ...."
"...."
"...."
"...."
"...."
"...."
"Cowok kere, jemur aja di genteng."
"Wah, keren pantunnya." Yuri dan Airu bertepuk tangan.
"Woy, jorok banget sih, ngomongnya."
Pengunjung yang mendengar pantun itu langsung kehilangan selera makan, karena saat ini memang lagi di sempat makan. Entah terbuat dari apa perut mereka, makan terus.
Gara menyentil kening Chia dan Airu, namun sebelum menyentil Yuri, Deo sudah menutupi kening Yuri dengan telapak tanggannya.
Gara bingung, enggak biasanya Deo begitu. Untung saja yang lain tidak ada yang memperhatikan.
"Ya Allah, tolong jangan jodohkan kami dengan salah satu dari ketiga cewek ini," doa Gara sungguh-sungguh.
"Aamiin," diaamiinin oleh Qavi.
Telat kalian doanya, gue sudah terlanjur dilegalkan dengan Yuri. Apa jadinya nanti, anakku dan Yuri, kalau emaknya kaya begini?
Siapa lagi yang membatin seperti ini kalau bukan Deo.
Seharusnya Deo sudah tahu jawabannya, pasti enggak jauh-jauh dari sifat Deo dan Yuri. Deo dan Yuri saja sifatnya nurunin orang tua mereka. Hanya saja Deo merasa dirinya cool.
Iya, sih, cool. Namun jika dihadapan orang lain, tapi kalau sudah bertemu dengan Yuri, bakalan kaya cacing disembur dengan garam.
"Deo, anterin gue pulang, ya?"
"Ayo."
"Kami duluan, ya."
Chia, Airu, Gara dan Qavi melihat Deo dan Yuri yang berjalan beriringan namun Deo mengacak-ngacak rambut Yuri, lalu Yuri yang menepuk lengan Deo.
"Mereka kalau jadian, apa jadinya, ya?
" Enggak kebayang."
Mereka enggak tahu aja, bahwa Deo dan Yuri sudah menikah.