Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
59 Bohong


Hari ini adalah hari kelulusan Arby dan sahabat-sahabatnya, yang menandakan bahwa Freya, Nania dan Aruna akan menjadi murid kelas tiga.


Tahun ajaran ini Freya akan kembali ke sekolah. Permasalahan Arlan pun mulai membaik, tentu saja karena pengaruh yang dia punya, ditambah para murid dan tenaga pengajarnya yang telah dididik untuk menyimpan segala hal yang akan merusak nama baik sekolah.


Untuk Freya, Nania dan Aruna, mereka sudah mencari alasan atas ketidak hadiran ketiganya di sekolah jika ada yang bertanya, bahwa ketujuh murid tersebut melakukan pendidikan khusus di luar negeri, dan karena Arby, Vian, Ikmal dan Marcell pun akan segera lulus, maka keempatnya melakukan pendidikan di luar hingga tamat.


.


.


.


Hari ini adalah hari ulang tahun Freya. Dia ingat, satu tahun yang lalu dia dan ketiga sahabatnya merayakan ulang tahunnya di Bali, dihadiri oleh keempat pemuda yang tak diundang.


Hari ini ketiganya berjalan-jalan di kota Bandung. Lebih tepatnya bertujuh, karena Marcell dan Vian yang selalu melakukan cara untuk mendekati Nania dan Aruna.


Ketiga remaja itu menikmati berbagai macam makanan.


"Mereka enggak kenyang-kenyang apa, ya?" keluh Vian yang mulutnya tanpa tahu malu sibuk mengunyah roti Bandung.


Arby melihat tubuh Freya yang terlihat lebih berisi dari beberapa bulan terakhir. Istri kecilnya itu juga terlihat lebih cantik, dengan kulit yang semakin putih mulus dan bibir merah cherry.


Arby sangat yakin banyak pria yang menyukai Freya, hanya saja bagi Freya, cowok menjadi urutan nomor kesekian dalam prioritas hidupnya, karena bagi Freya yang terpenting dalam hidupnya adalah pendidikan, karir dan sahabat.


Tidak ada yang istimewa dalam ulang tahun Freya kali ini. Namun yang membuatnya senang adalah tinggal satu tahun lagi dia akan berumur 18. Dia harus bersabar selama satu tahun ini, setelah itu dia akan terbang bebas layaknya burung, pergi ke tempat yang dia impikan untuk memulai masa depannya tanpa keluarga yang selama ini tak peduli padanya.


.


.


.


Hari ini awal tahun ajaran baru. Freya sedikit terlambat karena tidur larut malam. Saat dia memasuki ruang kelasnya, tersisa satu bangku kosong. Dia segers duduk di bangku itu dan melirik gadis yang duduk di sebelahnya.


Nuna


Wajah Nuna terlihat lebih kurus dengan kantung mata yang menghitam.


.


.


.


Hari-hari yang Freya jalani selama menjadi murid kelas tiga ini berjalan dengan lancar. Nilai-nilainya selalu menjadi yang terbaik. Mengingat bahwa tidak lama lagi dia akan meraih kebebasannya, membuat dia termotivasi untuk segera lulus sekolah.


Tidak ada desas-desus mengenai dirinya. Mungkin saja Arlan telah mengantisipasi agar Freya bisa menjalani masa-masa terakhir dia menjadi murid SMA.


Di tempat lain


Arby sedang menikmati makan siangnya bersama Marcell, Vian dan Ikmal. Mereka masih kuliah di kampus yang sama meski berbeda jurusan.


Dia hadapan mereka kini duduk empat gadis cantik. Keempat mahasiswi itu memang sejak awal sudah tertarik dengan keempat most wanted tersebut, terutama Arby.


Meskipun Arby sempat dilanda gosip tak sedap mengenai kasus pelecehan, namun pesonanya tetap tak dapat dihilangkan. Bahkan semenjak dirinya tak lagi menyandang gelar pelajar putih abu-abu, dia terlihat semakin tampan.


Banyak juga yang meragukan gosip tersebut, bahkan ada yang mengatakan bahwa perempuan itulah yang mengejar-ngejar dan menjebak Arby, meskipun kebenaran tentang berita itu hingga sekarang masih simpang siur, karena tidur ada yang tahu siapa perempuan yang dimaksud.


Jam pulang sekolah


Arby menjemput Freya di sekolahnya. Sejak kembali ke Jakarta, sebisa mungkin pemuda itu mengantar jemput Freya ke mana pun dia pergi, kecuali dia ada urusan yang sangat penting, agar tak lagi kecolongan dan Freya kembali terjerumus ke lembah hitam.


Freya melihat Arby dan Nuna yang saling melirik.


.


.


.


"Cel, hari ini bisa anterin aku ke rumah om aku, enggak?" tanya Nania di telepon.


"Yah, maaf ya Nan, hari ini aku mau ngerjain tugas dari dosen."


"Owh, ya sudah deh."


Nania menghela nafas.


"Kenapa?"


"Marcell enggak bisa antar aku ke rumah om aku, katanya mau ngerjain tugas," keluh Nania.


"Aku cuma malas aja pergi sendiri ke Tangerang."


Pulang sekolah, Freya pergi ke mall. Dia ingin membeli buku-buku baru.


Freya melihat delapan orang yang empat diantaranya sangat dia kenal. Dia tersenyum sinis lalu langsung mengambil poselnya, dan mereka hal tersebut.


Dia berjalan mendekat, semakin terlihat jelas seorang gadis sedang bersandar di pundak seorang pria.


"Ini yang namanya sibuk? Dasar ****** kalian!"


"Freya!"


Keempat pria itu tersentak.


Freya mengirim rekaman itu.


Send


Nania


Aruna


Nuna


Drrtt drrttt


Nania calling


"Halo Nania sayang, tuh lihat kelakuan cowok yang selama ini ngejar-ngejar kamu. Katanya tadi enggak bisa antar kamu karena mau ngerjain tugas, eh mereka malah sibuk sama emoat cewek menor di mall."


"Bukan, ini salah paham," bela Marcell.


"Nan, udah dulu ya. Biar aku yang beresin masalah ini."


Tidak lama kamudian ponsel Freya kembali berdering.


"Halo, Run. Tuh lihat sendiri kan, si kutu kupret Vian gimana kelakuannya. Dah enggak usah jadian sama dia. Masih banyak cowok ganteng."


"Arahin ke mereka, Ya."


Freya langsung mengarahkan video call itu kepada mereka.


"Heh Vian, sok ganteng banget kamu. Bagus aku enhhak nerima kamu. Tadi katanya sakit, mau langsung pulang, tapi malah nyangkut di mall sama cewek. Dasar cowok enggak tahu diri, tampang pas-pasan aja belagu."


Aruna langsung mematikan video call tersebut.


Seperti yang Freya duga, sekarang gikiran Nuna yang menghubunginya.


"Tuh Nuna, gara-gara cowok enggak tahu diri kaya Arby persahabatan kita jadi rusak. Dah, tinggalin aja barang rusak kaya dia, jangan sampai kamu juga jadi korban. Cowok kaya gitu kok dibelain."


Tanpa menunggu jawaban Nuna, Freya langsung memutuskan sambungan itu.


"Kalian, jangan pernah lagi dekati sahabat-sahabatku."


"Heh, memamg kamu siapa? Berani-beraniya marah sama mereka berempat?" tanya seorang gadis yang duduk di sebelah Arby.


"Enggak ada urusan sama kamu, aku ini siapa."


"Sombong banget, masih SMA aja belagu."


"Kamu siapa? Pacarnya Arby?" tanya Freya.


"Iya, aku pacarnya Arby."


"Elin!" bentak Arby.


"Sudah berapa lama jadian?" tanya Freya memancing.


"Sejak awal kuliah."


"Enggak, itu enggak benar."


Tidak ada yang menyadari bahwa sejak tadi Freya merekamnya sebagai barang bukti akan kelakuan Arby.


"Ya, ini salah paham."


Freya memandang sinis Marcell.


"Dengar ya Cel, ini bukan yang pertama kalinya kamu nyakitin sahabat aku. Kamu belum dapat maaf dari Aruna saja sudah berani bohong lagi, apalagi nanti. Aku orang pertama yang menghalangi kamu mendekati Nania."