Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
20 Egois


🎶 🎶 🎶 Kularut luruh dalam keheningan hatimu


Jatuh bersama derasnya tetes air mata


Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka


Melagukan kepedihan di dalam jiwamu


Dan tak pernah terpikirkan olehku


Untuk tinggalkan engkau seperti ini


Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi


Betapa hancur dan harunya hidupmu


Sebenarnya 'ku tak ingin berada di sini


Di tempat jauh yang sepi memisahkan kita


Kuberharap semuanya pasti akan berbeda


Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi


Dan tak pernah terpikirkan olehku


Untuk tinggalkan engkau seperti ini


Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi


Betapa hancur dan harunya hidupmu


Aku tak mengerti


Apa yang mungkin terjadi?


Sepenuh hatiku


Aku tak mengerti 🎶 🎶 🎶


Saat ini Freya ada di rumah kontrakannya. Dia memikirkan semua kejadian sejak dirinya pulang dari liburan ke Bali bersama sahabat-sahabatnya dulu. Siapa sangka, sejak pulang dari sana, hidupnya mulai berubah.


🎼 🎼 🎼 Di sini aku masih sendiri


Merenungi hari-hari sepi


Aku tanpamu masih tanpamu


Bila esok hari datang lagi


Ku coba hadapi semua ini


Meski tanpamu oh meski tanpamu


Bila aku dapat bintang yang berpijar


Mentari yang tenang bersamaku di sini


Ku dapat tertawa menangis merenung


Di tempat ini aku bertahan


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apakah aku slalu di hatinya


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Kalau ku masih tetap di sini


Ku lewati semua yang terjadi


Aku menunggumu oh aku menunggu


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apakah aku ada di hatinya


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya oh


Suara dengarkanlah aku 🎼 🎼 🎼


Di tempat lain, Arby pun tak jauh beda, memikirkan rentetan kejadian akhir-akhir ini. Pria itu lalu mengambil buku sketsanya, mulai menggamba wajah cantik yang selalu menemani mimpi-mimpinya.


🌿🌿🌿🌿


Freya berjalan mendekati salah satu pintu yang sedikit terbuka. Ruangan itu terletak bersebelahan dengan kamar Arby. Dia ingin tahu apakah itu kamar tidur atau bukan. Saat ingin masuk, seseorang mencekal tangannya.


"Jangan masuk!"


Arby menguatkan genggamannya pada lengan Freya.


"Di bilang jangan, ya jangan!"


Semakin dilarang, semakin Freya ingin melihatnya.


"Memang di dalam apaan, sih?"


Tidak ingin Freya tahu apa yang ada di dalamnya, Arby langsung menggendong Freya seperti karung beras.


"Aaaa ... lepas!"


Freya mencoba menendang perut Arby dengan lututnya, tapi Arby sudah lebih dulu menahannya.


"Sekali-sekali nurut apa kata suami!"


Freya lalu menggunakan tangannya untuk menjambak rambut Arby.


"Aaaa ... sakit!"


"Pasti kamu nyimpan banyak poster bugil, kan?"


"Bawel!"


"Atau itu buat nyimpan foto-foto cewek yang kamu suka?"


Tubuh Arby menegang, dan Freya bisa melihat itu. Dia tersenyum sinis.


"Kalau memang kamu begitu menyukainya dan tidak bisa melupakannya, lebih baik kita akhiri saja pernikahan semu ini. Kita berhak bahagia dengan pilihan kita. Seharusnya kebahagiaan anak juga menjadi kebahagiaan orang tua."


Freya menepuk pundak Arby, lalu meninggalkannya tanpa ada adu urat seperti yang biasa mereka lakukan.


Arby menghela nafasnya, lalu memegang dadanya.


Andai aku bisa melepaskannya, nyata aku sangat mencintainya. Aku ingin selalu bisa melihat senyumnya, mendengar suaranya bahkan ... aku sangat ingin memilikinya. Biarlah aku egois. Biar saja orang menghujatku, aku tidak akan peduli. Yang kuolpikirkan hanya hati aku, bukan orang lain.


🌸🌸🌸


Hubungan Freya dan sahabat-sahabatnya masih menegang. Meskipun mereka ada di meja yang sama saat di kantin, namun tidak ada yang berbicara satu sama lain.


Sejak Freya menikah dengan Arby, dia memang berubah sedikit demi sedikit. Pandangan matanya sering terlihat redup, bahkan kosong. Jarang bicara kalau bukan hal yang penting.


Terkadang Nania melihat Freya yang membaca buku, namun hanya sebuah kedok, karena matanya tak bergerak mengikuti tulisan yang ada di buku.


Bukan Hanya Nania yang melihat gelagat aneh pada Freya, tapi juga Ikmal. Meskipun dia dan Freya hanya bertemu di saat-saat tertentu saja, tapi dia merasakan memang ada yang berbeda dari gadis itu.


Di kejauhan, Mico menatap Freya yang hanya menatap makanannya. Pria itu lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan.


To Freya


[Makan, jangan dipandangin aja tuh makanan!]


Freya mengambil ponselnya, lalu membaca pesan dari Mico.


To Mico


[Bolos, yuk!]


Akhirnya berbalas pesanlah mereka.


From Mico


[Murid teladan mau bolos?]


From Freya


[Bawel, mau gak?]


From Mico


[Gak.]


From Freya


[Ah, enggak asyik.]


Mico tertawa geli di tempatnya, bisa-bisanya murid berprestasi dan disiplin serta cuek seperti Freya mengajaknya bolos.


Dia jadi berpikir, pasti gadis itu punya masalah berat dalam hidupnya. Sekali lagi dia melihat ke arah Freya, yang saat itu juga sedang menatapnya kesal. Dia mengedipkan matanya pada gadis itu yang dibalas dengan bibir yang mengerucut kesal dan bibir komat-kamit, membuat Mico menjadi gemas.


Hal itu tidak lepas dari pengawasan orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"Ngetawaiin apaan sih, Mic?" tanya Adam, temannya.


"Bukan apa-apa."


"Dih, dasar sarap."


Di seberang sana, Freya menghela nafas berat, seolah tidak memiliki harapan hidup. Akhir-akhir ini dia memang tak memiliki semangat. Tidak pernah dia merasa sesuntuk ini. Bahkan buku yang biasa menjadi tempat pelariannya kini tak lagi menarik di matanya.


"Na?"


"Hm?"


"Bolos, yuk!"


Mereka terbatuk.


"Apaan?"


"Bolos, yuk!"


Nania memegang kening Freya.


"Apaan sih, Na?"


Freya menepis tangan Nania. Merasa ajakannya juga akan di tolak oleh Nania, dia langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa, terutama pada Aruna dan Arby. Hanya Nania saja yang masih dia tegur, karena memang Nania yang lebih dulu mengenal Freya saat mereka masih SD.


Nania segera menyusul Freya lalu merangkul pundak gadis itu menuju UKS. Nania memang merasa kondisi Freya tidak baik-baik saja, tubuhnya sedikit hangat dan keringat dingin.


Di ruang UKS, Freya langsung membaringkan tubuhnya, dan tidak lama kemudian tertidur. Nania menghela nafas, mengusap lembut kepala sahabatnya itu. Pintu ruangan terbuka UKS terbuka, menunjukkan wajah Arby dan yang lain. Mereka melihat butiran keringat di kening Freya.


"Apa dibawa ke dokter saja, ya?"


Arby langsung menggendong Freya, gadis itu terlihat lemah dalam gendongan Arby. Wajah pucatnya masih terlihat cantik meski ada lingkaran hitam di sekitar matanya.


Nania menyusul Arby, tidak ingin membiarkan Freya berdua saja dengan pria itu. Dia hanya khawatir jika Freya bangun nanti, mereka akan kembali bertengkar bahkan hanya untuk masalah kecil sekalipun.