
"Deo!"
Deo maju ke depan mengambil hasil ulangan kimianya.
100, seperti biasa.
"Yuri!"
Yuri maju, sambil merapalkan doa.
Wajahnya tanpa ekspresi.
"Yuri, lo nilainya lebih jelek dari Deo?"
"Enggak kok, gue juga dapat seratus," jawab Yuri namun terdengar sangat lesu.
"Tapi ko sedih?"
"Gue bosan gaes, cepe lagi, cepe lagi. Sekali-sekali gue pengen ngerasain, gimana sih rasanga dapat nilai enam puluh. Rizki, lo kan pakarnya nilai enam puluh, gimana sih rasanya? Bangga, terharu, atau gimana?"
"Kamvret lo, Yuri. Lo nyindir gue?"
"Enggak lah, justru gue salut sama prestasi lo, yang selalu bertahan dengan nilai itu, tanpa takut tersaingi. Apa sih, rahasianya?"
Yuri terkekeh geli, sedangkan Rizki, sama sekali tidak tersinggung, karena sudah sekelas dengan Yuri sejak SMP jadi cowok itu sudah tahu tabiat Yuri.
Rizki langsung membekap kepala Yuri ke dalam keteknya.
"Woy, lepasin. Bau ketek woy."
Deo mengepalkan tangannya. Pria itu langsung menarik Yuri dan membersihkan wajah Yuri, bukan dengan tisu atau sapu tangan, tapi dengan keteknya juga.
Guru kimia itu ikut tertawa bersama murid yang lain.
"Aaaa, Deodoran, jangan ngetekin gue. Kumenangis ... membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku ...."
"Airu, gue pengen pipis jadinya nih, ayo buruan temenin gue, nanti gue keburu ngompol."
Guru Kimia yang bernama pak Burhan itu menggelengkan kepalanya. Deo dan Yuri memang murid kesayangannya, bukan karena mereka pintar, tapi karena berdua, meskipun pintar namun tetap bersikap murid normal lainnya, yang kadang suka becanda, iseng, berantem. Bukan tipe murid cerdas yang akan mengeram di perpustakaan dengan setumpuk buku.
Memang aneh alasan pak Burhan menyukai mereka berdua, karena baginya, meskipun belajar dan berprestasi memang penting untuk pelajar dan generasi bangsa, tapi bukan berarti mereka harus melupakan jati diri mereka sebagai anak muda, yang penting masih dalam koridor yang benar.
Yuri langsung membersihkannya wajahnya dengan tisu basah, lalu menaburkan bedak bayi, tidak peduli bahwa ada pak Burhan di dalam kelas itu.
"Gara-gara lo, nih, muka gue susuknya jadi luntur."
"Lo pake susuk?"
"Iya, susuk sate."
"Itu tusuk, pea."
.
.
.
Yuri sedang berkutat di dapur.
"Lagi ngapain, lo?"
"Lagi masak, gue. Istri idaman banget, kan?"
Deo mencomot tahu isi dan memberikannya sedkit sambel.
"Gimana, enak kan, masakan gue?"
"Ini serius, lo yang masak?"
"Gini, gini, juga gue pintar masak, tapi ...."
"Tapi? Tapi apa?"
"Tapi malas, hahaha."
Deo langsung memasukkan tahu isi bulat-bulat ke dalam mulut Yuri saat gadis itu tertawa lebar.
"Kenapa bawa bekel?"
"Biar lo enggak morotin gue terus."
"Jangan pelit sama istri, biar rezekinya berkah dan nambah. Ingat, dibalik kesuksesan suami, ada istri yang mendukung dan mendoakan. Sayangilah istrimu, seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Ingat saat tua nanti, di mana dirimu renta dan anak-anakmu punya kehidupan sendiri, hanya ada istrimu di sisimu."
"Jadi begitu, Bu Ustadzah?"
"Betul. Ingat, uang suami adalah uang istri. Uang istri, ya tetap uang istri. Bukan begitu, Mami?"
"Betul betul betul."
"Bahagiakan lah istrimu, karena yang paling tulus mendoakanmu selain orang tua, adalah istrimu. Bukan begitu, Mami?"
"Tul tul tul."
"Jadi mana?"
"Apanya?"
"Uang jajan. Nanti malam aku mau jajan bakso."
"Jajan mulu!"
"Kasihan uang lo dianggurin, mendingan gue jajanin."
"Tadi ngomongnya bijak, kaya ustadzah."
"Tadi pas lagi ngomong gitu, malaikatnya lagi lewat."
"Dasar!"
"Yuri!"
"Yuri!"
Suara Chia dan Airu memanggil Yuri membuat gadis itu gelagapan. Belum sempat dia menyembunyikan Deo di kolong meja, Chia dan Airi sudah keburu datang ke dapur.
"Loh, Deo ngapain di sini?"
"Main."
"Main?"
"Kalian envgak tahu ya, ternyata orang tua gue dan orang tua Deo itu saudara."
"Saudara? Jadi om atau tante itu, baru ketemu saudara kandung setelah sekian puluh tahun berpisah?"
"Terharu aku, Tan."
Chia dan Airu bahkan ingin menangis.
"Ish, maksudnya tuh saudara seperjuangan."
"Ja ...."
"Dah jangan bawel, gue mau makan."
"Yuri, kita mau nginap di sini, ya. Kan sudah lama nggak nginap."
Gawat, apa kata mereka nanti kalau tahu ada ****** cowok di kamar gue?
"Nginap di rumah Airu aja, deh. Sekalian makan bakso di tempat langganan kita."
.
.
.
Chia dan Airu ingin mengikuti Yuri ke kamarnya, namun langsung di cegah oleh Yuri.
"Kalian di sini aja temenin, Deo."
Yuri langsung masuk ke kamar dan menyembunyikan harta karun Deo.