Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
63 Cincin


"Frey, ayo kita memulainya dari awal."


Arby meraih tubuh Freya dan menenggelamkannya dalam pelukannya.


"Apaan, sih."


Freya mencoba memberontak, tak mengerti dengan sikap pria itu.


"Ayo kita menjadi suami istri yang baik. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu."


Kenapa sih, dia?


🌺🌺🌺


Selama kehamilan ini, Freya baik-baik saja. ***** makannya tak pernah ada masalah, tidak mengidam apa pun. Justru yang menjadi masalah adalah Arby. Kali ini dia yang harus kuliah online karena benar-benar tak ada tenaga, bahkan untuk keluar kamar sebentar saja.


"Frey, aku tidur sama kamu ya?"


Freya melotot pada pria itu.


"Janji kok enggak ngapa-ngapain."


Tanpa menunggu persetujuan Freya, Arby langsung tidur di kasur Freya dan terlelap begitu saja.


Memang sepertinya Arby tak bisa jauh dari Freya. Jika Freya sekolah, maka suami muda itu akan kembali muntah-muntah, membuat para sahabatnya merasa lucu tapi juga kasihan.


Dan untuk makanan, pria itu oun hanya bisa makan makanan yang dimasak oleh Freya, membuat istri kecilnya itu kesal. Tapi, Freya tetap memasak, ya anggap saja dia dokter yang mengurus pasiennya, kan.


Mereka sedikit terlihat seperti suami istri sungguhan.


Freya masuk ke kamar Arby karena tidak ada sahutan saat dia mengetoknya. Dia ingin meminjam buku Arby, karena dia pernah melihat buku itu di kamar Arby. Dari pada beli, pikirnya.


Freya melihat laci yang sediki terbuka, seperti ada dorongan, perempuan hamil itu lalu menarik lacinya. Dilihatnya kotak berwarna hijau zamrud dan membukanya.


Loh, ini kan?


"Lagi apa?" tanya Arby di belakangnya. Dia melihat Freya memegang sepasang cincin.


"Ini cincin nikah kita, kan?"


"Iya."


"Kok bisa sama kamu?"


"Aku beli lagi di toko itu."


"Buat apaan?"


Arby menghela nafas.


"Ya apa kata orang nanti, kalau tahu menantu keluarga Abraham menjual sepasang cincin pernikahannya."


Freya mengangguk paham, memang jawaban ayah dan anak tersebut tidak akan jauh dari alasan nama baik keluarga.


"Ngomong-ngomong, kamu mau ngapain?"


"Oh, mau pinjam buku. Nah, itu dia dari tadi aku cari. Pinjam ya bentar."


Freya memasukkan kembali cincin itu ke dalam laci dan kelaur dari kamar Arby."


🌹🌹🌹


"Ar, Angel nanyain kamu terus tuh. Dia mau ketemu sama kamu."


"Sst, jangan sebut-sebut nama cewek lain, nanti kalau Freya sampai dengar, bisa jadi masalah lagi."


"Iya, iya."


"Pokoknya kalau Angel atau siapapun nanya, nilang aja enggak tahu apa-apa."


"Iyaaa."


πŸ€πŸ€πŸ€


Freya menatap brosur-brosur universitas di taman belakang rumahnya. Mungkin sudah takdirnya dia tidak dapat melanjutkan pendidikannya di universitas impiannya. Keluarganya dan Arby tidak mungkin mengizinkannya ke luar negeri. Mungkin jika dirinya tak hamil, dia bisa pergi dengan bebas. Namun ada anak yang menjadi penghalangnya.


Sabar dan ikhlas


Terlihat mudah namun sangat sulit mempraktekkannya.


Haruskah impiannya kandas sebelum dia sempat mencicipinya?


Freya mengambil brosur-brosur itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Nania meninggalkan Aruna, Arby, Marcell, Vian dan Ikmal yang juga sejak tadi mengawasi Freya.


Arby mendekati tempat sampah itu, dan mengambil brosur-brosur tersebut. Dilihatnya gambar-gambar universitas dari berbagai dunia, juga jurusan yang dibulatin oleh Freya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ayo kita mulai dari awal. Aku sungguh-sungguh."


Remaja perempuan itu ada dalam dekapan Arby.. Aroma maskulin menyeruak dalam indra peciumannya. Begitu pun Arby, merasa sangat nyaman saat dirinya memeluk Freya seperti ini, mungkin karena efek ngidamnya.


"Terus gimana sama dia?"


"Cewek yang kamu suka itu, Nuna. Apa kamu akan melupakannya?"


"Ya."


Jawaban yang singkat, padat dan jelas.


Maaf, tapi aku tidak akan melupakan cinta pertamaku, batin Arby.


Aku tahu kamu bohong, batin Freya.


Hubungan Arby dan Freya sedang dalam fase gencatan senjata. Namin tidak ada yang tahu dalam diri Freya menahan gejolak kekecewaan yang amat besar.


Arby juga akan tidur di kamar Freya dan mengintilin gadis itu ke mana saja dia pergi kecuali ke sekolah. Bahkan jika Freya ke kamar mandi, maka Arby akan menunggunya tepat di depan kamar mandi.


Jika Freya tidur, maka diam-diam Arby akan membalas pesan Nuna dan langsung menghapusnya. Dia juga akan mengelus perut Freya yang masih rata.


Hari ini Freya ingin ke toko buku, dan Arby ngotot untuk ikut. Mereka jalan berfandengan tangan, lebih tepatnya, Arby yang memaksa menhgandeng tangannya. Mata Arby melihat seorang perempuan yang kini juga tengah menatap dirinya dan Freya. Dia menggerakkan tangannya diam-diam, meminta Nuna untuk menjauh agar Freya tidak melihatnya, membuat Nuna mendengkus dan mengerucutkan bibirnya, namun tetap melakukan apa yang pemuda itu lakukan.


Jika saja mereka berdua tahu, bahwa sebenarnya Freya tahu interaksi antara mereka berdua. Mata Freya itu sangat jeli, makanya dia dulu gampang menangkap basah Arby. Namun dia tidak peduli, dia ingin menjaga emosinya agar tidak kembali mengalami keguguran.


Di toko buku, Freya sibuk mencari buku. Buka buku pelajaran, tapi novel terjemahan.


"Kamu beli novel, bukan buku pelajaran?"


"Hm, buat refreshing, biar enggak jenuh."


Freya terlihat senang saat deretan novel itu ada di hadapannya.


"Lepas dulu napa, sih."


Freya melepaskan genggaman tangannya, agar lebih mudah memilih. Dia mengambil sepuluh novel dan membeli peralatan sekolah yang lucu-lucu.


"Arby, kamu di sini? Ko enggak pernah ke kampus lagi?" tanya Angel.


Gadis itu melihat genggaman tangan Arby dan Freya.


"Ini cewek yang eaktu itu, kan? Cih, dasar munafik, katanya enggak suka sama Arby tapi jalan bareng, gandengan tangan, lagi."


"Jangan ikut campur, Ngel!"


Arby langsung menuntun Freya untuk membayar semua yang dia beli. Pemuda itu mengeluarkan black cardnya.


"Ayo, sekarang kita shopping."


Bukan Freya yang mengajaknya, tapi Arby. Pemuda itu mengajak Freya ke toko aksesoris remaja, toko sepatu, baju, lalu setelah itu ke cafe.


"Kamu bisa makan, enggak?" tanya Freya, karena Arby masih belum bisa makan jika bukan Freya yang memasaknya.


"Hmm, tapi kamu yang pilih menunya, ya."


Freya memesan spageti, steak dan salad untuk mereka, minumannya lemon tea dan jus mangga. Freya memang tidak mengalami keluhan sama sekali, ***** makannya juga semakin meningkat.


Di pojok cafe itu, tiga pasang mata menatap mereka dengan tatapan benci.


"Woy, kalian di sini juga?"


Tiga orang menghampiri mereka.


Marcell, Vian dan Ikmal. Tanpa rasa sungkan, ketiganya duduk di situ. Freya masih tetap sibuk mengunya.


"Aku mau ke toilet dulu," ucap Freya.


Arby langsung kengikuti Freya ke toilet dan berdiri di depan pintu toilet.


"Dasar bucin," ucap Marcell.


"Bukan bucin, tapi tuntutan ngidam," tersng Vian.


Keduanya tertawa, sedangkan Ikmal mengulum senyum dengan tingkah Arby yang menurutnya lucu.