Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 25 Gara-Gara Toilet


"Pak sopir, tolong berhenti dulu."


"Kenapa, Neng? Mau muntah?"


"Bukan, Pak. Yuri cantik mau pipis."


"Woy, Yuri. Kalau mau pipis, ya pipis aja. Kan di bis juga ada toiletnya," ucap Rizki.


"Mana bisa, masa lagi pipis bisnya goyang-goyang."


"Elah, ribet banget sih."


"Kita tunggu sampai rest area dulu ya, Neng?"


"Mana tahan, Pak."


Dengan terpaksa bis itu berhenti di tengah jalan, disusul oleh empat belas bis lainnya.


Mereka turun untuk menghirup udara segar dan melonggarkan otot-otot yang kaku karena terlalu lama duduk.


"Woy, ayo kita cari pohon!"


Sekumpulan pria lalu mencari pohon yang akan menjadi korban kejahatan mereka.


Di lain sisi


"Jagain, woy, jangan sampai para cowok ngintip!"


Sekelompok gadis itu lalu membentuk formasi seperti tembok.


"Jangan lupa permisi dan lihat-lihat, nanti ada ular."


Beberapa saat kemudian ....


"Dasar, bilang ribet tapi kalian pada beser, juga!"


Yuri memanyunkan bibirnya kesal.


"Habis, lihat pohon bawaannya pengen pipis," ucap Rizki cengar-cengir.


"Kalian pipis di pohon?"


"Dih, kasihan banget tuh pohon, kan jadi bau."


"Emang kalian pipis di mana?"


"Di semak-semak, dong."


"Sama aja pea, kan tuh semak-semak juga jadi bau."


Semilir angin berhembus, menghadiahkan aroma yang tentu saja membuat hidung mereka berdenyut.


Tanpa menunggu perintah dari para guru, mereka langsung berebut masuk ke dalam bis.


Bis mulai berjalan, dan belum ada dua menit, mereka tiba di rest area.


"Anjir, tahu gini tadi nahan pipis. Ini gara-gara ...."


"Apa, apa? Mau nyalahin Yuri cantik? Balik lagi sono, tampung pipisnya di botol terus sedekahin sama toilet sini."


"Kan sayang, Ri. Jadi buang-buang tisu sama air minum."


Buat cebok maksudnya.


"Dah, pokoknya gue mau nyari cilok dulu."


Mereka tidak ada yang tahu saja, mobil-mobil yang melewati tempat mereka meninggalkan jejak tadi ikut-ikutan mencium aroma tidak sedap. Bayangkan saja, berapa ratus orang yang menyumbang air di sana?


Setelah puas beristirahat di rest area, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada lagi suara gaduh, mereka sudah tidur karena kekenyangan.


Yuri tidur di pangkuan Deo, karena sejak tadi kepalanya terbentur-bentur jendela. Sedangkan Gara sudah menggelar kasur lipat di lorong bis sejak mereka kembali melanjutakan perjalanan.


"Niat banget lo, Gar. Bawa kasur lipat segala."


Tadinya Yuri sudah mau menjajah milik Gara, tapi langsung dicegah oleh Deo, karena dia tahu cara tidur Yuri yang amburadul, bisa-bisa nanti dia kejepit kolong kursi.


Sedangkan dua orang guru pengawas dan kenek bis, termasuk sopir, bersyukur kalau para makhluk itu pada mingkem.


Salah seorang guru menengok ke belakang, meringis melihat salah satu murid perempuan ada yang tidur sambil memeluk boneka beruang yang berukuran besar.


Menuh-menuhin bisa, saja. Ini baru pergi, bagaimana nanti kalau pulang? Pasti bis ini seperti toko berjalan.


Karena dia yakin kalau para murid tidak mungkin pulang dengan tangan kosong, mereka pasti membeli banyak oleh-oleh.


Namun, belum lama terjadi keheningan, justru membuat mereka yang masih terjaga merasa mengantuk. Mereka jadi kangen sama suara Yuri dan murid lainnya.


Yuri yang kini mulai merasa tidak nyaman di wajahnya, karena mukanya malah ngumpet ke Beo, perlahan membuka matanya. Dengan keadaan belum terlalu sadar, dia malah menekan Beo.


"Aw, ahhh."


Beo antara meringis dan mendesah. Pemuda itu membuka matanya, dan melihat Yuri yang merem melek merem melek, bukan karena keenakan, tapi tentu saja karena mengantuk. Lalu pandangan matanya beralih melihat tangan Yuri yang masih nangkring cantik di atas Beo.


Dia kemudian mencubit pipi Yuri.


"Aw. Apaan sih, Deodoran?"


"Lo yang apa-apaan? Jangan dzolim sama Beo. Tangan lo coba dikondisikan, buka kek sletingnya," jawab Deo malah nagih. Suara berbisik pelan pada Yuri.


Yuri langsung melihat tangannya dan Beo yang sudah menggembung.


Pluk


"Aw!"


Yuri malah menepuk Beo.


"Itu Beo? Ko dia bengkak? Jangan-jangan digigit semut?"


Deo mendengkus


"Omegod ... Deo, jangan-jangan ada yang gigit Beo? Tadi kan lo pipis di pohon, mungkin kejatuhan semut atau ulat bulu, atau ketemplok jin? Tadi ngijin-ngijin gak, pas mau pipis?"


Deo menghela nafasnya, semakin heran dengan pemikiran Yuri.


"Pak Sopir?"


"Ya?"


Suara yangbdirindukan itu akhirnya bangun juga.


"Buruan cari toilet, ini darurat."


"Toilet lagi?


" Iya, kali ini toilet. Yuri cantik enggak mau pohon dan semak-semak."


Lalu Yuri mulai membangunkan teman-temannya.


"Ngapain sih?"


"Aku mau periksa itu mereka, kali saja sama kaya Beo."


What?


"Woy, bangun. Yuri mau periksa ...."


Deo langsung membekap mulut Yuri.


"Apaan, sih? Masih ngantuk juga," ucap Gara.


"mamemmamem," Yuri kesulitan bicara karena mulutnya dibungkam oleh Deo.


"Dah gak apa, Yuri kan emang rusuh?"


Deo langsung menarik Yuri kembali ke bangkunya dengan mulut masih dibungkam. Yuri menggigit tangan Deo.


"Aw ...."


"Kalian coba periksa ...."


Deo langsung membalik wajah Yuri dan membekapnya di dada. Mereka yang melihat itu tidak mengatakan apa-apa.


Yuri menggigit dada Deo, namun pria itu menggigit bibirnya sendiri agar tidak mendesah.


"Sudah sampai rest area."


Deo langsung mengajak Yuri ke luar.


"Ayo gue jajanin."


Yuri langsung terlihat girang, dan melupakan niatnya yang ingin memeriksa punta teman-temannya.


Enak saja main periksa punya cowok lain. Walau cuma lihat dari luar kan, tetap saja enggak boleh. Lagian ini kan gara-gara dia, Beo jadi bangun. Malah dikira digigit binatang dan ketempelan jin. Iya, lo jinnya!


"Eh, Beo sudah kempes?"


Ya Allah, kuatkan hamba-Mu ini.