
WARNING! 21+
MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN DAN KATA-KATA KASAR!
HARAP BIJAK!
YANG TIDAK BERKENAN BISA SKIP!
.
.
.
.
Milik Arby mulai memasuki milik Freya, namun belum sampai menembus selaput daranya. Arby terus mencoba memberikan ra******an pada Freya. Gadis itu mencengkram erat lengan Arby, menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.
"Sa ... sakit!"
Mengalir sudah air mata Freya saat hal yang sangat penting bagi seorang perempuan hilang.
Dirinya terisak.
Arby bisa merasakan darah yang mengalir dari bagian inti Freya, membuatnya tersenyum puas namun mendapat tatapan muak dan dendam dari perempuan yang ada di bawahnya, yang statusnya resmi menjadi istrinya lahir batin.
"Mulai saat ini kamu tidak bisa lepas lagi dariku, Frey."
Arby me****t bibir Freya, m*****s d***, sambil terus melakukan aksinya. Kenikmatan yang hanya dirasakan oleh satu orang saja, dan menghancurkan yang lain.
Freya menatap jjik pada pria yang ada di hadapannya itu, memaki dalam hati, sumpah serapah disertai keinginan untuk membunuh.
Bukan hanya fisiknya yang sakit, namun hatinya lebih sakit lagi. Haruskah nasibnya seperti ini?
Arby terus menggerakkan tubuhnya, bahkan setelah pelepasan pertama yang disertai dengan dibuangnya s****a di dalam rahim Freya, pria itu masih tetap melanjutkannya.
Dasar ib**s!
Se*an!
Tubuh Freya terasa remuk, merasa sakit di bagian intinya. Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya, disertai bau amis dari bibir dan keningnya yang berdarah.
Freya terbatuk, bahkan ingin muntah, namun Arby tak ingin berhenti sampai dia benar-benar merasa puas atau lelah.
"Sa ... sakit, berhenti!"
Lagi-lagi pria itu tak peduli.
Tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, namun tak nampak lagi cahaya dari luar jendela.
Wajah Freya semakin pucat, tubuhnya gemetaran disertai keringat dingin.
"By, berhenti, sa ... sakit!"
By?
Entah kenapa dia suka Freya memanggilnya By, bukan Ar seperti yang lainnya. Membuatnya semakin semangat melakukan aksinya dan menanam benih-benih di dalam rahim Freya.
Cengkraman Freya di lengan Arby melemah, dan akhirnya terlepas. Matanya mulai terpejam. Arby merasa ada yang mengalir cukup deras dari bagian inti Freya.
Dia melepas miliknya, melihat sesuatu berwarna merah segar.
Darah
"Frey, Frey, Freya?"
Dilihatnya wajah Freya yang membiru.
Arby menepuk-nepuk pipi Freya, namun gadis itu tak bereaksi. Dengan kalut Arby memakai celana panjangnya, lalu mencari kaos dan celana panjang untuk dipakaikan pada Freya.
Tangannya gemetaran dengan perasaan dan pikiran yang kacau balau.
"Frey!"
Tetap tak ada respon.
Dia segera menggendong Freya, membawanya ke luar.
****!
Dia baru ingat saat membuka pintu, namun tak dapat terbuka. Terpaksa dia meletakkan kembali Freya. Dia tiba ingat ke mana dia melempar kunci kamarnya. Dia mencari ke kolong lemari, belakang lemari, kolong meja belajar, kolong sofa. Akhirnya dia menemukan kunci itu di kolong kasur. Untung saja tidak terlalu dalam, sehingga tangannya masih bisa meraih kunci tersebut di kolong kasur yang sempit itu.
Dengan tangan gemetaran dia memasukkan dan memutarnya, membuka pintu lebar-lebar lalu kembali menghampiri Freya.
Dia ingin menyembunyikan semua ini dari orang-orang, tapi apakah mungkin? Dia bisa mendengar suara kedua orang tuanya di ruang keluarga.
"Pi, mi!"
Panggilnya dengan suara serak. Tangannya gemetaran, kakinya terasa lemas.
Dia panik, sangat panik.
Kedua orang tua Arby yang sedang menonton TV itu kaget mendengar teriakan Arby yang terdengar sangat ketakutan. Mereka lalu menghampiri Arby.
"Pi, Mi, to ... tolong aku. A ... aku ... Frey ... Freya."
"Cepat bawa ke rumah sakit!"
Arby berlari menuju mobil. Tangannya sudah licin oleh darah yang masih keluar dan merembes di celana Freya.
"Freya, Arby, apa yang terjadi?"
Wildan, Ami, Anya dan Vanya membelalakan mata mereka melihat sesuatu yang mengerikan.
"Ke rumah sakit, sekarang!"
Tak perlu menerka-nerka, mereka sangat paham apa yang terjadi. Tubuh kecil Vanya gemetaran melihat kakaknya berlumuran darah, meskipun gadis kecil itu berlum paham apa yang telah terjadi.
Dia menangis dalam pelukan Anya. Bahkan Anya yang sudah lebih dewasa saja sampai merinding.
Lima belas menit mereka baru tiba di rumah sakit. Security sudah mengamankan keadaan. Dokter dan perawat sudah menunggu di loby UGD atas perintah Elya yang sudah lebih dulu menghubungi dokter keluarga.
"Jangan sampai ada seorang pun yang melihat!" perintah Arlan.
Freya langsung dibawa ke ruang UGD.
Mereka kini baru memperhatikan sekujur tubuh Arby yang penuh dengan cakaran dan bulatan berwarna merah sedikit biru (bekas cubitan). Bahkan wajah Arby pun banyak cakaran. Belum lagi bekas gigitan yang cukup dalam dan berdarah, semakin meyakinkan mereka tentang apa yang telah terjadi.
Waktu berlalu, namun dokter belum juga keluar.
Pintu terbuka, wajah dokter yang terlihat kusut dengan tatapan kesedihan membuat mereka semakin cemas.
"Ba ... bagaimana, Dok?"
Dokter itu menghela nafas.
"Dia mengalami pendarahan berat, dehidrasi dan kurang pasokan oksigen. Ditambah lagi dia mengalami kekerasan fisik selain kekerasan se*sual, menyebabkan dia mengalami trauma berat. Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik, namun kondisinya masih belum stabil. Berdoa saja jika dia sadar nanti, mentalnya akan baik baik saja, meskipun saya tidak yakin akan hal itu."
Dokter itu menatap Arby, melihat bagaimana penampilan pemuda itu, sudah pasti dia tahu bahwa Arby lah penjahatnya.
Sebagai manusia, dia membenci Arby yang dengan teganya merusak masa depan seorang gadis, meskipun dia tahu bahwa Arby dan Freya telah menikah, namun dampak yang akan terjadi setelah ini tentu sangat besar.
Namun sebagai dokter pribadi keluarga Abraham, dia bisa apa?
Melapor ke polisi?
Sedangkan di hadapannya kini ada orang tua Arby dan orang tua Freya yang lebih pantas melapor ke polisi, namun tentu saja tak semudah itu.
Ingin menghajar?
Tentu saja dokter itu ingin menghajar Arby. Namun sekali lagi, orang tua Arby dan Freya saja, yang sudah jelas-jelas tahu bahwa Arby salah, tidak memberikan pelajaran pada pria itu.
Apakah ini sikap egois orang tua yang akan selalu membela dan melindungi anaknya, meski anaknya sudah terbukti bersalah?
Meski telah menimbulkan korban.
"Ya Allah, Arby! Baru tadi pagi papi dan mami menasehati kamu agar tidak bersikap seenaknya, agar lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Tapi ini apa? Dalam satu hari kamu sudah membuat dua masalah, bahkan yang sekarang kamu lakukan itu sudah termasuk tindakan kriminal!"
Ingin sekali dia menampar wajah anaknya itu, namun rasa sayangnya menghalangi.
"Tapi Freya itu kan istri aku, wajar dong kalau aku meminta hak aku."
Masih saja membela diri ternyata.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Arby!"
Plak
Plak
Plak
Bukan orang tua Arby maupun orang tua Freya yang menampar Arby, tapi Anya.
"Heh, ban*ke, enggak usah ngelak. Kalau salah ya ngaku salah, dong. Dasar j*****m lo, ya."
"Anya ...."
"Entah yang jadi korban itu Freya atau orang lain, saudara atau teman, aku sebagai perempuan enggak terima dengan perbuatannya."
Vanya terisak, mengalihkan perhatian semua orang.
"Aku enggak mau dijodohkan dengan siapapun seperti kak Freya. Aku enggak mau seperti kak Freya yang menjadi korban."
Anya memeluk Vanya dan mengusap lembut bahunya.
"Kamu tenang saja, Van. Kakak akan menjaga kamu dan tidak akan membiarkan kamu dijodohkan dengan siapapun, apalagi di usia dini. Kakak juga tidak akan mau dijodohkan."
Para orang tua itu termenung.
Apakah ini dampak dari sikap egois mereka?
Apakah kini mereka menyesal?