Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
39 Kehilangan Induknya


"Untung saja mami, papi, oma, opa sedang ke luar negeri lagi. Kalau tidak, bisa-bisa kita ditanya terus kenapa seharian di dalam kamar."


Seharian di dalam kamar tapi bukan untuk memproduksi anak. Deo sedang main game online, sedangkan Yuri maraton drakor.


Yuri melihat adegan kiss di drakor itu, lalu senyum-senyum sendiri. Kan dia jadi baper. Deo yang melihat istrinya senyum-senyum seperti itu sambil melihat film, langsung mendengkus.


"Enggak baik kebanyakan ngayal, apalagi melihat yang seperti itu!"


Cup


"Mendingan langsung praktek!"


Dasar!


Yuri manyun kepada Deo. Dia juga masih agak kesal karena di tubuhnya banyak merah-merah akibat perbuatan yang Deo bilang terpuji itu.


"Ayo bobo!"


Deo langsung mematikan ponselnya dan laptop Yuri.


"Masih jam setengah delapan."


"Tidur cepat itu baik untuk kesehatan."


Yuri berpikir, sejak kapan Deo bisa bijak seperti ini? Biasanya juga mereka lomba begadang, siapa duluan yang tidur, dia yang akan mengerjakan PR berikutnya.


Beberapa jam kemudian


"Deo mah, tadi katanya suruh tidur."


"Masalahnya ini Beo belum OTW mimpi. Susah banget suruh dia bobo."


"Katanya jangan begadang, enggak baik buat kesehatan. Tapi apa, ini?"


"Berbuat kebaikan untuk si Beo, Yuri. Kasihan dia masih harus banyak belajar."


"Belajar palamu!"


Deo hanya terkekeh saja, dia lalu memeluk Yuri dan melihat jam di dinding. Pria itu meringis saat melihat sudah jam berapa saat ini.


Deo membuka matanya saat merasakan cahaya matahari dari celah-celah korden. Matanya terbuka lebar saat melihat jam.


Jam sebelas


"Den Deo dan non Yuri enggak sekolah? Tadi susah bibi bangunin tapi enggak bangun-bangun."


"Iya nih Bi, aku sama Yuri ketiduran gara-gara ngerjain PR biologi banyak banget."


PR biologi, maksudnya adalah PR produksi anak. Karena proses produksi makhluk hidup berhubungan dengan ilmu biologi. Jadi aku enggak bohong, kan?!


Terserah apa kata hati Deo saja, lah. Mungkin sekarang dia juga sedang mengasah kemampuan untuk mencari alasan.


Deo masuk kembali ke kamarnya, dan melihat wajah Yuri yang cemberut keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya cengengesan saja, sambil mikir gimana caranya biar Yuri enggak ngambek.


"Ayo kita makan dulu."


Deo kemudian menyuapi Yuri.


Di sekolah


Keadaan terasa aneh tanpa kehadiran dua makhluk biang rusuh itu. Emily sejak tadi terus melihat dia bangku kosong di hadapannya.


Kenapa mereka bisa tidak masuk sekolah bersamaan seperti ini?


Kalau Emily bingung, murid yang lain lebih bingung lagi. Mereka bukan bingung kenapa Deo dan Yuri bisa tidak sekolah, apalagi bersamaan. Tapi mereka bingung karena tidak ada yang rusuh, tidak mendengar kata-kata cilok, tidak ada yang adu nilai.


Mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


"Mereka ke mana, ya?"


"Apa sakit?"


"Jangan-jangan mereka lagi kena panuan?"


"Apa kutuan?"


Di lain tempat sana, Deo sedang menggaruk kepalanya, dan Yuri sedang menggaruk pipinya.


"Anak-anak gimana keadaannya, ya?"


"Enggak usah cemas, mereka pasti baik-baik saja tanpa kita. Kita kan juga butuh waktu untuk kita berdua. We time ...."


Mereka berdua pun layaknya orang tua yang cemas saat jauh dari anak-anak mereka yang enggak ada kemiripan sedikit pun dengan mereka, banyak lagi!