
Deg
Deg
Deg
"A ... apa?"
"Ha ... hamil?"
Susana hening mencekam. Segala perasaan dan pikiran bergejolak, seperti sebuah anak panah yang terhunus di jantung.
"Waahhh ... kita akan punya cucu."
Elya dan Ami berpelukan, merasa senang akan kabar gembira itu.
Wildan dan Arlan tersenyum dan menepuk pundak masing-masing.
"Penerus keluarga Abraham akan hadir," ucap Arlan.
Lain halnya dengan Arby.
Jika biasanya seorang suami akan merasa senang dengan kehadiran anak, maka dia merasa takut, bahkan sangat takut. Diliriknya wajah Freya yang masih belum sadarkan diri.
Dia masih muda, tapi kini tanggung jawabnya semakin besar dengan kehadiran calon anak di rahim istri yang tak pernah menganggapnya.
Ya, yang ada dalam pikirannya ya dirinya sendiri. Dia tidak berpikir tentang Freya yang bahkan lebih muda darinya.
Tapi dia bisa apa? Semuanya sudah terjadi!
Entah dia merasa menyesal atau tidak.
Bukan hanya Arby, bahkan para remaja lainnya merasa cemas. Nania menggigit telunjuknya, meyakinkan diri ini bukan mimpi.
Mico menatap iba pada Freya. Meskipun dia belum terlalu lama mengenal dan baru dekat akhir-akhir ini dengan Freya, tapi dia memahami karakter Freya cukup baik.
Para pemuda pemudi itu menerka-menerka, apa yang akan terjadi nanti.
Irma dan Surya saling pandang, sedangkan Anya dan Vanya terlihat datar.
Perlahan Freya membuka matanya. Dia menatap sekeliling kamarnya yang dipenuhi oleh orang-orang yang tidak dia suka, membuatnya mendengkus kesal.
"Ngapain sih ngumpul di sini? Keluar sana! Bikin pengap udara aja."
"Freya, kamu tenang dulu ya, jangan emosi." Dokter berkata dengan lembut.
Freya memegangi perutnya yang kembali bergejolak.
"Dok, suruh mereka keluar, kek, saya mual lihat wajah mereka, kecuali teman-teman saya."
Dokter melirik orang-orang yang dimaksud oleh Freya.
"Freya, tenang ya. Jangan banyak pikiran, istirahat yang cukup dan makan yang teratur."
"Enggak usah sok peduli deh, tan. Tante juga bagian dari mereka, kan." Matanya menatap sinis Irma.
"Freya, kamu yang tenang ya. Saat ini ada calon anak di perut kamu."
Freya menelaah kalimat tersebut.
Calon anak?
Aku hamil?
Freya langsung menatap perutnya, tangannya meraba perut rata yang merasa bergejolak karena mual.
"Aaaa ... enggak, enggak mau! Aku enggak mau hamil!"
Freya menghentak-hentakkan kakinya di kasur. Tangannya menjambak rambutnya yang panjang. Nania dan Aruna mendekati Freya dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Aku enggak mau hamil."
"Sabar, Ya." Aruna mengusap pelan punggung Freya.
"Sabar, sabar. Kalau kamu jadi aku memangnya kamu bisa sabar?"
"Banyak loh yang sudah nikah bertahun-tahun tapi belum bisa punya anak, kamu beruntung bida dikasih anak cepat."
"Kamu to*ol atau apa, sih? Aki ini masih enam belas tahun. Belim pantas menikah, hamil, apalagi punya anak. Aku masih mau senang-senang, menikmati masa remaja. Kuliah di luar negeri. Bukannya mengandung anak haram!"
"Freya!" bentakan dari kedua orang tuanya.
"Apa? Memang benar ini anak haram, anak hasil per**saan."
"Ingat, kamu sama Arby itu sudah menikah."
"Aku nikah sama dia bukan dengan suka rela, tapi paksaan dari manusia egois yang berkedok orang tua seperti kalian. Pokoknya aku mau gugurin anak ini."
"Freya!" kali ini Arby yang membentaknya.
Freya langsung menuju Arby dan menjambak rambut pria itu.
"Dasar se*an, an*ing. Ini gara-gara kamu, bang*e. Mati saja kamu ib*is!"
Tubuh Arby terhuyung ke belakang, namun dia masih bisa menahannya. Freya memang sakit dan sedang lemah, tapi orang yang diselimuti amarah dan benci akan memiliki tenaga untuk menyakiti prang yang dibencinya.
"Ibu macam apa kamu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri."
"Jangan ngebentak Freya!" teriak Nania.
"Jangan ikut campur!"
"Awas kamu kalau gugurin anak itu."
"Siapa yang sudi mengandung anak titisan ib*is seperti kamu!" balas Freya.
"Jangan sembarangan kalau bicara Freya!"
"Kamu bilang mau jadi dokter, enggak pantes tahu, enggak. Mana ada dokter yang jadi pembunuh, apalagi sengaja membunuh anaknya sendiri."
Perkataan Arby itu bukannya meredam emosi Freya, justru semakin menyulut api yang semakin panas.
"Enggak usah sok menasehati aku, kalian saja enggak pernah peduli dengan impian aku."
"Stop Freya!"
"Jangan bentak Yaya, kamu enggak lihat apa kondisi Yaya seperti apa?"
"Berhenti, jangan berkelahi."
Para orang dewasa itu mencoba melerai, tapi kalah nyaring dengan yang masih muda.
Freya menangis sesenggukan.
"Aku enggak mau hamil dan punya anak haram."
"Kamu tenang dulu Yaya. Kalau kamu enggak mau, kan masih bisa kamu kasih ke yang membutuhkan."
"Jangan sembarangan lo kalau ngomong!"
Hueekkk ....
Freya muntah di dada Arby.
"Aku mau kuliah di luar negeri."
"Masa bodo dengan impian kamu kuliah di luar negeri. Itu kan impian kamu, bukan impian aku."
Perkataan Arby itu kembali menyulut emosi Freya.
"Kamu sama saja egoisnya seperti mereka. Hanya mementingkan diri sendiri. Aku ini masih enam belas tahun, belum saatnya gendong anak apalagi dipanggil mama."
Freya mencengkram kerah baju Arby.
"Aku enggak mau anak haram ini!"
"Jangan asal bicara Frey. Apa nanti kata orang saat mendengar keturunan Abraham adalah anak haram?"
"Kalian hanya mikirin perkataan orang!"
Lagi-lagi orang yang dipikirin. Lalu bagaimana dengan dia?
Dia adalah korban.
Tapi bagi mereka dia adalah tersangka yang tak berhak membela diri dan mencari perlindungan. Hanya menunggu vonis dijatuhkan dan menjalankan hukuman dengan lapang dada.
Freya merasa masa depannya telah hilang. Memiliki anak dari pernikahan ini akan membuat hidupnya semakin terkekang.
Dia memang belum pernah mengalaminya, tapi sebagai orang yang memiliki cita-cita menjafi dokter dan sering membaca buku kesehatan, dia sangat tahu bahwa wanita hamil akan mengalami perubahan hormon, mengidam, mual muntah dan sebagainya.
Huekkk
Hueekk
Kembali muntah di baju Arby, membuat pria itu menghela nafas.
Mampus, itu hanya muntah, belum seberapa dengan apa yang kamu lakukan pada Freya, umpat Nania dalam hati.
Tubuh Freya merosot dan langsung tak sadarkan diri kembali.
.
.
.
Setelah adu mulut, adu pelototan dan adu kedudukan (status), akhirnya Mico, Nania dan Aruna pulang dari rumah Arby dengan perasaan dongkol bin eneg.
Melihat kondisi Freya yang sangat lemah, dokter akhirnya memberikan infus dan Freya harus bed rest dengan di dampingi seorang perawat di rumah.
Rumah menjadi pilihan terbaik agar Freya bida lebih relaks dan banyak yang menjaganya (asisten rumah tangga).
"Besok saya akan membawa dokter kandungan untuk memeriksanya. Dipastikan asupan makanannya tetap terjaga."
Dokter itu pulang sambil menghela nafas. Dia sangat paham bahwa anak seumuran Freya memang seharusnya belum layak menikah, apalagi hamil.
Tidak sadarkah keluarga itu bahwa Freya masih terlalu muda? Pikirannya masih labil, dan rahimnya masih muda.
Dokter itu merada iba dan berharap, tidak akan ada masalah dikemudian hari dan semoga saja gadis malang itu bisa melewati semuanya dengan baik.