
Kamar bayi yang tadinya dibuat khusus untuk anak laki-laki dengan nuansa biru laut dan aksesoris anak laki-laki, kini justru dipakai oleh Freya. Namun yang unik dari kamar itu, tidak ada mobil-mobilan atau robot-robotan, apalagi boneka.
Kamar itu penuh dengan mainan dokter-dokteran yang aman untuk anak kecil, juga berbagai buku bisnis dan kedokteran. Freya kecil tumbuh dengan didikan ketat dari Damian dan Thania.
Keantusiasan Damian dan Thania berawal dari pertama kali Freya lebih memilih mainan dokter-dokteran dan buku, saat beberapa mainan di sodorkan ke hadapannya. Freya langsung mengambil sebuah buku dan mainan itu, meskipun hanya di sobek dan dilempar-lempar, saat itu Freya masih berumur beberapa bulan.
Entah kebetulan saja, atau memang Freya sudah menunjukkan minatnya, namun hal tersebut langsung ditanggapi secara serius oleh Damian dan Thania.
"Thania, kamu ngapain main boneka? Ikut oppa yuk ke perusahaan."
Freya yang masih berusia satu tahun itu sering diajak oleh Damian ke perusahaan. Jika Anya lebih sering bersama dengan Hendrick dan Patricia, maka Freya lebih sering bersama dengan Damian dan Thania. Bedanya, Hendrick dan Patricia akan membelikan Anya boneka dan mengajaknya ke mall atau taman bermain, mengajaknya ke pantai atau tempat wisata lainnya.
Freya tidak diperlakukan seperti anak kecil lainnya. Masa depannya sudah direncanakan oleh Damian. Damian akan melarang Freya melakukan hal-hal yang baginya tak berguna, seperti bermain boneka atau menonton film kartun.
Dia juga akan langsung membawa Freya jika balita tersebut menyentuh alat musik. Namun dia masih akan membiarkan Freya jika dia bermain dokter-dokteran.
Saat Freya berumur tiga tahun
Anak laki-laki berumur empat tahun sedang menatap anak perempuan berumur tiga tahun. Gadis kecil itu memegang mainan dokter-dokteran dan buku. Dia terlihat berbeda dengan kakak perempuannya yang memegang boneka barbie dengan perlengkapannya (rumah-rumahan dan berbagai model baju).
"Papi, itu capa?"
"Oh, itu Freya, anak om yang nomor dua. Arby ajak main Freya sana."
Anak laki-laki yang bernama Arby itu langsung mengampiri Freya. Freya yang didatangi Arby, hanya diam saja, bahkan dia langsung masuk ke kamarnya.
Selanjutnya, Arby sering bertemu dengan Freya jika dia ikut papinya ke rumah Freya atau saat Freya diajak oleh kakeknya ke pertemuan antara papinya dengan kakeknya Freya.
Damian juga sering mengajak Freya ke acara pesta perusahaan, baik perusahaannya sendiri maupun perusahaan orang lain.
Freya yang memang sejak lahir sudah cerdas tanpa sepengetahuan siapapun, dapat menyerap pembicaraan-pembicaraan bisnis tersebut, bahkan Thania yang sering membicarakan istilah kedokteran saja, bisa terekam jelas dalam otaknya.
"Eya, ayo kita ambil kue."
Arby menggandeng tangan balita tiga tahun tersebut untuk mengambil kue.
"Aku mau itu, By. Eya mau itu, Aby."
Arby mengambilkan kue yang diinginkan oleh Freya. Freya memakan kue coklat tersebut hingga belepotan, dan Arby langsung membersihkannya dengan tisu.
Interaksi antara kedua anak kecil itu tidak lepas dari beberapa pasang mata.
Wildan dan Arlan di sudut kanan.
Damian dan Theo (orang tua Arlan) di sudut yang berlawanan.
"Mereka terlihat cocok ya, bagaimana kalau kita jodohkan mereka?" ajak Theo.
"Boleh saja."
Kesepakatan antara Damian dan Theo tersebut terjadi tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk pasangan masing-masing dan orang tua Arby dan Freya.
Beberapa bulan kemudian, Arby dan kedua orang tuanya pindah ke Jakarta untuk sementara waktu.
Freya yang masih berumur kurang dari empat tahun itu sudah bisa membaca dan menulis. Lagi-lagi yang paling senang adalah Damian. Dia langsung memberikan guru pembimbing untuk Freya.
Di umur kurang dari lima tahun, Freya sudah masuk sekolah dasar, bahkan dia bisa langsung loncat kelas ke kelas dua.
Di pojok kelas, duduk seorang gadis kecil yang termenung. Merasa sama-sama sendiri, Freya menghampiri gadis tersebut.
"Aku Freya, kamu siapa?"
Gadis itu melihat Freya yang terlihat masih sangat kecil namun sudah kelas dua SD.
Gadis itun iam saja, tak menyambut uluran tangan Freya.
Beberapa hari kemudian, karena sering ditegur oleh Freya, anak itu akhirnya luluh juga.
"Aku Nuna."
Itu lah pertama kalinya mereka berteman. Orang yang pertama kali menjadi teman masing-masing.
Freya merupakan teman pertama Nuna dan Nuna yang menjadi teman pertama Freya (bukan Nania apalagi Aruna).
Satu minggu kemudian, mereka kedatangan dua murid baru.
"Perkenalkan, namaku Ikmal Aksa Affandy."
"Saya Arby Erlangga Abraham."
Mata Arby tanpa sengaja menatap seorang gadis kecil yang terlihat sangat imut dan berbeda dari yang lainnya.
Freya? Kok udah kelas dua aja?
Arby duduk di belakang Freya, sedangkan Ikmal duduk di belakang Nuna.
Arby mencolek punggung Freya.
"Freya, ko' kamu di sini?"
Freya menatap bingung pada Arby, dia sama sekali tidak ingat akan Arby yang sudah satu tahun lebih tidak ditemuinya.
Dua gadis kecil itu, selalu berdua, memisahkan diri dari yang lain dan tak bergaul dengan siapapun karena alasan masing-masing.
💕💕💕
Freya sedang membaca buku kedokteran.
"Apa yang kamu baca, Freya?"
Freya menunjukkan buku itu pada Damian.
"Memangnya kamu ngerti isinya?"
Freya mengangguk, membuat Damian, Thania, Arlan dan Ami berpadangan. Lalu Freya menjelaskan apa yang dia baca tadi dengan bahasa Jerman.
Buku kedokteran itu memang berbahasa Jerman yang dia temukan di perpustakaan milik Damian. Damian kembali mendatangkan beberapa orang guru, lalu diketahui lah bahwa ternyata Freya menguasai beberapa bahasa selain bahasa Inggris dan Indonesia. Jepang, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol dan Itali.
Tidak hanya senang, justru Damian semakin antusias bahkan terobsesi akan Freya. Dia mendatangkan guru bahasa asing yang native speaker untuk mengajarkan Freya bahasa asing lainnya.
Freya semakin digembleng, diajarkan bisnis tanpa ada kesempatan untuk bermain dan menikmati masa kecilnya. Padahal tanpa melakukan itu pun, Freya memangb udah cerdas dan dapat memahami mengenai perusahaan.
"Pi, tolong jangan seperti itu pada Freya. Kasihan dia masih kecil," keluh Ami.
"Kalian diam saja. Urusan Freya biar menjadi urusanku. Jika kalian tidak ingin aku seperti ini pada dirinya, maka berikan aku cucu laki-laki."
Tak ada yang menjawab, karena memberikan cucu laki-laki tak semudah membelikan mainan robot-robotan. Meskipun saat ini Ami sedang hamil lagi dan sebentar lagi akan melahirkan, tapi mereka tidak ingin kecewa lagi dengan terlalu berharap bahwa anak ketiga ini adalah anak laki-laki.
"Lagi pula, memangnya papi pernah protes saat Hendrick dan Patricia terus mengarahkan Anya menjadi artis? Memangnya artis itu bisa menjamin akan terus terkenal hingga tua? Akan ada masanya tersisihkan, tidak bisa diwariskan kecuali punya perusahaan."