
Sejak saat itu, hubungan antara Freya, Nuna, Arby dan Ikmal membaik. Freya masih tidak ingat bahwa Arby adalah teman masa kecilnya, meskipun saat ini dia masih termasuk kecil. Mungkin bagi Freya hal itu juga tidak penting, makanya dia lupa.
Kedekatan empat anak itu membuat yang lain iri. Freya dengan wajah imutnya, Arby dengan ketampanannya, Nuna dangan wajah sendunya, juga Ikmal dengan keramahannya.
Freya sedang marah pada murid kelas dua yang berbeda kelas dengannya, karena dia melihat orang itu yang mendorong Nuna.
"Kamu jangan diam saja Nun, jika ada yang menjahatimu."
"Terus?"
"Ya jangan diam saja. Jika kamu tidak bisa membalas, setidaknya kamu tidak membiarkan mereka menyakitimu. Kata oppa, meskipun aku perempuan, tapi aku tidak boleh lemah dan mudah ditindas. Aku harus bisa membela diri sendiri jika aku tidak salah. Jika memang ingin membalas, maka jangan setengah-setengah, lakukan sekali namun memberikan efek jera yang bisa membuat mereka ingat seumur hidup dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun jika mereka tetap melakukan hal yang sama, maka tuntaskan ke akar-akarnya."
"Wuih, serem. Aku janji enggak akan bikin masalah sama kamu, Ya," kata Ikmal sambil meringis.
"Makanya kalian berdua jangan bikin masalah sama kami berdua, terutama sama aku, kalau tidak mau merasakan akibatnya."
Mungkin karena didikan dari oppanya, ditambah dia sering bersama dengan orang-orang yang jauh kebih dewasa dari dirinya, maka meskipun usianya masih lima tahun, tapi Freya sudah berpikir dan bersikap dewasa. Dia lebih terlihat seperti kakak Nuna, bukan adik Nuna, padahal Nuna lebih tua dari dirinya.
Bergaul dengan Freya, Arby dan Ikmal, lambat laun membuat Nuna menjadi anak yang lebih percaya diri. Dia tidak lagi menunduk saat berjalan, juga lebih interaktif saat berbicara, namun hanya pada mereka bertiga saja. Dia juga tidak segan lagi menghalangi orang yang membully dirinya. Akhirnya, sisi Nuna yang galak mulai terlihat (sejarah karakter galak Nuna, berasal dari Freya).
Didikan Damian memang sangat keras meskipun Freya anak perempuan, karena dia tidak memiliki cucu laki-laki yang akan melindungi Anya, Freya dan Vanya, jadi harus mampu melindungi diri sendiri, tidak boleh mengandalkan orang lain, karena orang itu belum tentu bisa dipercaya dan selalu berada di dekat kita.
Bahkan Freya diajarkan ilmu bela diri dan komputer.
Freya juga semakin menjadi harapan Damian dan Thania, karena Vanya menunjukkan kecenderungan kepada keluarga Ami yang berkaitan dengan dunia seni.
Di sekolah, Freya bisa menikmati cemilan yang selama ini sangat dia inginkan, yang oppanya katakan tidak sehat.
💧💧💧
Freya, Nuna, Arby dan Ikmal selalu mengikuti kompetisi antar sekolah bersama. Mereka sering belajar kelompok di perpustakaan.
Keempatnya selalu mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam sebuah foto.
"Jangan terlalu banyak memberikan Freya uang saku. Biar dia belajar bagaimana mengatur keuangan. Kelak, jika dia sudah menjadi CEO dan memimpin banyak perusahaan, dia juga pasti harus mampu mengatur keuangan perusahaan."
Wildan menghela nafas berat, haruskah papinya sampai serinci ini mengatur masa depan Freya?
Freya datang sambil membawa boneka yang sangat besar.
"Freya, untuk apa kamu main boneka? Tidak ada manfaatnya untuk kamu. Cepat kembalikan ke kamar kakakmu."
Freya menatap Damian, ingin protes tapi tahu bahwa dirinya tetap akan kalah.
"Yes oppa."
Freya berjalan dengan tatapan sendu sambil memeluk erat boneka itu. Dia ingin punya boneka, walau hanya sebesar telapak tangannya juga tak apa, yang penting punya.
Waktu semakin berlalu, Freya tumbuh menjadi anak dengan kharisma yang luar biasa. Prestasinya di sekolah membuat pihak sekolah sangat bangga, bahkan dia mendapatkan beasiswa yang menjamin pendidikannya hingga sarjana nanti.
"Aku ingin makan permen kapas, aku juga ingin ke taman bermain, gimana sih rasanya?" tanya Freya pada Nuna.
"Aku juga enggak tahu, papa dan mamaku juga tidak pernah membelikan dan mengajak aku ke sana."
Bagaimana mungkin orang tua Nuna mengajaknya jalan-jalan, setiap kali bertemu saja mereka selalu bertengkar, yang semua permasalahannya disebabkan oleh mamanya sendiri.
Dia sering dicibir oleh orang-orang karena perilaku mamanya. Anak sekecil dirinya sudah harus menanggung malu dan aib mamanya sendiri, membuat dia sulit bersosialisasi dengan orang-orang. Selalu murung dan menyendiri.
Kedekatannya dengan Freya yang berlanjut kepada Arby dan Ikmal membawa warna baru dalam dunia anak-anaknya.
Dua anak perempuan itu sedang mengobrol tanpa mempedulikan dua pria yang ada di hadapannya.
"Kita masih kecil, lagi pula mana mungkin oppaku mengizinkan."
"Kalau begitu tunggu umur kita delapan belas tahun."
"Saat umurmu, delapan belas tahun, umurku masih enam belas tahun."
"Kalau begitu, aku akan menunggu dua tahun lagi, jadi saat umurmu sudah delapan belas tahun, ayo kita merayakannya ke taman bermain."
Freya mengangguk dengan semangat.
"Janji ya, saat aku delapan belas tahun nanti, kita akan merayakannya ke taman bermain, membeli permen kapas, lolipop, makan es krim dan kue coklat."
"Iya, janji."
Dua anak perempuan itu saling menautkan kelingking mereka.
Aku juga mau ke taman bermain bersama kalian.
Arby mengambil ponselnya dan memfoto mereka saat kedua kelingking itu saling bertautan dan wajah mereka terlihat senang.
Cantik
Setiap hari Freya selalu merasa tidak sabar menunggu usianya delapan belas tahun. Dia pikir, saat umurnya sudah mencapai angka itu, dia kan memiliki sedikit kebebasan. Mengenal dunia luar yang tidak ada hubungannya dengan bisnis dan perusahaan.
Di diri empat anak itu, memiliki impian masing-masing yang tidak mereka ucapkan.
Saat kelas enam SD, Damian mengajak Thania dan Freya ke ulang tahun perusahaan kakek Arby.
"Freya adalah pewaris Zanuar, dia akan membuat keluarganya sangat bangga akan dirinya."
Harapan keluarga
Harapan keluarga
Harapan keluarga
Kata-kata yang selalu dia dengar saat ada pertemuan bisnis.
Jadi dokter
Jadi pengusaha
Jadi dokter
Jadi pengusaha
Kata-kata yang seperti doktrin baginya, yang tertanam di bawah alam sadarnya.
"Freya, dengarkan pesan oppa baik-baik, di mana pun kamu berada, kamu harus menjadi yang terbaik. Teruslah berprestasi, banggakan lah oppa dan omma. Jangan mengalah dengan keadaan!"
Segala petuah, harapan dan tuntutan Freya dengar selama perjalanan pulang ke rumah.
Sopir yang merasa iba dengan nona kecilnya itu, hanya mampu melirik Freya melalui kaca spion dengan lama, tanpa sadar ada mobil dengan kecepatan tinggi dan menabrak mereka.
Mobil yang ditumpangi Freya terguling hingga beberapa meter ke depan. Sebelum menutup mata, Freya masih sempat melihat oppa dan ommanya, juga pikiran tentang masa depannya.
Di mana pun kamu berada, jadilah yang terbaik. Jangan pernah menyerah dengan keadaan!