Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
74 Cerita Arby


Saat Arby kelas satu SMA


"Pi, papi janji loh, mau menikahkan aku dengan Freya."


"Kamu kalau mau sesuatu tuh, ya dikira-kira juga dong, Ar. Kamu itu masih kelas satu SMA, apalagi Freya, masih kelas tiga SMP."


Arby mendengkus kesal, sedangkan Arlan, setiap hari selalu dibuat pusing karena setiap hari Arby selalu merengek minta nikah. Dikiranya ini jaman apa?


Memangnya nikah itu gampang? Hanya tinggal ijab kabul lalu syah, melakukan malam pertama lalu end.


Butuh kesiapan lahir bathin.


Kesiapan mental.


Kedewasaan dari kedua belah pihak.


Perencanaan yang matang.


Tanggung jawab dan sebagainya.


Suami harus bisa menafkahi lahir batin.


Istri harus nurut apa kata suami dan melakukan kewajibannya dengan penuh keikhlasan lahir dan batin.


Tidak boleh ada yang egois.


Jangan sampai karena keegoisan masing-masing, malah membuat pernikahan mereka berwkhir di meja hijau.


Yang tadinya diawali dengan kata sah, lalu diakhiri dengan ketok palu.


Yang menikah di usia matang atas dasar cinta saja bisa berujung dengan perceraian.


Bagi Arlan, cinta monyetnya Arby ini sungguh gila.


Arlan sama sekali tak menduga, bahwa pembicaraan saat Arby masih SD dulu benar-benar dianggap serius oleh anaknya, dan siapa yang menduga, bahwa Arby mampu membuat usaha sendiri dengan membuka toko perhiasan kecil-kecilan yang selanjutnya menjadi sebuah perusahaan terkenal di pandangan kaum sosialita.


Namun, Arlan juga sebenarnya memang ingin menjadikan Freya menantunya. Freya telah memberi pengaruh positif untuk anak semata wayangnya. Apalagi Freya gadis yang cantik, cerdas, dan berasal dari kelurga terpandang.


Bibit bebet bobotnya sudah pasti kualitas jaminan mutu.


Arlan masih sangat ingat dulu saat Freya selalu diajak oleh oppanya ke pesta-pesta, banyak para pengusaha yang berniat menjadikan Freya sebagai menantu mereka, dan Arlan termasuk salah satunya.


Arlan tak munafik, siapa sih yang akan menolak memiliki menantu yang seperti berlian?


Saat Arby kelas dua SMA


"Pi, kalau papi ingkar janji, aku enggak akan nerusin perusahaan. Biar nanti Freya aku per****, nanti kan dia minta tanggung jawab, tuh. Syukur-syukur kalau nanti dia kangsung hamil, jadi enggak ada jalan lain selain kami menikah," katanya sedikit ngasal, seperempat ngancam, setengah serius.


Arlan langsung menggebrak meja.


"Jangan sembarangan, Ar! Iya kalau Freya minta tanggung jawab, yang ada malah kamu yang dipenjara atau dihabisi oleh papanya."


"Kan salah Papi yang ingkar janji. Lagian memang papa mau menanggung malu dan aib?"


Arby memang memanggil papa pada Wildan.


Arlan mengelus dadanya. Dalam hatinya jadi khawatir kalau memang Arby akan bertindak nekat. Di usia muda saja dia bisa mendirikan perusahaan sendiri, apalagi melakukan proses pembuatan anak dengan cara ilegal. Bisa hancur dua keluarga besar!


Sebulan kemudian, Arlan akhirnya setuju dengan keinginan Arby.


"Tapi Papi jangan cerita ke siapa-siapa soal keinginan aku, termasuk papa Wildan dan mami (Elya). Bilang saja Papi yang ingin menjodohkan aku dan Freya, dan aku sebagai anak berbakti hanya ingin membahagiakan orang tua!"


Arlan mendengkus, antara mau ketawa tapi juga kesal.


"Cih, masih kenal malu, kamu? Bahkan ke mamimu sendiri kamu rahasiakan."


"Bukan malu, Pi. Tapi ini namanya strategi. Nanti kalau papa Wildan tahu aku yang mengajukan proposal, pasti ditolak, dah. Apalagi kalau calon mantu limited edision Papi tahu, pasti dia jadi benci sama aku."


"Pokoknya Papi bikang aja ini ide Papi, aku hanya pasrah menjadi anak berbakti."


Kalau dipikir-pikir, Arby ini seperti sedang melakukan transaksi bisnis yang ilegal.


Tapi sekali lagi, Arlan setuju karena dia ingin Freya menjadi menantunya. Lebih baik cari aman sebelum direbut oleh orang lain, kan?


Setelah Pernikahan


Arlan selalu saja marah saat Arby membuat masalah.


"Papi malu, Ar, pada papanya Freya. Papi tuh sudah janji loh, akan menjaga Freya. Tapi ini apa? Pertama kamu menghamili dia, lalu setelah itu dia ketahuan menjadi peminum dan pecandu narkoba."


"Aku akan selalu menjaga Freya, Pi."


"Masalahnya, dia yang tidak mau dijaga oleh kamu."


"Nanti juga dia cinta sama aku."


"Ya harus, lah. Hanya dia menantu papi dan yang papi akui. Tidak ada perempuan lain."


Itulah sebabnya Arlan tak pernah serius menanggapi perkataan Freya soal Arby yang selingkuh dengan Nuna.


Arby itu sudah cinta mati sama Freya sejak dulu, sampai membuat perusahaan sendiri dan mengancam papinya dengan cara konyol.


Lagi pula, Nuna dan Arby masih memiliki hubungan kekerabatan yang cukup rumit untuk di jelaskan. Begitu juga dengan Arby dan Ikmal yang sebenarnya adalah sepupu dari pihak ibu.


Masih ingat kan kalau sekolah milik Arlan itu murid-muridnya masih terhubung satu sama lain (kecuali Freya yang memang murni dari jalur beasiswa). Namun hubungan tersebut tidak selalu memiliki hubungan darah secara langsung.


Misalnya sepupu dari iparnya sepupu.


Atau iparnya sepupu memiliki anak lalu menikah dengan keponakan dan seterusnya.


Mereka yang sekolah di situ saja belum tentu saling mengenal dan paham mengenai silsilah keluarga tersebut.


Oleh sebab itu penting bagi para penghuninya menjaga nama baik semua yang ada di sekolah itu, karena bisa saja tanpa sadar mereka akan mencoreng nama baik keluarganya sendiri jika salah berucap.


.


.


.


"Jadi kamu yang memang minta dinikahkan dengan Freya? Dasar gila!"


"Hidup itu penuh perjuangan, Nun."


"Iya, tapi enggak gitu juga kali, Ar," sahut Ikmal.


Makanan datang, menghentikan sejenak cerita Arby.


"Terus, kenapa salama ini kamu bersikap seolah tak menyukai Freya?"


"Kenapa malah nanya? Seharusnya kamu tahu sendiri lah Freya itu seperti apa."


Arby mengunyah baksonya, sambil mengingat karakter Freya.


"Dari dulu kan Freya gitu, susah banget didekati."


"Ya kenapa enggak kamu jadikan pacar saja, dulu?"


"Ck, kan sudah aku bilang tadi, mana mungkin Freya mau. Yang ada nanti dia semakin jauh sama aku. Nanti yang ada setelah aku jadian sama dia, terus salah paham dikit, malah putus dan jadi musuh. Kaya Nania sama Marcell. Mendingan yang pasti-pasti aja, lah. Langsung aja nikahin. Kan kalau sudah nikah, enggak akan segampang itu cerai, enggak kaya pacaran yang bisa putus sambung putus sambung."


Tanpa sadar Nuna dan Ikmal mengangguk, ada benarnya juga perkataan Arby, tapi hanya sedikit.


"Heh, tapi kan itu memang salah Marcell sendiri yang punya niat jahat!" ketus Nuna.


"Sudah-sudah kita bukan lagi membahas Nania dan Marcell, loh."


Ikmal mencoba menengahi, dia tahu Nuna masih sangat kesal saat membicarakan soal Marcell meski itu sudah bertahun-tahun yang lalu.


"Tapi setelah aku perhatikan, hanya ada satu cara untuk membuat Freya melihat keberadaanku ...."