Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 17 Ngomongin Ketua Osis


"Aaa ... tidakkk ... apa yang kalian pada gue?"


Deo menutupi tubuhnya dengan selimut, hanya menyisakan wajahnya saja. Dilihatnya tiga gadis yang bangun karena kaget.memdengar teriakannya. Sedangkan para orang tua masih berdiri di ambang pintu.


Deo melirik ke dalam selimutnya, dilihatnya bajunya masih utuh di tubuhnya.


"Ayo ngaku, kalian apakan gue? Mommy, Daddy, tolongin Deo."


Yuri melihat Chia dan Airu yang juga melihat Yuri.


"Deo kenapa, sih?"


"Enggak tahu, mungkin kurang dibelai."


Mendengar itu, Deo langsung sewot.


"Ayo ngaku, kalian habis gre*e-grep* gue, ya?"


Wajah Deo sudah seperti pria yang diperjakain tiga wanita sekaligus tanpa perasaan.


Yuri, Chia dan Airu melongo, sedangkan para orang tua tertawa.


"Dih, PD banget, lo," ucap Chia yang duluan loading.


"Terus ngapain lo sama Airu ada di sini?"


"Woy, seharusnya kita yang nanya. Ngapain lo tidur di kamar Yuri? Lo mau merawanin Yuri, ya, tapi lemes duluan?"


Marteen, Ray, Ara dan Mina semakin tertawa keras. Anak dibully, bukannya ditolong malah diketawain.


"Sudah, sudah, kasihan tuh Yuri yang bingung lihat kalian," ucap Mina.


Mereka langsung melihat para orang tua yang masih berwajah tampan dan cantik itu.


"Eh, ada Om dan Tante. Datang ko enggak bilang-bilang?"


Airu langsung menoyor Chia.


"Apa sih, Airu?"


"Ada juga kita yang datang enggak bilang-bilang, malah langsung tidur."


"Iya, ya. Seharusnya tadi kita makan dulu, ya."


Airu dan Deo tepok jidat.


"Ya sudah, ayo turun, kita makan dulu."


Chia dan Airu langsung semangat begitu mendengar kata makan.


Mereka berempat turun dan menuju ruang makan. Yuri masih terlihat lemah, sedangkan Deo berjalan di samping Yuri, takut kalau istrinya itu pingsan.


"Ini, makan."


Deo mengambilkan nasi, lauk dan sayur untuk Yuri, hal tersebut tak lepas dari penglihatan Chia dan Airu.


"Deo, lo tumben baik sama Yuri? Pasti gara-gara ada orang tuanya Yuri, ya?"


Deo mendengkus, bisa-bisanya mereka berkata seperti itu di depan mertua gue dan kedua orang tua gue.


"Memang biasanya Deo seperti apa ke Yuri?" tanya Mina.


"Berantem mulu, Tan."


"Iya. Biasanya ketua osis dan wakil itu kan akur. Lah, justru mereka memberi contoh, kalau yang namanya berantem tuh gak pandang bulu."


Kalau saja Yuri tak sakit, dia ingin sekali menyumpal mulut sahabat-sahabatnya itu dengan kulit duren, walaupun sekarang bukan musim duren.


"Kami mommy dan daddynya Deo."


"What?" teriak Chia dan Airu heboh.


"Jadi Deo nakal ya, di sekolah?"


"Enggak kok, Om. Deo baik banget."


"Iya, gak galak."


"Gak pelit."


"Murah senyum."


"Suka menolong."


"Rajin menabung."


"Dan tidak cacingan."


Chia dan Airu saling bersahutan.


"Biasanya yang kaya begitu berarti kebalikannya," celetuk Yuri.


"Kalian pasti takut dibully, kan, di sekolah?" katanya melanjutkan.


"Yuri, kamu memang sahabat sejati, paling tahu apa yang kami pikirkan."


"Iya, Deo kan suka ngasih hukuman seenaknya."


"Mentang-mentang ketua OSIS."


"Belagu amat."


"Sok ganteng!"


"Sok keren!"


Chia dan Airu kembali bersahut-sahutan. Mereka lupa di depan mereka ada kedua orang tua Deo. Padahal baru saja mereka pura-pura memuji ketua OSIS itu.


"Biasanya yang kaya begitu, berarti kebalikannya," celetuk Deo.


"Dih!" celetuk Yuri, Chia dan Airu.


"Ehm," Ray berdeham, menyadarkan Chia dan Airu yang langsung menelan saliva mereka.


"Om, Tante, kami sudah kenyang, jadi sekarang pulang dulu."


Chia dan Airu langsung berdiri, namun masih sempat-sempatnya mencomot perkedel kentang.


Mereka tertawa, kecuali Deo yang manyun.


"Ko mereka gak nanya, kenapa gue bisa di kamar lo? Mereka gak curiga, apa?"


"Mereka bakalan nanya dan curiga kalau yang di kamar gue itu, Lee Min Ho. Emang lo, Lee Min Ho?"


Yuri jadi membayangkan gimana kalau Lee Min Ho beneran bobo di kamarnya. Wajahnya cengar cengir tak karuan.


"Lagi sakit sempat-sempatnya lo mikirin cowok lain."


"Habis gue mikirin duit, kan bisa minta sama lo. Kalau lo gak ngasih, bisa minta sama mommy dan daddy. Kalau mommy dan daddy enggak ngasih, baru minta sama papi mami."


Istri siapa sih nih, yang matre? Istri gue lah.