
Deo memeluk Yuri dengan erat. Di luar sedang hujan deras, dan Yuri suka gelisah saat mendengar suara petir yang iringi sambaran kilat.
Perempuan muda itu menutup rapat-rapat wajahnya di dada Deo. Dia juga memeluk Deo dengan kencang, takut pria itu pergi.
Tidak lama kemudian, terdengar nafas Yuri yang teratur, tanda bahwa dia telah tidur. Deo bernafas lega, tapi juga kasihan pada Beo yang menderita.
Dipandanginya wajah cantik istrinya itu. Imut dengan bibir berwarna merah, kulit yang putih mulus dan hidung yang mancung.
Cup
Deo mencuri kecupan dari Yuri. Lalu mulai memejamkan matanya.
πΊπΊπΊ
Yuri sudah tidak lagi menjadi ketua OSIS, karena sudah digantikan oleh adik kelasnya. Sedangkan posisi dia yang sebagai ketua kelas, hanya berupa status, tetap saja yang bertindak adalah Rizki, anak kepala sekolah yang kadang juga suka protes kalau kepala sekolah melakukan banyak peraturan.
"Rizki, kenapa rambut kamu belum dipotong? Disekolah ini, murid laki-laki tidak boleh berambut gondrong."
"Ayah saya belum kasih uang, Pak."
Wajah kepala sekolah langsung merah. Bisa-bisanya anaknya itu berkata seperti itu di depan teman-temannya.
"Yuri, kenapa baju kamu kekecilan?"
"Itu karena saya tambah besar, Pak."
"Beli dong, yang baru."
"Tanggung Pak, kan sebentar lagi mau lulus sekolah. Mendingan uangnya saya pakai buat ke salon. Nanti masuk kuliah punya penampilan baru, deh."
Kepala sekolah menghela nafas. Susah memang bicara dengan murid kelas itu, yang sayangnya, kenapa anaknya juga ada di kelas itu.
Emy memandang benci pada kerumunan anak kelas itu. Mereka yang membuat dia malu, sehingga harus pindah ke kelas lain. Dia mengepalkan tangannya, dan pergi dari situ.
πππ
Deo membaca pesan yang baru saja Yuri kirimkan. Dia lalu pulang sendiri. Sesampainya di rumah, Deo merasa bosan. Dia sudah biasa selalu bersama Yuri. Pergi sekolah bersama, di sekolah tetap bersama, pulang sekolah bersama, dan bahkan melakukan aktivasi bersama di rumah.
Tanpa kehadiran Yuri, membuat Deo merana.
Baru satu jaman, sudah begini. Apa jadinya, kalau lebih lama lagi?
Deo menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran tidak menyenangkan itu.
Aku dan Yuri akan tetap bersama sampai kapan pun.
Hari sudah semakin sore, tapi satu pesan pun tidak ada yang dibalas oleh Yuri. Sejak tadi Deo sudah bertanya, kapan Yuri akan pulang, biar bisa dia jemput. Jangankan dibalas, pesannya saja belum dibaca, masih ceklis satu.
Menjelang malam, perasaan Deo menjadi tidak tenang. Dia lalu menghubungi Chia.
"Halo?"
"Suruh Yuri pulang, dong! Kalian bertiga main ke mana sih, enggak ingat pulang?"
"Hah? Maksudnya apaan?"
"Kalian jalan-jalan ke mana? Biar Yuri gue jemput."
"Jalan-jalan? Gue pulang sekolah langsung pulang ke rumah, habis itu nonton drakor sampai sekarang belum selesai. Eh, besok gue nyontek PR Kimia, ya."
Deg
Jantung Deo langsung berdetak kencang.
"Kalian bukannya jalan? Tadi Yuri bilang mau jalan sama lo dan Airu."
"Enggak, setahu gue, Airu juga lagi ada di rumah, tuh. Nonton drama Korea juga dia. Kami lagi balapan, siapa duluan yang paling banyak nonton. Nanti yang kalau harus traktir makan."
Deo mendengkus, balapan kok yang seperti itu. Tapi itu tidak penting, yang penting sekarang adalah di mana keberadaan Yuri?