
"Maaf, tapi kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya."
"Ma ... maksudnya?"
"Dia sedang hamil muda. Kandungannya lemah, dan sekarang keguguran."
"Apa?"
Mereka langsung menatap Deo yang seperti orang linglung.
"Yuri hamil?" tanya Chia, syok.
"Si ... siapa yang memperkosa Yuri? Dasar bajingan sialan, pria bejat. Aku sumpahin mati, dia!" ucap Airu menggebu-gebu.
"Heh, jangan sembarangan. Yuri itu hamil anak aku, tahu!"
"Deo?!"
"Tega-teganya kamu memperkosa Yuri. Dasar, ganteng-ganteng Serigala!"
"Bukan begitu! Hey, berhenti! Berhenti!"
Chia dan Airu langsung menggebuk Deo dengan tas mereka.
Gara dan Qavi diam saja. Mau membela Deo, tapi dia penjahat. Mau ikut menggebuk, tapi dia sahabat mereka.
"Stop! Stop, anak-anak!"
"Biarkan saja tante. Sebelum dibawa ke kantor polisi, biar kami dulu yang menghukumnya."
"Stop! Yuri dan Deo itu sudah menikah, jadi bukan salah Deo!"
"Apa?"
"Menikah?"
"Kapan?"
Mereka kembali menggebuk Deo.
"Pasti gara-gara kamu memperkosa Yuri ya, makanya kalian dinikahkan. Kamu sudah menghancurkan masa depan Yuri, tahu!"
"Stop woy! Yang ada aku malah telat malam pertamanya sama dia."
Deo mengusap punggungnya. Dia langsung melihat dokter.
"Tapi kenapa bisa hamil, Dok?"
"Ya bisa, lah Deo!"
Keguguran di usia muda.
Itu bisa membahayakan nyawa Yuri, juga rahimnya yang masih muda.
"Keram perut?"
"Iya. Kan setiap bulan memang begitu."
"Deo, apa ... apa kamu memberikan obat keram perut itu pada Yuri?"
"Iya. Kan mami selalu mengingatkan aku, agar jangan lupa memberikan Yuri obat itu kalau perutnya keram."
Deg
Mereka yang mendengarnya langsung lemas di tempat.
"Keram perut itu bisa terjadi pada wanita yang hamil, bukan berarti akan atau sedang datang bulan. Jadi tidak boleh minum sembarang obat."
"Tunggu, maksudnya ... aku, aku membunuh anak aku, begitu?"
"Bukan!" jawab mereka serempak (kecuali anak-anak sekolah itu, yang memang tidak mengerti apa-apa).
"Tentu saja bukan kamu penyebabnya. Yuri memang masih muda, banyak kegiatan dan segala macam. Ditambah kalian kan memang tidak tahu. Jadi bukan salah siapa-siapa. Bukan salah kamu, atau salah Yuri."
Mana mungkin mereka bilang kalau itu salah Deo, karena memang bukan salah Deo juga.
Siapa yang tahu kalau keram yang Yuri rasakan karena hamil, dan kandungannya lemah?
Siapa yang tahu kalau Yuri hamil?
Bagaimana pun juga, Deo dan Yuri itu masih sangat muda, belum mengerti tentang masalah kehamilan.
Dan, orang tua mereka pun juga tidak ada yang tahu kalau mereka sudah melakukan itu. Biasanya, Yuri dan Deo itu terbuka. Mereka pikir Yuri dan Deo akan bercerita, ternyata tidak.
"Jadi, kondisi Yuri gimana?"
"Dia masih belum sadarkan diri. Harus dirawat selama beberapa hari, sampai kondisinya benar-benar sehat. Saya akan meminta dokter kandungan untuk memeriksa rahimnya, apakah ada masalah atau tidak, karena nona Yuri masih sangat muda. Sebentar lagi perawat akan memindahkannya ke ruang perawatan."
Deo meneteskan air matanya.
Dia kehilangan anaknya, bahkan sebelum dia dan Yuri tahu kalau mereka akan memiliki anak.
Chia dan Airu masih menangis.
Gara dan Qavi merangkul pundak Deo, ikut merasa sedih.
"Aku harus bilang apa pada Yuri?"