
Hanya ada tatapan kosong di mata Freya. Entah dia merasa senang karena tidak lagi harus mengandung anak yang tak diharapkannya, atau merasa sedih, bersalah dan kehilangan. Dia tidak tersenyum, juga tidak menangis, membuat orang-orang hanya bisa mengira-ngira apa yang dirasakan perempuan muda itu.
Aku senang, karena tidak lagi menanggung beban.
Aku sedih karena harus kehilangan calon anak yang belum aku lihat seperti apa wajahnya.
Setidaknya anak itu tidak terlahir tanpa cinta kedua orang tuanya.
Mungkin ini yang terbaik untuknya, tidak harus ikut menanggung aib.
Aku rasa dia tidak ingin meliat wujud dari ayahnya.
Jawaban mana dari semua itu yang harus dia lontarkan? Dia sendiri bingung.
Di satu sisi dia merasa lega karena keguguran. Anggaplah dia jahat, tapi dia sendiri juga belum siap lahir bathin untuk menjadi mama muda. Menikah saja dia belum siap. Jika anak itu lahir, dia tahu tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya, apalagi proses terjadinya anak itu bukan hal yang baik.
Di sisi lain, ada perasaan kasihan kepada calon anaknya itu, yang tidak sempat melihat dunia.
Namun dia berpikir, ini adalah takdir, dan ini yang terbaik untuk semua orang.
Bagaimana nanti anak itu tumbuh di tengah-tengah pertengkaran kedua orang tuanya yang masih sangat muda dan labil?
Satu minggu setelahnya
"Terbukti, kan. Yang mereka perulikan hanya anak yang ada dalam perutku. Lihat saja mereka sekarang, mereka menganggapku layaknya orang asing. Tapi bagus juga sih, aku jadi lebih bebas."
"Aku seperti sampah bagi mereka, udah gak ada manfaatnya lagi terus dibuang. Lihat saja, saat mereka mendapat karma nanti, aku akan menjadi orang yang pertama kali sujud syukur dan tertawa. Sayangnya mereka tidak punya anak perempuan, kalau punya, aku doakan anak mereka mengalami nasib yang sama denganku."
Mereka bisa merasakan kebencian remaja itu yang semakin besar.
"Kalau nanti aku punya anak, aku tidak akan pernah memaksanya menikah muda, apalagi menjodohkannya. Aku akan mendukung apa yang menjadi cita-citanya."
"Ternyata hidupku lebih beruntung dari pada kamu, Ya. Orang tuaku memang sibuk kerja, tapi setidaknya mereka tidak menyuruhku menikah."
Nania merangkul pundak Freya. Ketiga remaja itu memainkan kaki mereka di dalam kolam renang.
"Rencana kamu gimana, Ya?"
"Tunggu sampai umurku 18 tahun, setelah itu aku bebas dari mereka. Saat ini mereka bisa mengekangku karena umurku masih 16 tahun."
"Kamu jadi kuliah di luar negeri?"
"Jadi dong, aku udah nyiapin diri dari kecil, mana mungkin aku melepasnya begitu saja."
"Terus mereka?"
"Bodo amat. Lagi pula, siapa tahu saja kan aku dapat jodoh cowok bule, kaya yang kita lihat di Bali waktu itu."
Mereka bertiga tertawa mengingat bule-bule yang mereka foto saat di Bali dulu.
"Aku juga mau deh kuliah di luar negeri."
"Aku juga."
Marcell mendengkus mendengar pembicaraan tentang cowok bule.
Produk lokal juga bagus, kali.
Vian dan Ikmal melihat wajah Arby yang terlihat biasa-biasa saja.
"Ngomong-ngomong, Mico enggak pernah sekolah?"
"Belum pernah lihat, Ya."
πΏπΏπΏ
Asap rokok mengepul di hadapan Freya. Sudah cukup lama dia tidak menikmati rokok dan bir, menikmati kebebasannya. Sesekali matanya melirik ruang kosong yang ada di sebelahnya, yang biasanya diisi oleh Mico saat mereka menikmati aktifitas mereka saat menjadi anak nakal.
Bel masuk berbunyi, Freya menginjak puntung rokok dan memakan permen mint, lalu mengusapkan minyak telon di leher dan tangannya.
πΏπΏπΏ
Dia seperti berada di dalam ruang putih, seseorang memegang jarum suntik. Dia juga melihat darah, pisau, pecahan kaca, juga selang infus.
Terdengar jeritan
Seperti ada sesuatu yang berputar di hadapannya, matanya terus menatap benda itu, bersamaan dengan bisikan-bisikan yang dia tidak ingat apa.
Tik
Tok
Tik
Tok
Apa itu jam?
Ada suara laki-laki dan perempuan, Freya tidak bisa melihat wajah mereka.
"Ini tanggal berapa?"
Kenapa?
Kenapa mereka menanyakan tanggal kepadanya?
"Kamu baik-baik saja, Freya?"
Apanya yang baik-baik saja?
Tidak, aku tidak baik-baik saja.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Sa ... sakit."
Entah itu gumamam, atau memang Freya menjawabnya.
"Bangun Freya!"
Seketika Freya terbangun, dia melihat sekitarnya, ternyata ini adalah kamarnya. Tidak ada siapa-siapa di sini. Freya menyeka keringatnya. Dia lalu mengambil obat dari dalam tasnya.
π»π»π»
Perusahaan Zanuar milik keluarga Freya sedang mengalami masalah. Uang milyaran rupiah menghilang begitu saja tanpa jejak. Tidak hanya itu, data-data perusahaan juga dibobol. Namun data tersebut tidak samoainke tangan lawan. Sepertinya pelakunya ingin menekan agar perusahaan Zanuar kelabakan tanpa bisa menebak siapa pelakunya.
"Jangan khawatir, kita sudah menjadi keluarga, aku pasti membantumu."
Arlan menyeruput kopi di ruangan Wildan.
"Sepertinya pelakunya ingin menjatuhkan perusahaanku secara perlahan. Mereka tidak menginginkan data-data itu secara langsung."
"Apa kamu punya musuh?"
"Setiap pengusaha pasti punya musuh, Lan. Kamu juga pasti punya, kan?"
Arlan mengangguk mengiyakan.
"Apa ada yang kamu curigai?"
"Entahlah. Sebelumnya memang beberapa kali perusahaan kehilangan uang, namun tidak terlalu banyak."
"Apa ada karyawan yang kamu curigai?"
"Anak buahku sudah menyelidikinya, namun tidak menemukan apapun. Sepertinya pelakunya seorang hacker yang sangat handal."
"Aku akan mengirim orang untuk membantumu melindungi perusahaan."
"Terima kasih, Lan."
"Jangan khawatir. Sesuai janjiku, aku akan selalu membantumu setelah Freya menjadi menantuku."
"Kalau saja Freya tidak keguguran, kita pasti akan segera menjadi kakek. Aku berharap memiliki cucu laki-laki, karena anakku perempuan semua."
"Aku justru berharap memiliki cucu perempuan."
"Aku harap pernikahan Arby dan Freya terus berlanjut."
"Aku pun berharap seperti itu."
"Bagaimana Arby di perusahaan?"
"Dia banyak mengalami kemajuan. Sebentar lagi dia akan lulus SMA, aku berniat menjadikannya pimpinan di salah satu anak cabang, sebelum dia menjadi CEO untuk kantor pusat."