
"Kamu jangan macam-macam Arby, kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Freya padamu?"
"Iya, mi."
"Seharusnya kamu bisa mengambil hati Freya, bukan malah bersikap seenaknya. Kamu memang anak semata wayang kami, tapi bukan berarti kami akan membela kamu jika kamu salah."
"Iya ,Pi. Arby ngerti."
"Ya sudah, instropeksi diri sana. Papi dan mami tidak mau kamu sampai menjadi duda!"
Perilaku Freya di sekolah tadi memang membuat kepala berdenyut-denyut. Gadis yang selama ini selalu bersikap hormat pada orang yang lebih tua, apalagi guru, kini menjadi angkuh. Bahkan tanpa rasa takut, Freya menentang dan menantang kepala sekolah.
Jika saja kepala sekolah itu bukan kerabat mereka, sudah pasti kedua orang tua Arby dan Freya akan benar-benar malu. Bahkan mereka juga harus menanggung malu di hadapan orang tua murid lainnya, meskipun mereka memang saling kenal.
Si tersangka yang membuat orang-orang darah tinggi kini menikmati mie rebus dengan irisan cabe rawit yang banyak di rumah kontrakannya yang kecil, tempat dia selama ini selalu melarikan diri saat rasa kesal, sunyi, hampa dan persoalan lainnya.
Selesai makan, dia membuka laptopnya, melakukan beberapa hal yang bisa mengisi rekeningnya dengan rupiah yang cukup besar. Jari lentiknya terampil di keyboard itu.
Tidak lama kemudian, dia memeriksa saldo yang ada di rekeningnya dengan wajah puas.
Seharusnya sejak lama aku melakukan ini. Ck, sudahlah, tak ada kata terlambat.
Selama satu minggu ini Freya menghilang dari peredaran. Tidak ada di rumah Arby, apalagi di rumah orang tuanya. Ponselnya kembali tidak dapat dihubungi bahkan dilacak, benar-benar membuat orang pusing.
Desas desus tentang ketidak hadiran Freya dan Nuna selama satu minggu ini menjadi perbincangan hangat. Bahkan Arby sempat tidak sekolah selama tiga hari, membuat gosip yang sebelumnya beredar tentang cinta segitiga kembali mencuat ke permukaan.
Nania merasa sepi tanpa kehadiran Freya, bahkan sesekali dia ikut bolos karena merasa bosan. Sejak persahabatan mereka rusak, suasana sekokah menjadi tidak nyaman lagi.
Hubungan Nania dengan Aruna juga tidak baik, padahal bukan mereka yang bermasalah secara langsung.
🌿🌿🌿
Ini adalah hari pertama Freya dan Nuna kembali ke sekolah. Keduanya berpapasan di lapangan namun saling memalingkan muka.
Nania berjingkrak kegirangan saat Freya memasuki kelas.
"Ke mana saja sih, susah banget dihubungi?"
"Menikmati hidup, dong."
Ya, untuk yang pertama kalinya Freya menikmati masa-masa menjadi murid tak teladan, dan sepertinya ... dia ketagihan.
Yah, hidup memang harus dinikmati. Untuk apa memikirkan masalah yang bukan aku menjadi penyebabnya. Enjoy my life and welcome to my paradise.
Bel masuk berbunyi, pelajaran pertama matematika. Pak Nurdan mulai menuliskan rumus-rumus di papan tulis, membuat mata Freya mulai mengantuk.
"Freya!"
Freya terbangun dari tidurnya, menatap pak Nurdan yang merasa heran dengan sikapnya. Semua guru memang sudah tahu pertengkaran antara tiga murid tersebut meskipun hanya kepala sekolah dan guru BK saja yang tahu penyebabnya.
"Kamu sakit?"
"Saya hanya kelehahan, Pak. Kebanyakan baca buku."
"Coba kamu kerjakan soal di papan tulis itu!"
Dengan langkah gontai, Freya mulai ke depan untuk menjawabnya. Tidak membutuhkan waktu lama, soal itu dapat diselesaikan dengan baik, membuat pak Nurdan dan teman-teman sekelasnya berdecak kagum, padahal ini adalah pelajaran minggu lalu dimana Freya diskors, namun gadis itu bisa menjawab dengan benar dalam waktu singkat. Sepertinya hidup Freya memang untuk belajar.
"Boleh saya ke ruang UKS, pak?"
"Silahkan."
🌸🌸🌸
Makan malam keluarga di rumah keluarga Arby. Kedua orang tua dan kakak adik Freya duduk sambil melihat Freya yang terlihat tenang nyaris tanpa ekpresi.
Freya mengangguk.
"Kak, aku kangen."
Vanya berkata takut-takut, kakaknya yang nomor dua ini memang sering membuat masalah sejak tahu dia dijodohkan dengan Arby.
"Kapan-kapan ayo kita ke mall. Oya, sebentar lagi kan kamu ulang tahun, mau hadiah apa?" tanya Freya pada Vanya.
"Kakak ingat ulang tahun aku?"
"Ingat, dong. Yang namanya keluarga seharusnya saling mengingat dan memperhatikan, bukannya bersikap acuh dan tak tahu apa-apa."
Antara sindiran dan ungkapan perasaan, nyatanya sama saja saat Freya yang mengatakannya.
Ami meletakkan lauk dan sayur ke piring Freya. Gadis itu tidak menolak, dia tetap makan dengan tenang.
"Freya, tolong jangan bertengkar lagi, ya. Mama takut orang-orang akan berpikir jelek tentang kamu."
"Ya, tenang saja. Aku tidak akan bertengkar lagi dengan siapapun, meski telah diselingkuhi ratusan kali."
Arby tersedak, sepertinya kali ini dia yang kena sasaran.
"Freya, tenang saja. Jika Arby mengkhianatimu, papi tidak akan lagi menganggapnya sebagai anak papi, dan tidak akan mewarisi apapun padanya. Bagi kamu, kamu adalah menantu satu-satunya. Tidak akan kami biarkan orang ketiga merusak pernikahan kalian, jadi jangan ada perceraian."
Jangan ada perceraian
Jangan ada perceraian
Jangan ada perceraian
Kata-kata yang terus terngiang-ngiang di telinga dan pikiran Freya.
Tetapkah tidak akan ada perceraian meski hidupnya tak bahagia?
Tenang saja Freya, meski bukan mereka yang membuatmu bahagia, maka carilah kebahagiaan dengan caramu sendiri!
Kalimat yang akhir-akhir ini selalu dia tanam dan pupuk di pikiran dan hatinya, bahkan di bawah alam sadarnya.
🌹🌹🌹
Freya melangkah keluar kelas setelah tadi meminta izin kepada guru Kimia untuk ke UKS.
Sementara itu di ruang kepala sekolah, kedua orang tua Arby dan Freya sedang berdiskusi secara serius.
Guru-guru yang mengajar Freya mengatakan bahwa Freya sering tidak menjawab soal-soal ulangan, tapi dia masih mengumpulkan pekerjaan rumah.
"Coba kita panggil Arby saja."
Sepuluh menit kemudian Arby masuk, tanpa menunggu waktu lama, mereka langsung menanyakan hal ini pada Arby.
"Apa kamu melihat ada yang berbeda dari sikap Freya? Kalau di kamar, Freya belajar tidak? Jam berapa biasanya dia tidur?"
Arby tidak langsung menjawab. Biasanya dia berada di kamar ya hanya untuk tidur saja, dan mandi. Namun yang dia tahu, Freya selalu membaca buku pelajarannya dan tidak pernah tidur larut malam.
"Mungkin dia sedang merasa jenuh dengan kegiatan belajar mengajar."
"Sekarang di mana Freya?"
"Lagi di ruang UKS."
Mereka langsung ke ruang UKS dan mendapati Freya yang tidur sambil memegang ponsel. Mereka melihat ponsel yang sedang memutar video rekaman guru yang mengajar di kelas. Sepertinya gadis ini tidak benar-benar lupa akan pelajaran. Ya, mungkin saja Freya sedang mengalami masa-masa di mana seorang murid merasa tertekan dengan pelajarannya, di mana dia akan merasa jenuh.
Wajar saja, Freya yang sangat ingin kuliah di luar negeri memaksakan dirinya membaca banyak buku, meskipun dia merasa senang dan baik-baik saja, namun seperti balon, semakin ditiup, maka akan semakin besar namun juga meletus dengan tiba-tiba.