
Sejak tadi Nuna merasa kesal karena Arby tidak dapat dihubungi. Dia sudah datang jauh-jauh dari Jakarta sejak pagi buta, mana boleh gagal bertemu dengannya.
.
.
.
Freya sibuk mengolah bahan makanan dari buah dan sayur. Nania merekamnya menggunakan kamera ponsel, sedangkan Aruna berperan sebagai pembawa acara.
Keempat pria itu melihat mereka sambil menggelengkan kepala. Ketiga gadis itu terlihat seperti berlibur, bukan sebagai orang yang akan melakukan terapi dan pendampingnya. Mungkin memang ini yang diinginkan oleh Surya, suasana yang menyenangkan dan orang-orang yang dapat mengerti Freya juga bisa menjadi motivasi dalam proses penyembuhan.
Di vila ini sudah disiapkan ruangan-ruangan khusus untuk mereka. Satu ruangan untuk kelas online, satu ruangan untuk ruangan konseling Freya, lalu ruangan gym, teater, perpustakaan, bahkan ada ruangan untuk ibadah berjamaah.
Di dalam kamar, masing-masing memiliki lemari baju dan meja belajar agar tidak sempit meletakkan barang-barang mereka, karena di sana tidak hanya untuk sehari dua hari atau seminggu dua minggu saja, tapi berbulan-bulan.
Untuk Nania, Aruna, Marcell, Vian dan Ikmal, mereka sudah mendapat izin dari orang tua mereka, tentu saja dengan pengaruh yang dimiliki oleh Arlan dan Wildan.
Untuk sementara ini, kedua orang tua Arby dan keluarga Freya akan mendampingi mereka. Kakak dan adik Freya juga ikut, dan saat ini keduanya ada di ruang musik.
Mereka semua sedang menikmati kue-kue yang dibuat Freya.
Wildan, Ami, Anya dan Vanya tidak menyangka bahwa Freya bisa masak, termasuk membuat kue, bahkan sangat enak. Bahkan Freya juga yang memasak untuk makan siang. Rasanya dia sangat senang bisa memasak tanpa harus ngumpet-ngumpet seperti yang dia lakukan dulu kecuali di kontrakan kecilnya. Di sini ada banyak dokter yang akan membelanya.
Arby teringat dengan kue-kue buatan Freya yang dulu dia buang saat Freya membuatnya untuk dijual.
"Nih, minuman buat kalian. Tadi Freya nyiptain menu baru lagi."
"Tumben kamu mau anter ke kita?" tanya Marcell pada Nania.
"Kalau tidak mau ya sudah, aku bisa bawa lagi. Nanti aku bilang pada Freya kalau kalian tidak mau."
Nania langsung mengambil lagi keemlat jus itu.
"Eh tunggu, kata siapa kami tidak mau," Marcell langsung mengambil jus itu.
Nania mendengkus, lalu kembali masuk ke dalam.
Keempat pria itu langsung meminum jus berwarna hijau yang terlihat sangat segar dan menggugah selera itu, sangat cocok diminum siang-siang seperti ini.
Gluk gluk gluk gluk
Tidak lama kemudian
Byurrrr
Uhuk uhuk
Cuih cuih
Huekk hueekk
"Anjirrrrr ...."
Ahahahahaha ahahaha
Terdengar tawa dari tiga gadis itu. Mereka melakukan tos sambil memegangi perut mereka karena tidak dapat menahan tawa hingga mengeluarkan air mata.
Resep jus buatan Freya:
Paprika merah kuning hijau (masing-masing satu yang berukuran paling besar) + berbagai jenis cabe (masing-masing cukup dua namun berukuran paling besar, agar tidak over dosis) + jeruk nipis dan jeruk purut beserta kulit dan bijinya (empat buah) + pare (dua buah) + belimbing wuluh (sepuluh buah) pastikan semuanya halus lalu saring agar biji cabe tidak teridentifikasi dan masukkan es batu.
Note: tanpa pemanis, karena yang alami itu lebih sehat dan nikmat.
Beri hiasan seperti potongan lemon dan daun mint dan kayu manis.
"Freyaaaaa!"
"Ini buatan Freya apa Nania sih? Atau Aruna?"
"Sama saja, mereka memang punya dendam pribadi sama kita!"
"Aku yakin ini buatan Freya, karena dendamnya pada Arby setinggi tata surya, seluas angkasa, sedalam lapisan bumi!"
Efek yang terjadi sangat cepat, mereka langsung lari terbirit-birit mencari kamar mandi. Untung saja vila ini sangat besar, jadi kamar mandinya juga banyak sehingga mereka tidak perlu berebutan.
Arby memasuki kamar Freya cs
Marcell memasuki kamar Arby cs
Vian memasuki kamar mandi di dekat dapur
Ikmal memasuki kamar mandi di dekat kolam renang.
Padahal di beberapa kamar, termasuk kamar Freya dan Arby memiliki dua kamar mandi agar tidak ada yang berebutan.
"Mampus!"
"Rasai tuh, jus tornado buatan Yang Mulia Ratu Freya."
Kembali mereka tertawa.
Sore harinya, Freya berjalan-jalan sendiri. Di kejauhan dia melihat Arby dan Nuna. Freya melangkah dengan pelan dan mengambil ponselnya untuk memfoto mereka, setelah itu dia melanjutkan acara jalan-jalannya.
Di vila, Nania dan Aruna baru saja bangun, sedangkan Vian, Ikmal dan Marcell sudah berkali-kali mengunjungi kamar mandi dan bersemedi cukup lama di sana.
"Freya kemana, Nan?"
"Mana aku tahu, kita kan sama-sama baru bangun tidur. Jalan-jalan mungkin. Ayo kita mandi, habis itu susulin Freya."
Hampir satu jam kemudian mereka telah siap untuk mencari Freya.
"Cari Freya kemana kita?"
"Hm, kebun teh dulu yuk."
Mereka mulai berjalan ke kebun teh yang sangat luas itu.
"Coba telp!"
Nania menelpn Freya, namun ponselnya tidak aktif.
"Cari aja deh, enggak aktif ponselnya."
Mereka berdua menelusuri jalanan di perkebunan teh itu.
"Eh, itu kaya Nuna deh. Terus siapa tuh yang pingsan?"
Mereka berdua mendekati Nuna dan berteriak.
"Freya!"
Dilihatnya Freya sudah tak sadarkan diri dengan kening berdarah. Baru saja Nuna akan pergi, namun Nania dan Aruna sudah lebih dulu datang dan melihatnya.
Nuna gemetaran, terlihat ketakutan dan gelisah.
"Apa yang kamu lakukan pada Freya?"
"Enggak aku apa-apain, kok."
"Run, telepon siapa gitu, suruh datang ke sini."
"Aku mana punya nomor ponsel mereka. Ponsel kamu mana?"
"Aku juga mana sudi nyimpan nomor ponsel mereka."
"Ya sudah kamu tunggu di sini, aku ke vila dulu."
Entah karena panik atau memang tidak ingin, mereka tidak mau bertanya pada Nuna.
Nomor ponselnya Marcell memang sudah lama diblokir oleh Nania, sedangkan nomor ponsel Arby, selalu dia hapus jika pria itu selesai menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Freya dulu.
Aruna berlari sekencang mungkin agar segera tiba di vila.
"Tolong!"
Suara teriakan Aruna terdengar dari kejauahan.
"Kaya ada yang minta tolong, ya?"
"Jangan-jangan mbak Kunti, ini kan sudah mau magrib."
Marcell dan Vian saling pandang, lalu buru-buru masuk ke dalam vila.
Teriakan minta tolong kembali terdengar, kali ini Ikmal yang mendengarnya.
"Itu suara minta tolong bukan, sih?"
Ikmal kembali mendengarkan suara itu.
"Itu suara Aruna, deh."
Mereka lalu bergegas keluar.
"Kenapa Run?" tanya Ikmal.
"Freya pingsan."
Arby yang baru saja turun melihat wajah dan baju Aruna yang basah karena keringat.
"Ar, Freya pingsan."
"Kok bisa?"
"Tadi ada pangeran yang jatuh dari langit," Aruna ngasal menjawab pertanyaan Vian.
Tadi memang Arby meninggalkan Nuna karena perutnya kembali bergejolak akibat minuman granat buatan Freya.