
Sudah dua bulan Freya koma. Wildan dan Ami sibuk mengurus Freya, sedangkan Anya dan Vanya dititipkan kepada kakek neneknya.
"Arlan, bolehkah aku meminta tolong padamu?"
"Katakan saja, sebisa mungkin aku akan menolongmu."
"Aku dan Ami akan membawa Freya ke Jerman. Tapi perusahaan ...."
"Kamu jangan khawatir, aku dan papiku akan menjaga perusahaan. Fokus saja pada Freya."
"Terima kasih, kami tidak ingin kehilangan Freya."
"Kembalilah dengan membawa kabar baik."
Wildan kini mulai sedikit mengerti mengapa papinya selalu mengkhawatirkan tentang penerus. Wildan yang hanya anak tunggal, tidak memiliki saudara yang bisa membantunya mengurus perusahaan.
Di saat seperti ini, di saat pikirannya harus terbagi antara keluarga dan perusahaan, dia sadar bahwa memiliki penerus yang bisa menangani perusahaan sangatlah penting, dan semua itu telah dibebankan kepada Freya sejak dirinya baru lahir.
Nuna yang mendengar kabar tentang Freya dari Arby yang tahu dari kakek dan papinya, merasa terpuruk. Dia merasa separuh hidupnya hilang. Bukannya lebay, namun Freya lah penyemangatnya, sahabatnya, orang yang bisa mengerti dia, seseorang yang tidak mengucilkannya dan selalu menyemangatinya, terutama di saat orang tuanya telah berpisah dan mamanya menikah lagi dengan suami orang.
Kini di sekolah itu hanya tinggal mereka bertiga yang selalu duduk di bawah pohon rindang taman belakang sekolah.
Arby sendiri selama dua bulan Freya koma, hanya bisa membesuknya tak sampai tiga menit setiap kali datang.
Freya dibawa ke Jerman tanpa sempat mereka berpamitan.
Dan Freya tak pernah lagi mereka lihat. Kabarnya hanya didapat oleh Arby dari kakek dan papinya saja.
Jerman, 7 bulan kemudian
Mata gadis kecil itu perlahan terbuka. Pandangan matanya masih kabur, namun indra penciumannya bisa mencium aroma obat-obatan bercampur pembersih lantai.
.
.
.
Dokter menanyakan apa yang Freya rasakan, namun tidak ada respon sedikit pun.
Akhirnya Freya mengeluarkan suaranya.
"A ... aku siapa? Kalian siapa?"
Mereka saling memandang, lalu dokter mencoba melakukan tes.
"Nona, siapa nama Anda?"
Tak ada jawaban.
"Berapa umur kamu?"
Tetap tak ada jawaban.
"Siapa nama orang tua kamu?"
Freya berpikir, tidak ada satu pun jawaban yang dia tahu, membuat kepalanya kesakitan.
"Tenanglah, jangan berpikir terlalu keras. Semuanya akan baik-baik saja."
Dokter akhirnya menarik kesimpulan bahwa Freya mengalami amnesia.
Tidak ada satu pun yang dia ingat tentang dirinya.
Setiap kali diingatkan akan masa lalunya, Freya akan kesakitan, bahkan berhadapan dengan orang tuanya saja Freya merasa sakit.
Dokter menyatakan bahwa ini diakibatkan oleh benturan keras di kepalanya yang menyeabkan trauma. Freya mengalami amnesia permanen, dan tidak boleh memaksakan dia untuk mengingat semuanya atau akan berakibat buruk.
Saat kakak dan adiknya datang, dia juga akan merasa sakit kepala yang luar biasa.
Freya melupakan semuanya.
Oppa omma
Papa mama
Kakak adik
Kakek nenek
Sahabat-sahabatnya
Termasuk janji dia dan Nuna
Butuh waktu untuk membuat Freya terbiasa akan kehadiran keluarganya, itu pun mereka tidak boleh terlalu memaksakan diri.
Beberapa bulan kemudian, mereka pindah ke Indonesia. Tidak bisa lagi tinggal di Singapura yang akan menyebabkan trauma di kepala Freya.
Kepindahan Freya ke Jakarta di dengar oleh Arby, Ikmal dan Nuna.
Mereka ikut pindah ke Jakarta.
Freya akhirnya tetap berada di kelas enam, karena menurut dokter, itu lebih baik dari pada membuat dia berpikir terlalu banyak mengenai pelajaran anak SMP. Sedangkan perusahaan yang tadinya kantor pusatnya di Singapura, dipindahkan ke Jakarta dan kantor-kantor yang ada di luar negeri tetap seperti biasanya.
Sedangkan Nuna lebih memilih home schooling.
Jakarta
Freya mamasuki kelas. Tinggal enam bulan lagi akan kenaikan kelas, namun dia tetap bisa masuk ke sekolahan barunya ini.
Nania melihat murid baru yang baru saja mengenalkan dirinya. Nania memberikan isyarat agar Freya mau duduk di sebelahnya.
sikap Nania yang ceria membuat dia dan Freya menjadi dekat. Freya yang merasa asing tentang segalanya, semakin membuat dirinya dingin. Dia semakin cuek tentang sekitarnya.
Saatnya masuk SMP
Dua murid baru itu memasuki gerbang SMP.
Freya dan Nania, wajah cantik mereka menyita perhatian banyak murid, terutama para kaum adam.
"Itu Freya!"
Arby dan Ikmal, melihat murid baru yang selama dua tahun ini tidak mereka lihat. Jantung mereka berdetak kencang. Mereka sudah tahu bahwa Freya menalami amnesia dan tidak mengingat apapun.
Ada keinginan untuk medekati Freya, namin khawatir kalau kehadiran mereka akan membuat Freya sakit.
"Lagi lihat apa, sih?" tanya Marcell, kemudian Vian pun ikut memandangi apa yang sejak tadi Arby dan Ikmal lihat.
"Wuih, cantik-cantik banget."
Di kegiatan MOS ini, Freya dan Nania berkenalan dengan Aruna yang satu kelompok dengan mereka.
Arby, Ikmal, Marcell dan Vian yang menjadi anggota osis mulai mendekati ketiganya dengan niat masing-masing.
Nania dengan senyum cerahnya menatap empat seniornya itu.
Freya dengan tatapan cueknya.
Aruna dengan sikap kalemnya.
Arby dan Ikmal menunduk, membaca situasi harus bersikap seperti apa, akhirnya mereka berdua lebih banyak diam, yang akhirnya sikap tersebut keterusan hingga kemudian hari.
Selama masa MOS, empat cowok itu terus merecoki ketiganya.
Mulai belajar aktif
Freya, Nania dan Aruna sekelas.
"Kita kedatangan murid baru ya. Ayo perkenalkan diri kamu."
"Nuna."
Perkenalan yang singkat, padat dan jelas.
Nuna selalu menundukkan kepalanya, bukannya dia takut. Dia hanya bingung menghadapi Freya, takut menangis dan meluapkan emosinya, memeluk atau mencubit gemas wajah imut Freya.
Jam istirahat
Freya memandangi Nuna yang sejak tadi tak beranjak dari duduknya.
"Hai, aku Freya."
Freya mengarahkan tangannya, namun tak langsung disambut oleh Nuna.
Ada desiran halus di hati Nuna.
Hal yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.
Saat kelas dua SD, saat pertama kali mereka bertemu, Freya lah orang yang pertama kali mengajaknya berkenalan.
Masih orang yang sama, yang peduli padanya. Ada perasaan bahagia bahwa Freya masih peduli padanya meskipun tak lagi mengingatnya sedikit pun. Perasaan sedih itu kini sedikit terobati.
Tak apa jika aku harus mengulangnya dari awal lagi. Yang penting kita masih tetap bersama. Ayo kita sama-sama memulai hidup baru.
"Nuna."
"Aku Nania."
"Aku Aruna."
Mirip lagi seperti dulu. Jika dulu dia bisa kenal dengsn Arby dan Ikmal karena Freya, kini karena Freya dia bisa berteman dengan Nania dan Aruna.
Ada air yang menggenang di sudut mata Nuna.
"Ayo ke kantin, nanti keburu masuk. Aku sudah lapar banget," ajak Nania.
Keempat gadis itu berjalan beriringan menuju kantin.
Empat cewek dengan kepribadian yang berbeda, yang membuat mereka saling melengkapi dan menambah warna.
"Wuih, sekarang jadi berempat, nih," seru Marcell.
Arby, Ikmal dan Vian melihat apa yang Marcell lihat. Seketika itu juga Arby dan Ikmal menyemburkan minuman dari mulut mereka.
Nuna?