
Dua anak laki-laki, sedang memperhatikan dua anak perempuan yang duduk di bawah pohon menikmati bekal makan siang mereka yang dibawa dari rumah.
Gadis yang satu selalu terlihat sedih, sedangkan yang satu lagi selalu terlihat cuek dengan sekitarnya.
"Nuna, kenapa kamu selalu sedih?"
Nuna diam saja, merasa malu menceritakan pada teman kecilnya itu.
"Cerita saja, aku bisa pegang rahasia, kok."
Lagi pula Freya mau cerita pada siapa? Dia sendiri juga tidak punya teman. Tidak mungkin menceritakan masalah temannya itu pada papa mamanya yang sibuk kerja, apalagi pada oppa omma. Sudah pasti dia akan dimarahi karena hal-hal yang menurut mereka tidak penting (jangan mengurusi urusan orang lain). Pada kakek neneknya juga tidak mungkin, kan, karena mereka hanya peduli pada Anya, kakaknya.
Nuna berpikir sejenak, mungkin ada baiknya berbagi keluh pada teman barunya itu.
"Aku tidak suka pada mama. Dia selalu pulang malam dan bertengkar pada papa. Mama tidak pernah menyayangiku."
"Sudah, jangan sedih lagi. Papa dan mamaku juga sibuk kerja. Kakek dan nenek hanya sayang pada kak Anya, sedangkan omma oppa selalu menyuruhku belajar."
"Mereka lagi ngomongin apa, sih?" tanya Ikmal.
"Mana aku tahu."
Di kantor Arlan
"Pi, bisa tidak papi jangan terlalu menuntut banyak hal pada Freya. Kasihan dia masih kecil, dia butuh bermain dengan teman-temannya."
"Papi hanya ingin yang terbaik pada Freya, juga pada keluarga kita. Papi tidak ingin dia salah dalam memilih teman, yang hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Hanya Freya harapan papi, sedangkan Anya sebagai anak pertama, sama sekali tidak menunjukkan minat pada bisnis. Siapa nanti yang akan mengurus perusahaan dan membantu kamu saat papi sudah pensiun bahkan meninggal?"
Wildan tidak menjawab, karena apa yang dikatakan oleh papinya ada benarnya juga.
"Cari menantu pun harus jelas bibit bebet bobotnya. Jangan sampai ada yang menipu Anya dan Freya. Mereka itu perempuan, mainnya hati bukan logika, kalau sudah jatuh cinta pada orang yang salah, bisa fatal akibatnya."
"Mertua kamu juga sih, kenapa anak sekecil itu (Anya) malah dibiarkan jadi model. Dikit-dikit dandan, dikit-dikit ngaca, dikit-dikit ganti baju. Bilang sama mereka, jangan sampai Anya terjerumus oleh pergaulan bebas karena mereka yang terlalu memanjakannya."
Wildan jadi serba salah. Dia yang punya anak, tapi orang tua dan mertuanya yang menguasai anak-anaknya. Dia dan istrinya seperti pabrik anak saja yang fungsinya hanya memproduksi, tanpa mendapat kesempatan untuk membesarkan dengan cara mereka sendiri.
Di balik pintu itu, ada Ami yang mendengarkan. Dia mengusap perutnya, berharap apapun jenis kelamin anaknya nanti, akan memberikannyang terbaik untuk keluarga kedua belah pihak.
Dia tidak dapat menyalahkan atau membenarkan sikap kedua orang tuanya dan mertuanya. Mereka dama-sama menyayangi cucu-cucunya dengan cara yang berbeda, meskipun Anya dan Freya mendapat perlakuan yang berbeda karena minat yang telah mereka tunjukkan sejak kecil.
De, nanti kamu akan mengikuti siapa?
Ami mengusap perutnya dan berbicara dalam hati.
.
.
.
Tibalah saat Ami melahirkan anak ketiganya.
Vanya!
Bayi perempuan itu diberi nama Vanya, yang nantinya akan membuat Freya iri dan merasa dibeda-bedakan karena namanya saja yang jauh berbeda dari Anya dan Vanya.
.
.
.
"Kamu kenapa, Ya?"
"Adikku lahir, papa dan mama sibuk dengan dede bayi."
Arby dan Ikmal mendatangi mereka dengan membawa bekal makanan yang dikemas dengan bagus, membuat mata Freya berbinar.
"Kalian mau?"
Freya dan Nuna menggeleng, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Susah banget ngedeketin mereka."
Saat pesta ulang tahun perusahaan kakek Arby
Freya diajak oleh kakeknya untuk menemani ke pesta ulang tahun tersebut. Anak yang masih berumur lima tahun itu sudah mengeluarkan aura pemimpinnya.
"Terlihat akan jadi orang sukses, ya."
"Ingin sekali aku jodohkan dengan cucuku."
Bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Arlan dan papanya, juga di telinga Damian. Damian semakin bangga dengan Freya, calon penerusnya.
Seperti biasa, Freya mampu menyerap dengan baik apa yang dia dengar meskipun tidak membaca dan belum mempraktekkannya. Daya ingatnya sangat baik, baik melalui pendengaran maupun penglihatan.
Freya menuju meja saji, matanya selalu berbinar melihat makanan yang dihias dengan sangat cantik.
"Hai, Eya."
"Eya? Siapa Eya?"
"Ya kamu, dong."
"Namaku Freya, bukan Eya."
Dulu aku panggil Eya, enggak apa-apa.
"Arby! Loh, ada Freya juga?"
Freya menatap datar Elya, sedangkan Elya mencubit gemas pipi chuby Freya.
"Ayo, Arby dan Freya duduk di sini ya. Jangan ke mana-mana. Nanti biar pelayan yang membawakan makanan dan minuman untuk kalian."
Tidak lama kemudian Ikmal datang menghampiri mereka dengan membawa es krim.
"Kamu mau?" tanya Ikmal.
Freya menunduk, sebenarnya dia sangat ingin, tapi takut ketahuan oleh oppanya.
Arby langsung mengambil es krim dari Ikmal dan memberikannya kepada Freya. Akhirnya Freya memakan es krim itu dengan ngumpet-ngumpet.
Dalam hal makanan dan minuman, oppa omma juga nenek kakeknya sangat kompak. Mereka sepakat bahwa Anya dan Freya tidak boleh makan dan minum sembarangan, terutama Anya. Kakek dan neneknya melarang Anya makan minum sembarangan untuk menjaga bentuk tubuhnya. Tentu saja jika ingin menjadi model internasional, bentuk tubuh harus dijaga sejak dini, tidak bisa hanya diet sebulan dua bulan langsung terbentuk tubuh yang ideal.
Keesokan harinya, Ikmal dan Arby kembali membawa bekal yang menggoyahkan benteng Freya.
Akhirnya Freya mau memakan bekal mereka, yang juga ikut dinikmati oleh Nuna.
"Besok mau kami bawakan apa lagi?" tanya Arby.
"Aku mau kue lupis," jawab Freya.
"Apa itu kue lupis?"
"Mana aku tahu, aku hanya pernah mendengarnya dari salah satu asisten rumah tangga."
Freya memang tidak pernah makan makanan tradisional dari Indonesia. Dia mendengar nama kue itu dari asisten rumah tangga yang berasal dari Indonesia.
Menu yang disajikan dalam rumahnya memang seperti menu yang ada di restoran. Steak, tomyam, sushi, spageti, salad, sandwich dan sebagainya yang dia sendiri sebenarnya sudah bosan.
Pulang dari sekolah dia akan makan siang lalu tidur sebentar, selanjutnya akan ikut bermain golf, catur, memantau kelonjakan harga saham, atau kegiatan lainnya yang sudah di atur oleh oppanya.
Hari Jumat sore, dia akan ikut neneknya arisan kaum sosialita yang rata-rata anggotanya adalah para dokter dari berbagai bidang. Jadi dia juga sangat paham dengan dunia kesehatan tanpa harus membaca buku, hanya tinggal mempraktekkannya saja nanti saat dia sudah jado dokter.
Di usianya yang masih lima tahun, Freya sudah merasa jenuh.
Dia ingin tidur memeluk boneka, bukan memeluk buku.
Dia ingin pergi ke pantai, bukan ke perpustakaan.
Dia ingin bermain ayunan, bukan menghitung jumlah kalori yang dibutuhkan oleh manusia.
.
.
.
👉 **Sudah tiga bab loh. Makasih yang sudah mau ninggalin jejak.
👉 Vote, komen, like, hadiah, bintang lima, favorit**