
Deo pulang dengan terburu-buru. Dia menghidari Gara dan Qavi yang ingin main ke rumahnya. Di perjalanan, dia membeli cemilan untuk Yuri, juga buah-buahan.
Kalau seperti ini, aku seperti suami yang membeli makanan untuk istri.
Padahal kan, memang benar.
Matanya melirik jejeran pembalut dengan berbagai merek dan ukuran. Tanpa sadar, dia berdiri di depan barang-barang itu.
Beli?
Enggak?
Beli?
Enggak?
"Kenapa, Bang?" tanya seorang penjaga toko.
"Enggak, saya cuma mau beli itu," tunjuknya.
"Pembalut?"
"Iya, masa perban!"
"Itu untuk perempuan, Bang."
"Emang, masa untuk laki-laki."
"Abang kan laki-laki."
"Kata siapa perempuan?"
"Kenapa beli pembalut?"
"Terus gue harus beli apa, kon*om?"
Penjaga itu mengangguk.
Pluk!
"Aw!" ringis si penjaga. Dia menengok ke belakang, nenek berwajah galak sedang memelototinya.
"Dasar, kamu lihat dong dia itu masih bocah, masih sekolah, malah diajarin yang enggak benar!"
"Habis masa laki beli pembalut, Nek?"
Pluk!
"Aw!"
"Ya memang kenapa kalau laki-laki beli pembalut? Bisa saja kan itu untuk mamanya, adiknya, atau kakaknya."
"Memangnya gak malu?"
Pluk!
"Aw!"
"Yang bikin malu tuh ya yang seperti kamu. Ngajarin yang enggak-enggak."
Nenek itu lalu melihat Deo yang keranjang belanjaanya penuh dengan cemilan. Dia mengusap rambut Deo.
"Anak baik, kamu pasti sayang banget ya sama adik kamu?"
Deo mengangguk cepat.
Iya, gue memang sayang banget sama Beo. Dia kan masa depan gue. Mana masih perjaka ting tong, lagi.
Deo kembali melihat pembalut-pembalit itu, bingung mau memilih yang mana.
Yuri kan doyan yang panjang dan ukurannya paling besar, jadi pilih yang ini saja.
Untung saja Beo panjang dan besar.
"Adik kamu umur berapa?" tanya nenek yang masih terlihat cantik itu.
"Tujuh belas, Nek."
Nenek memperhatikan Deo, yang sepertinya masih muda juga.
"Loh, memang umur kamu berapa?"
"Tujuh belas juga."
"Oh, kalian kembar?"
"Iya, Nek."
"Saya duluan ya, Nek."
"Cuma itu saja belanjanya?"
"Iya, Nek. Ini juga sudah banyak, takut kehabisan uang, masa mau minta sama mama."
"Duh, kamu baik banget, sih. Jadi ingat cucu saya. Nih, kamu tambahin cemilannya, biar saya saja yang bayar."
"Eh, jangan, Nek."
"Sudah, enggak apa-apa. Ini buat cemilan kamu dan adik kamu."
Deo mengambil ilmunya Yuri, pura-pura menolak tapi mau banget.
"Makasih ya, Nek. Semoga rejeki Nenek bertambah dan sehat selalu."
"Aamiin. Ini, ongkos buat kamu."
"Saya jadi merepotkan Nenek."
"Enggak kok. Kamu hati-hati ya, pulangnya. Belajar yang rajin."
"Iya, Nek."
Deo menatap uang dua lembar berwarna merah di tangannya.
Wah, gak sia-sia gue nyolong ilmunya Yuri. Hikmah punya istri kaya Yuri, nih. Alhamdulillah, uang gue utuh. Nambah, malah. Dua ratus ribu kalau gue beliin cilok begah enggak, ya, tuh anak?
Tin tin
Suara mobil yang dibuka secara otomatis. Entah apa yang akan dikatakan nenek tadi jika tahu Deo menaiki mobil sport berwarna merah itu. Mungkin dia akan merasa ditipu oleh ABG ganteng.
Deo meletakkan tiga kantong belanjaan di kursi belakang. Cemilan sebanyak itu, tapi kalau Yuri yang makan paling besok juga sudah habis.
Sering-sering aja dah, gue ketemu sama nenek kaya gitu. Lumayan pengiritan. Muka anak baik-baik ya gini, rejekinya lancar.
Sesampainya di rumah Yuri, Deo langsung masuk. Dia melihat Ara yang berbicara dengan seseorang. Saat ingin menyapa, dia melihat bahwa tamu mertuanya adalah nenek polos tadi.
Deo langsung berlari ke kamar, mengunci pintu.
"Deo, lo kenapa?"
"Yuri, ayo kita bobo saja. Kalau ada yang manggil, diam saja. Jangan turun!"
"Emang kenapa?"
"Dah, jangan banyak nanya. Nih cemilan buat lo."
Tidak lama kemudian, pintu kamar Yuri diketok.
"Yuri? Ayo turun, ada oma datang."
What, oma? Mati aku!