Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
60 Ulang Tahun Nania


"Kamu siapa sih, bukan pacar salah satu dari mereka aja belagu!" seru gadis yang duduk di sebelah Vian.


"Dih, ngapain juga aku mau jadi pacar salah satu dari mereka. Enggak guna banget. Cowok-cowok manja yang mengandalkan harta orang tua, apa sih bagusnya mereka?"


Arby menarik tangan Freya, agar pertengkaran tak berlanjut, namun Freya menghempaskan tangan Arby.


"Enggak usah pegang-pegang deh, tangan kotormu itu bikin aku alergi."


"Heh, belagu amat kamu."


Gadis itu ingin menampar Freya, namun sebelum itu terjadi, Freya memegang tangan Arby dan mengarahkannya ke wajah gadis itu, jadilah Arby yang menampar wajah gadis itu. Gadis yang kena tampar itu meringis, merasa nyut-nyutan di pipinya.


"Udah Frey, jangan buat keributan!"


"Bukan aku, tapi mereka, kenapa kamu malah belain mereka? Kamu memang tidak pernah bisa aku andalkan. Kamu adalah cowok arrogant yang selalu berlindung di balik ketiak papimu. Tanpa orang tuamu kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanyalah pecundang dibalik wajah tampan dan nama baik keluarga!"


Freya meninggalkan mereka dengan gemuruh di dadanya. Seperti itulah Arby, tidak pernah membelanya, tidak pernah mengerti dia.


"Sudah Ar, jangan pedulikan dia," ucap Angel sambil memegang pundak Arby. Arby langsung menepis tangan itu hingga Angel terdorong, untung saja Siska memegangnya hingga Angel tidak jatuh.


.


.


.


Keesokan harinya


Tiga orang gadis sedang merasakan kekesalan masing-masing, hampir karena alasan yang sama.


Freya merasa kesal dengan Arby, bukan karena dia cemburu, tapi merasa muak.


Nania merasa marah dengan Marcell, tadinya dia ingin memberikan kesempatan kedua, tapi sudah dibuat kecewa lagi, dan kemarin saat Freya mengirim video itu padanya, Nania kembali memblokir nomor ponsel Marcell.


Aruna merasa kecewa pada Vian, karena dia juga berbohong padanya.


Tidak lama Nuna datang, dengan raut wajah kesal namun tidak ada yang peduli padanya. Freya melirik Nuna dan sesekali Nuna pun melirik Freya.


.


.


.


Malam ini adalah hari ulang tahun Nania yang ke delapan belas. Ketiga gadis itu merayakannya di sapah satu club malam langganan Freya. Freya menatap iba pada Nania dan Aruna yang terlihat frustasi karena cowok.


"Elah, jangan karena cowok kalian jadi begini, deh. Malu tahu, enggak."


"Dih, siapa juga yang mikirin mereka. Aku ini mau nyobain minum sebagai perayaan bahwa aku sudah 18 tahun," bela Nania.


"Heleh, aku saja yang belum 18 tahun udah pernah minum," jawab Freya santai.


Freya tidak ingin melarang karena dia cukup sadar diri bahwa dirinya pun bukan manusia suci, setidaknya dia tidak pernah menjerumuskan sahabat-sahabatnya. Mau minum atau tidak, itu pilihan mereka sendiri, dan tugasnya adalah menjaga mereka selama berada di club malam ini agar tidak diganggu oleh tangan-tangan nakal cowok mesum.


"Kamu tahu tempat ini dari mana, Ya?"


"Dari Mico. Tuh cowok kemana sih, kangen aku sama dia."


Freya juga sering menanyakan Mico pada pemilik club ini yang merupakan teman Mico, tapi dia pun tak tahu apa-apa soal keberadaan Mico.


Freya menjelaskan kepada mereka tentang berbagai jenis minuman berakhol, agar sahabat-sahabatnya tidak dibodoh-bodohi oleh orang-orang yang ingin menghancurkan mereka, karena hidup ini kejam.


Meskipun umur Freya yang paling muda, tapi pengalaman hidupnya seperti yang paling pengalaman.


Di lain tempat, keempat pemuda juga saling menyalahkan atas kejadian di mall saat itu. Mereka pun menikmati minuman di club malam yang sama namun tak saling mengetahui. Masing-masing berada di ruang private room.


Jika Freya masih sanggup karena sudah terbiasa, lain halnya dengan Nania yang sudah oleng walau hanya minum satu gelas saja. Sedangkan Aruna masih cukup sadar.


"Terus gimana nih, Nania?"


"Nginap aja di rumah aku. Kamu mau nginap di rumah aku juga, Ya?"


"Aku pulang aja deh."


Aruna mengantar Freya lebih dulu, lalu pulang ke rumahnya.


"Jangan ngadu!" ucap Freya kepada satpam yang membuka gerbang.


Freya berjalan dengan sempoyongan, matanya berkunang-kunang. Dia membuka pintu kamar lalu langsung merebahkan dirinya.


Satu jam kemudian Arby pulang diantar oleh Ikmal. Sama seperti Freya, dia pun mengatakan hal yang sama kepada satpamnya.


Sang satpam hanya menggelengkan kepala melihat sikap Freya dan Arby yang sama-sama mabuk.


Arby memasuki kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di kasur.


.


.


.


Freya terbangun dan terkejut saat melihat Arby yang tidur di sampingnya, apalagi mereka tidak mengenakan pakaian sedikitpun. Di lihatnya sekitarnya, ini bukan kamarnya, tapi mantan kamarnya alias kamar Arby.


Freya memukul-mukul kepalanya.


Duh, gimana ini?


Freya langsung berpikir cepat. Ingin ngamuknke Arby, tapi nanti orang-orang jadi tahu, apalagindia juga tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Dia langsung memakai bajunya. Merapihkan bagian kasur yang dia tiduri.


Apa aku pakaikan dia baju, ya? Tapi nanti aku lihat tubuhnya yang polos, dong? Dia kira-kira ingat, enggak ya?


Setelah berpikir, Freya lalu menyiram baju Arby dengan air agar Arby berpikir dia melepas bajunya karena basah, karena Freya dapat mencium bau alkohol di baju Arby, jadi kemungkinan besar Arby juga mabuk tadi malam.


Sial, jangan sampai aku hamil lagi!


Freya langsung ke luar kamar Arby dengan pelan-pelan. Dia memandang pintu kamar Arby dan pintu kamarnya, sepertinya tadi malam dia salah masuk kamar karena mabuk.


Empat puluh lima menit kemudian Arby bangun. Dia bingung melihat keadaannya yang tak memakai baju. Lalu dia melihat bajunya yang basah di lantai.


Apa tadi malam aku mimpi ya?


Dirabanya kasur di sebelahnya yang dingin dan terlihat rapih.


Kalau memang tadi malam aku dan Freya melakukannya, pasti sekarang aku sudah tak bernyawa, kan? Jadi pasti hanya mimpi, tapi berasa beneran.


Sementara itu di kamarnya, Freya sedang merinding setelah melihat sekujur tubuhnya yang penuh dengan kissmark.


Bisa-bisanya dia manfaatin aku saat aku enggak sadar.


Freya mulai menutupi jejak-jejak itu dengan foundation yang sewarna dengan kulitnya.


Jika saja Arby hobi mengaca, pasti dia akan menyadari bahwa di tubuhnya pun penuh dengan kissmark. Namun dia tidak menyadarinya dan langsung memakai kemeja berwarna hitam yang kontras dengan warna kulitnya.


Di ruang makan, Arby sesekali melirik Freya.


Dia kelihatan biasa saja, jadi pasti aku memang mimpi.


Tidak ada yang menyadari bahwa Freya diam-diam juga melirik Arby.


Dia kelihatan biasa saja. Dia lupa atau pura-pura enggak tahu? Cih, minta maaf kek, merasa bersalah kek, atau apa kek. Ya aku lah, Nuna lah, cewek yang di mall lah, semuanya mau diserobot.