
"Kamu enggak apa-apa, Nan?" tanya Nania.
"Enggak, biasa aja."
"Enggak sedih?"
"Hmm, biasa aja."
"Enggak marah?"
"Biasa aja."
"Kamu beneran suka sama Marcell?"
"Biasa aja."
"Biasa aja mulu, jawabnya."
"Tahu nih, Nania. Terus tadi ngapain coba nerima Marcell?"
"Owh, hehehe. Ya sebenarnya aku tuh sebel sama sepupu aku yang tiap kali ke rumah, pasti ngomongnya gitu mulu. Di temak si A, lah. Dideketin si B, lah. Jadian sama si C, lah. Terus tadi pas Marcell nembak, ya aku rekam aja terus aku kirim ke sepupu aku. Memangnya dia doang yang disukai."
"Tapi kan kamu udah putus sama Marcell."
"Yang penting sepupu aku enggak tahu, dan yang mutusin kan aku, bukan dia."
"Benar, enggak boleh cengeng gara-gara cowok kaya gitu." Freya memberikan dua jempolnya.
"Lagian bisa-bisanya mereka ngejadiin kita taruhan. Kalau bukan Nania, pasti salah satu dari kita bertiga."
"Lagian sih kamu, Nan. Gampang banget nerima cowok."
"Lah, kok jadi aku."
"Makanya lain kali tuh, kalau ada cowok yang nembak, jangan langsung diterima. Biar dia berusaha lebih keras lagi."
Ya mungkin seperti itulah ABG, ada cowok cakep yang nemabak langsung girang dan diterima.
"Untung aku enggak suka-suka amat sama dia."
"Iya, jadi enggak sakit hati."
"Pasti mereka jadiin kita target mereka nih. Marcell nembak aku, nanti si Vian kalau enggak nembak Nuna, Aruna, atau kamu, Ya. Behitu jiga dengan Arby dan Ikmal. Kalian dengar sendiri kan tadi Marcell bilang apa?"
Perkataan Nania itu, menimbulkan kekesalan masing-masing dalam diri Freya dan Nuna.
Nuna, yang mengalami broken home atas perilaku mamanya, merasa dirinya benar-benar tak diinginkan (jika dia juga dijadikan bahan taruhan).
Freya, yang kurang kasih sayang, juga merasa seperti itu. Di dalam keluarga, dia tak dianggap, apa bagi cowok-cowok itu dia juga hanya pantas dijadikan bahan taruhan.
Dalam otak Freya semuanya diolah menjadi hal negatif. Dia semakin takn peduli terhadap orang-orang, semakin ketus terhadap cowok.
Masalah antara Nania dan Marcell, yang mungkin sebagian orang menganggap sepele, namun tidak bagi Freya dan Nuna, yang memiliki perasaan yang memiliki perasaan yang sensitif terhadap kepedulian seseorang yang tulus.
Nuna suka ketus terhadap Marcell cs.
Cowok manapun yang mendekati Freya, tak akan dipedulikan olehnya. Bahkan yang tetap ingin mendekatinya, semakin dijauhi oleh Freya.
Selama dua tahun masa-masa SMP itu, perseteruan terus terjadi. Hingga Arby cs lulus SMP dan Freya cs kelas 3, dimulailah masa tenang untuk para guru.
SMA
"Hahaha, kamu ada-ada saja, Lan."
Wildan tidak dapat menghentikan tawanya saat mendengar permintaan sahabatnya itu.
"Aku serius, Wil."
"Tapi mereka itu masih kecil, masih sekolah. Apalagi Freya, umurnya saja masih lima belas tahun."
"Tapi aku sungguh-sungguh, Wil."
Wildan memikirkan apa yang dia dengar dari sahabatnya ini.
Pernikahan
Pernikahan Arby dan Freya.
Enam bulan baru Wildan bisa memberikan keputusannya, dia akan menerima perjodohan ini.
"Bagaimana kalau tiga bulan lagi kita nikahkan mereka, saat liburan kenaikan kelas."
"Tapi Freya masih terlalu muda, Lan. Dia bahkan baru mau enam belas tahun."
"Lalu kenapa? Jamannya kakek nenek kita, orang-orang bahkan menikah setelah lulus SD."
"Tapi ini kan beda."
"Jangan terlalu banyak berpikir."
"Tapi apa Arby setuju? Aku tidak ingin Freya menjadi janda, apalagi di usia muda. Bagaimana kalau nanti Arby memiliki orang yang dia cintai lalu selingkuh dan menyakiti hati Freya?"
"Kamu tenang saja. Arby biar aku yang urus. Kalau sampai dia menyakiti hati Freya bahkan selingkuh, aku akan mencoret dia dari ahli waris. Aku juga akan memindahkan seluruh saham atas namanya menjadi milik Freya."
Wildan masih terus berpikir, apakah dia harus menerima tawaran Arlan.
"Baiklah, aku setuju. Tapi aku mempunyai persyaratan."
"Apa?"
"Arby tidak boleh menyentuh Freya sebelum Freya berusia delapan belas tahun."
"Baiklah, aku setuju."
Akhirnya terjadilah perjanjian pranikah antara Arlan dan Wildan, bukan antara Freya dan Arby.
.
.
.
"Kamu apa-apaan sih, Ar. Papi kan sudah bilang sama kamu, kalau kamu jangan sampai menyentuh Freya dulu. Sekarang papi harus bilang apa sama papanya Freya?"
"Aku khilaf, Pi."
"Sekarang kamu renungkan masalah yang telah kamu lakukan."
Belum ada setengah jam papinya pergi dan memarahinya, kini datang Nuna dengan kemarahan yang lebih besar lagi.
"Dah, jangan marah-marah. Aku khilaf!"
Arby langsung pergi meninggalkan Nuna sebelum mendapat amukan.
"Tunggu Ar, aku belum bicara apa-apa sama kamu!"
Namun Arby tak meresponnya, kepalanya sudah sangat sakit dengan masalah yang dia buat sendiri.
Saat Freya keguguran
Mata Arby menerawang jauh. Dadanya berdenyut sakit saat harus kehilangan calon anaknya. Bojong jika dia tidak merasakan kehilangan. Dilihat dari luar, dia akan terlihat baik-baik saja, namun tidak ada yang kernah tahu apa yang dia rasakan sesungguhnya.
Ada perasaan bahagia saat dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah saat usianya masih sangat muda.
Saat Freya OD
Arby tak pernah menyangka bahwa Freya akan seperti ini. Menjadikan obat-obatan dan alkohol sebagai pelarian akan segala masalahnya. Freya yang sudah dia kenapa sejak kecil, kini menjadi sosok yang semakin jauh darinya.
.
.
.
Setelah Freya meninggalkan kamar Arby dan meletakkan cincin pernikahan mereka di laci meja Arby
Ingatan Arby kembali pada saat dirinya masih SMP dulu. Entah kapan dia mulai merasakan perasaan itu. Yang dia tahu, rasanya dia ingin selalu bersama dengan gadis yang dia sukai. Pertama kali bertemu kembali dengan Freya dan Nuna setelah dua tahun lamanya tak berjumpa, karena Nuna memutuskan home schooling dan mereka tak lagi bertemu, ada perasaan yang berbeda. Memang dulu dia pernah merasakan ini juga, namun dia tak mengerti apa itu.
Nuna pun bersikap seolah antara mereka bertiga tak pernah saling mengenal. Bukan hanya Nuna yang akhirnya harus mengulang dari awal, tapi dia dan Ikmal juga.
Pertengkaran antara mereka yang dipicu karena kesalah pahaman antara Nania dan Marcell, menghancurkan segalanya. Menghancurkan segala rencana yang telah dia susun untuk kembali mendekati gadis pujaannya, apalagi Nuna juga ikut-ikutan marah, dan mereka (Nuna, Arby dan Ikmal) kembali berbaikan saat keempat gadis itu kelas satu SMA dan mereka kembali menjadi senior gadis-gadis itu. Namun tetap saja, Nuna bersikap seolah tak pernah mengenal dia dan Ikmal saat SD.
Masalah anak ABG yang sebenarnya bisa diselesaikan baik-baik dan dianggap sebagai hal konyol, menurut sudut pandang Arby. Namun tidak bagi orang yang memiliki perasaan yang sensitif.