
Acara perpisahan ini sangat meriah. Penampilan dari para adik kelas mereka membuat mereka terhibur dan terharu.
"Selanjutnya, kami akan membacakan penghargaan untuk murid 'Yang Ter ....'"
"Murid Terbawel ... siapa kira-kira pemenangnya?" tanya salah satu pembawa acara.
" Yuri Yuri Yuri ...."
"Yuri Yuri Yuri ...."
Mereka serempak menyebut nama Yuri, karena satu sekolah memang merasa bahwa Yuri lah yang paling bawel di antara mereka.
"Wah, semuanya kompak ya menyebut nama Yuri."
"Apa benar yang namanya Yuri itu murid paling bawel di sekolah ini?"
"Betulll," jawab murid-murid kompak.
Bukannya merasa kesal, Yuri justru berdiri dan melambaikan tangannya dengan bangga, kayaknya ajang kecantikan internasional.
"Ya, yang mendapatkan penghargaan ini adalah ... Yuri."
"Makasih ya pada semua teman yang sudah mendukung dan memberikan semangat, sehingga gue bisa menjadi murid terpandai di sekolah ini."
"Bukan murid terpandai Yuri, tapi terbawel. Heran deh, sudah mau berpisah masih saja bikin emosi," celetuk Rizki yang membuat Yuri terkekeh.
"Selanjutnya, pasangan Ter-Uwu ...."
"Deri!" teriak salah satu murid.
"Siapa Deri?"
"Deo dan Yuri maksudnya."
"Mang Ujang dan Mpok Minah juga uwu, tuh."
Mang Ujang adalah pedagang cilok di sekolah Yuri, sedangkan Mpok Minah pedagang seblak. Kedua pedagang itu sebenarnya saingan, siapa yang memiliki pelanggan paling banyak di hari itu, maka harus ditraktir mie ayam. Siapa yang untung? Ya pedagang mie ayam.
"Ini untuk murid, woy. Bukan untuk para penghuni kantin."
Tentu saja bukan hanya Deo dan Yuri saja pasangan di sekolah itu. Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat untuk sekolah, tapi juga tempat pertama untuk mendapatkan calon jodoh.
Ada beberapa kandidat, ada yang karena mereka sudah berpacaran sejak kelas satu. Tentu saja putus sambung putus sambung, membuat teman-teman mereka berharap mereka putus benaran, hehehe.
Ada juga yang pacaran biar enggak dibilang jomblo, dan ada yang traktir makan setiap hari.
"Jadi, siapa ya kira-kira pasangan Ter - Uwu?"
"Deo dan Yuri."
Yuri jingkrak-jingkrak, sudah dia kali dia mendapat penghargaan, yang hadiahnya hanyalah gantungan kunci.
Satu persatu penghargaan dibacakan.
"Elah, kasih aja langsung dah semua hadiahnya buat Yuri, enggak perlu dibacakan lagi!" sungut Rizki kesal.
Bukan salah Yuri. Suruh siapa mereka membuat beberapa kategori dan memilih Yuri sebagai pemenangnya?
Yuri dengan wajah sombongnya pamer banyak gantungan kunci.
"Apa nanti aku ikut kontes kecantikan internasional, ya?"
"Masalahnya, dirimu bukan yang tercantik, Yuri!" ucap Gara.
Yuri pura-pura tidak mendengar. Dirinya hanya sibuk selfie dengan wajah imut yang bagi Deo sangat menggemaskan.
Banyak adik kelas dan teman seangkatan mereka yang melirik pada Yuri. Meskipun mereka tahu Yuri dan Deo sekarang sudah berpacaran, tapi bukan berarti mereka berhenti untuk menyukai.
Baru pacaran, belum menikah. Begitulah pikiran mereka.
Deo yang tidak senang, langsung menggenggam tangan Yuri. Deo benar-benar cemburu setiap kali ada pria tampan yang melihat Yuri.
Yuri, Chia dan Airu sekarang sedang mengobrol.
"Kamu mau lanjut ke mana, Yuri?"
Pertanyaan dari Chia itu membuat Yuri menghela nafas berat. Dia ingin menjawab Swiss, tapi takut perkataan tidak sesuai apa yang terjadi nanti.
"Yuri, ditanya malah diam saja."
"Kamu nanya apa?"
"Ish, kamu nanti mau ke mana?"
"Ke hatimu, karena hatimu tempatku berpijak."
"Anjir, aku enggak nafsu digombalin begitu sama kamu, Yuri!"
Yuri hanya tertawa saja. Di mulut tertawa, di hati gelisah.