Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 21 Ijin Pada Suami


Mereka makan malam bersama untuk yang pertama kalinya. Yuri bersama kedua orang tua dan opa omanya, begitu juga dengan Deo bersama kedua orang tua dan opa omanya.


"Kami berempat memang tidak datang ke pernikahan kalian, tapi bukan berarti tidak menyaksikan."


"Benar, kami menyaksikannya lewat video live. Saat itu opa Daniel baru dua hari dioperasi, padahal rencanyanya dua hari sebelum kalian menikah, kami mau ke Jakarta."


"Opa operasi? Kenapa tidak bilang aku?" tanya Yuri.


"Namanya juga operasi dadakan, kan hari itu niatnya mau ke Jakarta."


"Memang Opa?"


"Opa kecelakaan, tapi Alhamdulillah sekarang sudah sehat."


"Kami juga tidak bisa datang karena mendampingi Daniel. Maklum saja, kami kan sudah bersahabat sejak kecil, jadi susah senang sama-sama," ucap opanya Deo.


"Iya, enggak apa-apa Opa, kan kami juga nikahnya dadakan."


Ara menoyor Yuri.


"Apanya yang nikah dadakan? Kan kalian memang mau dinikahkan sehari sebelumnya, tapi sama-sama kabur."


"Tapi ujung-ujungnya nikah juga, tapi dadakan, kan, gara-gara ditipu sama papi, pura-pura jantungan."


Marteen dan Ray tertawa, lucu kalau mengingat saat itu yang melihat Deo dan Yuri merasa bersalah dan takut.


"Kami akan tinggal di Jakarta," ucap Daniel.


"Wah, asik. Nanti banyak yang ngasih aku uang jajan."


"Kamu tuh ya, Yuri, enggak jauh-jauh dari uang jajan."


"Namanya juga calon pembisnis."


"Tuh kan, ada saja jawabannya."


"Deo, tolong kamu jaga cucu opa ini, ya. Dia kesayangan keluarga kami, meskipun tingkahnya seperti itu, tapi dia gadis yang baik."


"Iya, Opa. Opa tenang saja."


"Kamu juga Yuri, meskipun kamu masih muda, tapi jangan lupa statusmu yang sudah menikah. Minta ijin dulu pada Deo kalau mau ke mana-mana, jangan terlalu dekat dengan pria lain."


"Iya, Oma. Aku kalau mau ke mana-mana selalu bikang Deo, bahkan sebisa mungkin mengajak Deo, karena itulah yang paling penting," ucap Yuri sungguh-sungguh.


"Ya ngerti, dong. Kan aku kalau mau pergi minta ongkos sama uang jajan dulu sama Deo, dan kalau aku ajak Deo, kan nanti dia yang bayarin, jadi uang aku utuh, deh," jawabnya polos.


"Dasar!"


Hyun dan Erin merasa senang karena cucu mereka menikah dengan Yuri, cucu dari sahabat mereka. Dengan begini hubungan mereka semakin erat, bukan hanya sebagai sahabat saja, tapi juga benar-benar telah menjadi keluarga.


🌺🌺🌺


Yuri kembali ke sekolah setelah tiga hari sakit.


"Yuri, gue kangen banget sama lo."


Mereka bertiga langsung cipika cipiki.


"Enggak ada lo enggak enak, Ri. Enggak ada yang ngasih contekan."


"Ye, dasar."


Deo memeperhatikan Yuri, dalam hatinya membenarkan perkataan Chia, kalau enggak ada Yuri enggak enak. Bukan karena enggak ada yang ngasih contekan, tapi karena sepi, tidak ada yang bisa menandingi kecerewatan gadis itu.


"Sebagai syukuran gue yangbsudah kembali masuk sekolah, kalian berdua gue traktir cilok goceng-goceng. Senang, kan?"


Yuri tersenyum bangga.


"Lo mah enggak jauh-jauh dari cilok."


"Mendingan lo gue kasih cilok, daripada lo gue colok. Pilih mana, hayo?"


"Pilih cip*k, tapi sama Lee Min Ho," jawab Chia.


"Ngehalu aja, lo."


"Kalian bertiga bisa diam enggak, sih?"


"Eh, Pak Edi. Kapan masuknya, Pak? Ko gak terlihat dan terdengar?" tanya Yuri.


Pak Edi menghela nafas, sekolah ini akan kembali rusuh dengan kehadiran Yuri. Tapi dia senang, anak murid yang menjadi kesayangan para guru meski juga sering membuat darah tinggi itu sudah sehat.


Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya, yang kangen dengan pertengkaran Deo dan Yuri karena membuat suasana ramai.