
"Gimana?" tanya Nuna dan Ikmal bersamaan.
"Sebelumnya, Freya enggak pernah anggap aku ada. Ingat nama aku aja enggak. Tapi, semenjak Nania dan Marcell bertengkar, dia jadi ingat dengan nama Arby, Ikmal, Marcell dan Vian. Selama ini cowok-cowok yang ngedekitin dia selalu diceukin, malah dijauhi. Jadi mungkin ada baiknya aku membuat dia kesal denganku dengan meladeni kejahilannya pada kami."
Mereka jadi ingat salah satu perbuatan iseng Freya saat SMP dulu, sebagai satu bentuk pembalasan Freya adalah saat di kantin, Freya pura-pura menjatuhkan sendoknya lalu dengan cepat mengikat tali sepatu Arby ke tali sepatu Ikmal, lalu tali sepatu Ikmal yang sebelahnya diikatkan ke tali sepatu Vian, lalu tali sepatu Vuan yang satu lagi diikat ke tali sepatu Marcell.
Maka saat mereka berdiri dan mulai berjalan ke kelas ... brugh ... mereka jatuh bersamaan, menjadi bahan teratawaan untuk jangka waktu yang cukup lama.
"Dengar ya Arby, Ikmal, Marcell dan Vian, ini sebagai tanda bahwa kita ada di dua kubu yang berbeda," teriak Freya. Dia tidak segan menunjukkan bahwa dirinyalah dalang dibalik ikatan tali sepatu itu.
Bukannya marah, Arby justru mulai memikirkan sebuah solusi agar Freya menyadari kehadirannya. Bukan sebagai senior yang dia lupa namanya.
Tak apa untuk saat ini jadi rival, yang penting nanti kita jadi partnert seumur hidup.
Nuna tertawa saat mengingat peristiwa itu. Freya memang selalu ada cara untuk mengibaroan bendera perang kepada empat pria tersebut. Hal itu justru membuat hari-hari Freya yang membosankan jadi lebih berwarna, dia jadi ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi. Apalagi Arby juga tak mengalah begitu saja.
Arby pernah memasukkan cicak mainan ke dalam makanan Freya.
"Kalau dulu aku ngejar-ngejar Freya untuk aku jadikan pacar, yang ada dia merasa kesal dan menjauhiku, bukannya meladeni semua tingkahku. Dia itu ibarat lagu Semakin Kukejar Semakin Kau Jauh."
Bila mungkin kau lihat aku menanti dirimu
Bila mungkin dirimu ada di samping diriku
Bilakah jadi milikku
Mungkinkah jadi milikku
Ho semakin ku kejar semakin kau jauh
Tak pernah letih tuk dapatkanmu
Terus berlari namun ku takut terjatuh lagi
Tak ingin lagi membuat ku perih
Sadarkan aku dari mimpiku
Oh mungkinkah dirinya ada di depan mataku
Bila mungkin terjadi pasti itu hanya mimpi
Mungkinkah jadi milikku ho
Semakin ku kejar semakin kau jauh
Tak pernah letih tuk dapatkanmu
Terus berlari namun ku takut terjatuh lagi
Tak ingin lagi membuat ku perih
Sadarkan aku dari mimpiku
Bilakah jadi milikku
Mungkinkah jadi milikku
Ho semakin ku kejar semakin kau jauh
Tak pernah letih tuk dapatkanmu
Terus berlari namun ku takut terjatuh lagi
Semakin ku kejar semakin kau jauh
Tak pernah letih tuk dapatkanmu
Terus berlari namun ku takut terjatuh lagi
Tak ingin lagi membuat ku perih
Sadarkan aku dari mimpiku
Hou wo o o
Hou wo o o
Hou wo o o
- Five Minutes -
"Tapi perbuatanmu itu menghancurkan impian Freya yang sudah dia rancang sejak bertahun-tahun yang lalu, Ar!"
Arby kembali teringat akan perkataan Freya saat itu.
"Lalu bagaimana impian aku? Aku ingin kuliah di luar negeri!"
"Memangnya aku peduli? Itu kan impian kamu, bukan impian aku!"
"Woy, malah bengong!"
"Aku juga bisa kok, ngajak dia keliling dunia."
"Freya itu mau mencapai sesuatu dari hasil usahanya sendiri, bukan karena belas kasihan orang lain."
Arby hanya mengangkat bahunya.
Ingatan Arby kembali pada saat Freya hamil lagi
Arby merenung
Istri kecilnya itu hamil, jika semuanya berjalan dengan lancar, maka perkiraan melahirkan beberapa hari setelah ujian nasional. Memiliki bayi di usia muda tentu bukan hal yang mudah. Butuh bimbingan dari orang dewasa yang telah berpengalaman.
Para orang tua tentu tidak akan membiarkan dia dan Freya melanjutkan kuliah di luar negeri. Jadi kemungkinannya jika mereka akan batal atau minimal ditunda.
Entah kenapa, perasaan Arby tidak enak.
Flashback off
Freya memegang kepalanya yang berdenyut sakit, juga perutnya yang terasa keram.
Siapa opa omanya?
Dia tidak ingat sama sekali, bahkan tidak ada foto mereka di rumah orang tuanya.
Jika saja saat itu Freya membuka folder rahasia di ponsel Arby, tentu dia akan melihat fotk-foto dirinya juga Nuna dan Ikmal saat mereka masih SD di Singapura. Juga ruang rahasia di rumah Arby, banyak lukisan dirinya.
"Parah banget kamu, Ar. Apa aku juga harus begitu ya, ke Nania?"
"Aaaaa ... sakit, sakit!"
Freya langsung menghampiri Arby dan menjambak rambutnya.
"Apaan sih, Frey? Kamu ngidam jambak rambut aku, ya?"
"Ngidam, ngidam. Ini semua gara-gara kamu, aku jadi terjebak pernikahan ini. Sialan kamu!"
Deg
Arby, Ikmal, Marcell dan Vian berasa kena serangan jantung.
Freya semakin kencang menjambak rambut Arby, meski kepala dan perutnya sakit.
"Sudah, Ya!"
Ikmal berusaha menenangkan Freya yang tidak bisa mengendalikan emosinya itu.
"Aw, perut aku."
"Tuh kan, dede bayinya ngambek karena daddy dijambak sama mommy."
"Mommy daddy mommy daddy, mbahmu!"
Vian menggigit bibirnya agar tidak tertawa.
"Tenang ya, Ya."
Ikmal mengelus perut Freya, yang langsung mendapat bentakan dari Arby. Memang di antara mereka berempat kan, yang bisa jadi penengah hanya Ikmal, mungkin karena dia juga ketua osis saat di sekolah.
Tak lama kemudian, Freya pingsan dan langsung digendong oleh Arby, sedangkan Ikmal langsung menghubungi dokter Anwar.
Tiga puluh menit kemudian dokter Anwar datang bersamaan dengan orang tua Arby dan Freya.
"Apa yang terjadi?"
Arby langsung menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas.
"Kamu ini kenapa sih, Ar, selalu membuat masalah?"
"Nanti kalau terjadi apa-apa sama Freya dan kandungannya gimana?"
Arby menunduk, dia tidak menyangka bahwa pembicaraannya dengan Marcell, Vian dan Ikmal akan didengar oleh Freya.
Freya membuka matanya.
"Dokter, aku ... opa oma ... mereka ...."
"Kamu tenang ya, jangan banyak pikiran. Kalau kamu tidak bisa mengingat apa-apa, tak masalah. Jangan dipikirkan. Yang penting kamu dan kandungan kamu sehat."
Mana bisa seperti itu, Freya pasti akan memikirkannya.
Tipe pemikir dan jiwa penasaran sepertinya pasti akan mencari tahu, meski dia sudah tahu dari pembicaraan Arby tadi.
Namun tetap saja, dia tak mengingat apapun.
Opa omanya, juga tentang Nuna dan janji mereka.