
Mereka berlari menuju di mama Freya dan Nania berada.
"Serius nih, kok bisa Freya jatuh?"
"Ya enhgak tahu, tadinpas aku dan Nania datang, dia sudah pingsan, tapi ada Nuna di sana."
"Nuna?"
"Ko bisa Nuna di sana?"
"Ck, kebanyakan nanya kalian!"
Mereka sudah melihat keberadaan Nania, Nuna dan Freya, lalu semakin cepat berlari menuju ketiganya. Setibanya di sana, Arby langsung memeriksa keadaan Freya.
"Enggak ada yang bawa tandu, ya?" tanya Vian.
"Buat apaan tandu?"
"Ya buat angkat Freya, lah."
"Ya Arby dong yang gendong."
"Kita kan enggak tahu Freya patah tulang atau tidak, jangan main angkat sembarangan."
Memang, selain keningnya yang berdarah, mereka juga melihat pergelangan kaki Freya yang bengkak karena Freya memakai sandal.
"Terus gimana ini? Kembali lagi ke vila manggil pak dokter kelamaan."
"Di vila hanya ada asisten rumah tangga, kak Anya juga Vanya. Yang lain pada pergi."
Akhirnya mereka memutuskan untuk menggendong Freya, itu pun masih harus berdiskusi dulu apakah akan digendong bridal style atau gendong di punggung, benar-benar membuang-buang waktu.
Sepanjang jalan, terdengar bunyi sahut-sahutan yang membuat Nania, Aruna, termasuk Nuna pening dan kesal, pasalnya para cowok itu mengeluarkan suara gas alam yang mengeluarkan aroma fermentasi busuk dan memabukkan.
"Ck, jorok banget sih kalian. Kalian tuh malah tambah bikin Freya pingsan, bukannya sadar, tahu enggak?"
"Lah, salah sendiri kalian ngasih minuman multi rasa itu ke kami."
Nania dan Aruna sebenarnya ingin tertawa, tapi melihat Freya yang pingsan, akhirnya mereka diam saja.
Saat mereka tiba di vila, hari sudah gelap, di sana sudah ada dokter Anwar, sedangkan yang lainnya belum kembali.
"Loh, Freya kenapa?" tanya dokter Anwar.
"Pingsan."
Arby langsung membawa Freya ke kamarnya, diikuti oleh dokter Anwar dan para cs termasuk Nuna. Dokter Anwar langsung memeriksa kondisi Freya.
"Kakinya bengkak dan terkilir, jadi belum bisa beraktivitas seperti biasa, ya."
"Kamu pasti sengaja kan, dorong Freya?" tuduh Nania pada Nuna.
"Jangan asal nuduh, deh, memangnya kamu pinya bukti? Ar, kamu percaya kan sama aku, kalau aku enggak mungkin mencelakai Freya?"
"Iya, aku percaya kok."
Nania mendengkus.
"Dasar pasangan laknat, sudah tahu istri mau menjalani pengobatan, malah bawa selingkuhan ke sini."
Mereka meninggalkan Freya bersama dengan Nania dan Aruna, sedangkan Nuna langsung mengikuti Arby. Nania menatap sinis pada keduanya.
Awas saja kalian!
Dokter Anwar memberikan obat kepada Arby, Marcell, Vian dan Ikmal untuk perut mereka yang sampai sekarang masih sakit.
Sekitar dua puluh menit kemudian Freya sadar. Nania dan Aruna menceritakan apa yang terjadi kepada Freya.
"Terus, Nuna masih ada di sini?"
Keduanya mengangguk dengan wajah cemberut, terutama Nania.
"Panggilkan Arby, dong!"
"Mau ngapain, emang?"
"Dah, panggilkan saja dulu."
Aruna memanggil Arby yang ada di ruang keluarga, matanya mendelik kesal pada Arby dan Nuna. Kika dulu dia tidak ingin berpihak pada siapapun, tapi tidak sekarang. Dia tidak habis pikir pada Nuna yang menikam sahabatnya sendiri.
"Heh, sudah tahu istri lagi sakit, malah mesra-mesraan di sini. Aku sumpahin kalian berdua kena azab. Freya nyariin kamu, tuh."
Nuna cemberut dan menatap kesal pada Aruna.
"Aku mau ke bawah."
"Mau ngapain? Kaki kamu kan lagi terkilir."
"Dah jangan bawel. Pokoknya aku mau ke bawah, jadi kamu gendong aku."
Dengan terpaksa Arby menggendong Freya menuju ruang keluarga. Nuna melihat Arby yang menggendong Freya dan mata gadis itu menyipit melihat pemandangan itu.
"Aku mau duduk di situ."
Arby mendudukan Freya di fofa singlenyang ditunjuk Freya.
"Jangan lupa taro bantal kursi di kaki aku, biar kakiku enggak menggantung."
"Punggung aku enggak enak nih, benerin napa posisi duduknya."
"Aku haus, ambilin air, ya."
"Kok air biasa? Aku maunya air putih pake es batu, lah."
"Ini es batunya kebanyakan, nanti kalau aku ngompol gimana?"
Arby mendengkus mendengar keinginan-keinginan Freya dan harus dia yang melakukannya.
Saat makan malam.
"Suapin aku, dong."
Sejak tadi Nania, Aruna, Marcell, Vian dan Ikmal sudah menggigit bibir mereka menahan tawa. Ternyata selain pintar dalam bidang akademi dan memasak, Freya juga jago dalam mengerjain orang.
"Kamu kan bisa makan sendiri, lagian kenapa harus aku terus?"
"Kalau bukan kamu, terus aku minta sama siapa? Ikmal?"
Nuna melirik Arby, Freya dan Ikmal, dia berdecak kesal.
Selesai makan malam yang hanya dihadiri oleh para anak muda itu, karena dokter Anwar sudah makan malam di luar, sedangkan yang lain masih belum kembali. Kak Anya dan Vanya juga ternyata sudah kembali ke Jakarta hanya dijemput oleh sopir saat mereka menolong Freya.
Dokter Anwar pun sekarang ada di dalam kamarnya untuk mengerjakan pekerjaannya. Dokter Anwar menjadi kepala penanggung jawab yang akan mengawasi pengobatan Freya.
Freya meminta Arby menggendongnya ke kamar. Kali ini Arby menggendong Freya di punggungnya. Freya sedikit mencengkram leher Arby, membuatnya terbatuk.
"Pelan-pelannapa, megangnya!"
"Takut jatuh."
"Halah."
"Aku juga mau nginap di sini."
Itu adalah pernyataan, bukan permintaan izin.
"Heh, enggak tahu malu banget sih kamu. Kamu tuh enggak diundang di sini." Nania semakin sewot dengan perkataan Nuna yang menurutnya tidak tahu malu itu.
"Kenapa kamu yang sewot? Ini kan bukan vila kamu. Ar, pokoknya aku mau di sini."
Freya yang masih berada dalam gendongan Arby langsung menjambak rambut Arby.
"Awwww, sakit, Frey."
"Kalau kamu ngizinin dia di sini, aku bakalan pacaran sama Ikmal!"
Ikmal yang berjalan di hadapan mereka, langsung menengok ke belakang.
"Tolong jangan libatkan aku dalam urusan rumah tangga kalian."
"Udah Ar, biarin aja Freya pacaran sama Ikmal."
Nuna sudah pasti kegirangan dengan keinginan Freya itu.
"Sudah, diam kalian semua! Frey, biarin Nuna di sini dulu, sekarang kan sudah malam."
Nuna tersenyum puas mendengar keputusan Arby yang memihaknya, tidak peduli dengan tatapan-tatapan sinis orang-orang di sekitarnya.
Oke kalau itu mau kamu, kamu lihat saja nanti. Aku pun akan lebih serius menghancurkan kamu. Kita lihat saja, kamu lah yang akan lebih terpuruk dari aku.
Freya kini sudah ada di atas kasurnya. Nania dan Aruna juga sudah di posisi masing-masing, sedangkan Nuna harus tidur di sofa. Sebenarnya dia bisa saja minta kamar kosong kepada Arby, tapi dia adalah tipe orang yang sulit tidur di lingkungan baru apalagi seorang diri. Jadi dia lebih memilih tidur di sofa dari pada tidak tidur semalaman.
Freya meminum obat yang diberikan oleh dokter Anwar, dan tidak lama kemudian dia tidur, disusul oleh Nania dan Aruna.