
Pertama kali melihat Freya, Anwar langsung tertarik padanya. Jangan salah paham! Anwar bisa melihat kecerdasan, keteguhan hati, kemandirian, ambisi, percaya diri dan tidak mudah dimanipulasi. Karakter yang sangat pas untuk seorang pemimpin. Bisa dipastikan, apapun yang Freya kerjakan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Misalnya saja, dari membuat dan berjualan kue kecil-kecilan, namun bisa menghasilkan uang untuk jajannya sediri. Lalu memberikan rancangan-rancangannya untuk pesta ulang tahun, acara pernikahan, pesta perusahaan yang dikerjakannya seorang diri.
Otaknya yang cerdas mampu merekam semua yang dia baca, lihat dan dengar tanpa harus mengulang kedua kalinya.
Jika saja Freya tidak dinikahkan pada Arby, ada niat dalam dirinya untuk menikahkan Freya dengan anak laki-lakinya saat Freya sudah cukup umur nanti. Dia juga sebenarnya bisa mengerti mengapa Arlan bersikeras menikahkan Freya dengan Arby di usia muda dan tidak membiarkan mereka bercerai.
Bukan hanya Anwar, psikiater dan psikolognya pun bisa langsung menilai Freya hanya dari raut wajahnya saja.
🌸🌸🌸
"Kamu saja yang menjelaskan padanya," perintah Anwar pada Gani. Dia masih merasa kesal pada Arlan dan Wildan, bukannya dia tidak profesional dan menjelaskan sendiri mengenai kondisi Freya, dia hanya tidak ingin baku hantam kembali terjadi. Sebagai seorang dokter dan kepala rumah sakit, dia ingin mengendalikan emosinya.
Mereka semua sudah berkumpul di ruangan Anwar.
"Dari hasil tes darah, di dalam tubuh Freya mengandung narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan."
Dokter Gani menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan.
"Di dalam tubuh Freya mengandung narkotika golongan satu."
"Golongan satu?"
"Benar. Ada tiga golongan dalam narkotika ... Narkotika golongan satu, hanya dibolehkan untuk keperluan ilmu pengetahuan dan teknologi, reagensia diagnostik atau laboratorium. Narkotika jenis ini mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. Contohnya yaitu opiat seperti morfin, heroin/putaw, petidin, candu. Ganja/kanabis, marijuana, hashis. Kokain meliputi serbuk kokain, pasta kokain daun koka. Lalu narkotika golongan dua adalah bahan baku untuk produksi obat, jadi mereka memang berkhasiat untuk pengobatan, namun digunakan sebagai pilihan terakhir. Narkotika jenis ini bisa menimbulkan potensi ketergantungan tinggi. Contohnya adalah petidin, morphin, fentanil atau metadon. Sedangkan narkotika golongan tiga, jenis narkotika ini hanya digunakan untuk membantu rehabilitasi. Jenis narkotika ini mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contohnya adalah kodein, difenoksilat."
"Apa saja dampaknya?"
"NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) bersifat psikotropik dan psikoaktif yang mempunyai pengaruh terhadap sistem saraf manusia. Narkotika yang umumnya digunakan sebagai analgesik, yaitu pengurang rasa sakit. Efek samping dari narkotika adalah munculnya pengaruh pada aktivitas mental dan perilaku penggunanya. Oleh karena itu, biasanya obat-obatan tertentu digunakan sebagai terapi gangguan psikiatrik pada dunia kedokteran.
Obat-obatan untuk terapi ini termasuk dalam daftar obat G, maksudnya dalam penggunaannya harus disertai dengan kontrol dosis yang ketat oleh dokter. Narkotika bisa menyebabkan penurunan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.
Sementara psikotropika bisa menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Lalu zat adiktif, yang menyebabkan pengidapnya mengalami ketergantungan. Bila penggunaan zat adiktif dihentikan akan timbul efek putus zat di antaranya rasa sakit atau lelah yang luar biasa ... Narkoba juga menyebabkan beberapa bahaya lainnya, seperti menurunkan kesadaran hingga hilang ingatan. Narkoba mengakibatkan efek sedatif seperti kebingungan, hilang ingatan, perubahan perilaku, tingkat kesadaran menurun, dan koordinasi tubuh terganggu. Jadi, penggunanya akan sulit fokus atau tidak nyambung saat diajak berbicara. Narkoba juga memicu dehidrasi parah dan ketidak seimbangan elektrolit. Dalam jangka panjang, efek samping ini bisa sebabkan kerusakan otak. Selain itu, narkoba juga Merubah Sel di Otak. Mengkonsumsi narkoba secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan sel otak. Akibat narkoba, otak dipaksa bekerja lebih cepat, tetapi menekan saraf pusat dan memaksa diri untuk lebih tenang. Perubahan sel di otak ini juga mengganggu komunikasi antar sel saraf dan kerusakannya bisa menjadi permanen. Penyalahgunaan narkoba yang berkepanjang juga bisa menyebabkan gangguan kualitas hidup. Mereka akan merasa tidak nyaman, putus asa, dan ingin terus menggunakannya kembali."
Mereka menyimak penjelasan dokter Gani dengan serius.
"Kita bisa melihat efek samping apa yang dialami Freya setelah dia sadar nanti," dokter Gani kembali melanjutkan.
"Sebaiknya juga hadirkan sahabat-sahabat Freya untuk bisa kita tanyakan."
"Tapi ...."
"Tolonglah Lan, kesampingkan dulu masalah nsma baik keluarga. Yang penting sekarang Freya sembuh dan kembali hidup normal."
"Baiklah."
"Arby, tolong kamu hubungi Nania dan Aruna. Minta mereka untuk datang."
"Iya, Pa."
🌸🌸🌸
Nania dan Aruna menatap nanar sahabat mereka.
"Buruan sadar, Ya. Nanti kita berburu bule ganteng."
"Arby sepertinya bawa sial banget ya, buat Freya."
.
.
.
Freya membuka matanya. Dia melenguh pelan, matanya melirik kiri kanan dari ujung matanya. Tidak lama kemudian dokter datang dan merasa lega melihat pasien khususnya itu telah membuka mata.
"Freya, kamu mendengar saya?"
Tidak ada tanggapan. Dokter itu melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tidak ada yang salah baik pernafasannya, dan denyut jantungnya.
.
.
.
Sudah dua hari ini Freya tidak merespon apapun, termasuk sahabat-sahabatnya. Dia tidak tersenyum apalagi tertawa. Dia tidak menangis, juga berteriak. Tatapan matanya kosong.
Bahkan mereka mamasang CCTV dan alat penyadap rahasia untuk mengetahui apa yang Freya lakukan jika seorang diri, namun tidak ada hal-hal negatif yang Freya lakukan.
Dokter sudah memeriksa penglihatan, pendengaran, penciuman, bahkan kaki tangan Freya, apakah mengalami kelumpuhan atau tidak saat awal Freya sadar namun tidak merespon apapun.
"Ya, ngomong napa! Jangan diam saja!"
"Ya ... Woyyyy!"
"Aku botakin, ya!"
"Apaan sih, berisik banget kalian," sahut Freya akhirnya.
"Huaaaa ... akhirnya ngomong juga."
"Kenapa sih Ya, kamu doyan banget masuk rumah sakit, mentang-mentang mau jadi dokter. Pake acara koma, lagi."
"Tapi akhirnya aku sadar juga, kan. Sepertinya surga dan neraka menolakku. Aku belum boleh mati sebelum membuat kerusuhan untuk mereka."
"Ih, apaan sih ngomongnya ngasal banget, deh!"
"Kamu kalau mau nyari pelarian jangan kaya gini dong, Ya. Mendingan kamu nyari bule ganteng kaya raya buat dipacarin, kan lebih bermanfaat."
Freya terkekeh mendengar saran Nania. Entah saran itu masuk dalam kategori Devil atau Angel.
"Sekarang cerita, kenapa kamu malah milih cara ini?"
Freya terdiam sejenak, lalu bercerita.
"Setiap orang, apapun masalahnya, punya cara sendiri untuk lari dari masalahnya walau hanya sejenak . Dulu, aku melarikan diri dengan cara membaca buku. Namun lambat laun aku merasa jenuh, karena buku itu bisa langsung aku ingat isinya tanpa harus mengulang membacanya. Tidak ada tantangannya. Itu yang aku rasakan. Aku ingin sesuatu yang lebih ekstreme, yang bisa memicu adrenalinku."