Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
72 Dalam Ingatan Arby


Ingatan Arby kembali pada saat Nuna marah-marah kepadanya, saat dia dan Freya belum menikah.


“Maksudnya apa kamu mau nikah sama Freya?”


“Kan kamu sudah dengar sendiri dari Freya, kalau kami dijodohkan.”


Nuna menatap Arby, seolah sedang mendalami apa yang ada dalam pikiran pria itu.


“Kenapa enggak kamu tolak?”


“Memangnya aku bisa apa? Aku hanyalah anak tak berdaya yang tak mampu melawan keinginan orang tua.”


“Cih, enggak lucu tahu, Ar. Freya aja bisa nolak, masa kamu enggak.”


“Kami itu beda.”


“Apa bedanya?”


“Bedalah, aku dan dia itu ibarat bumi dan langit.”


“Maksudnya? Kalian kan sama-sama kaya.”


“Aku bumi, tempatnya berpijak, dan dia langit, tempatnya aku terbang.”


Arby terkekeh, mencoba menyembunyikan perasaannya yang selama ini dia pendam bertahun-tahun.


“Anjir, enggak lucu, Ar.”


“Ya sudah sih, aku juga lagi pusing nih.”


“Halah, pusing mikirin apa, coba.”


“Ya pusing lah, setiap kali di sekolah kalian berantem mulu.”


Maksudnya Arby cs dan Freya cs


“Itu kan salah kalian sendiri.”


“Ya kan sudah kami jelasin, tadinya Marcell itu mau nembak Freya atau kamu, tapi kami larang. Terus Arby ngasal aja bilang suruh tembak Nania, eh si Vian malah ngomporin Marcell. Jadinya ya gitu, deh.”


Ikmal menghela nafas, ikut-ikutan pusing.


Memang belum lama ini Nuna, Arby dan Ikmal berbaikan.


Setelah Pernikahan


Nuna yang sedang jalan-jalan ke mall, tidak sengaja bertemu dengan Arby yang juga berada di mall itu. Arby masuk ke toko perhiasan untuk mengambil sepasang cincin pernikahan yang dijual oleh Freya.


“Pegangin dulu, Nun.”


“Ini apaan, sih?”


“Cincin nikah.”


“Kamu mau nikah lagi?”


Nuna mendelik tajam pada Arby.


“Bisa dimutilasi aku, sama dua keluarga kalau sampai nikah lagi. Sama yang ini aja belum punya anak.”


“Dih, geli amat dengarnya.”


Arby hanya cekikikan, mereka tidak ada yang menyadari bahwa ada Freya yang sejak tadi mengawasi dan memotret mereka.


“Freya tadi nelp kamu mau ngapain?”


“Katanya mau ke rumah. Dia juga nelp kamu, kan?”


“Iya, kangen kayanya sama aku.”


“Dih, PD banget.”


Tidak lama setelah Freya berhenti mengawasi mereka, Ikmal datang.


“Kamu minta diantar ke mana sih, Nun?”


“Ke rumah tante aku. Tapi kita makan dulu ya, lapar, nih.”


“Itu apaan, Ar?”


“Cincin nikah aku sama Freya yang dia jual.”


“Kamu beli lagi?”


“Enggak, nyolong.”


Ikmal mendengkus, temannya itu kalau ngomong memang sering asal.


Keesokannya, setelah Freya mengatakan menangkap basah mereka.


“Kenapa enggak bilang yang sebenarnya, sih?” tanya Ikmal.


“Gimana mau bilang yang sebenarnya, dia sudah emosi gitu.”


.


.


.


“Freya jadi marah banget sama aku.”


“Nanti juga baikan.”


Arby menepuk pundak Nuna, yang lagi-lagi dilihat oleh Freya. Terjadilah perkelahian itu.


“Mamanya pelakor, anaknya juga pelakor!”


Kata-kata itu melukai hati Nuna. Bagaimana bisa Freya mengatakan itu padanya. Saat lagi-lagi Frrya mengatakan itu di ruang guru, di depan mama kandungnya, bukannya merasa marah, justru Nuna merasa lega. Aneh memang, hal yang selama ini dioendam dalam hatinya, ingin protes karena perilaku mamanya yang menyebabkan dia ikut terseret masalah mamanya, dia yang sering dibenci karena memiliki kemiripan wajah dengan mamanya.


Nuna ingin mamanya tahu, bahwa sebagai anak dia sangat malu. Tahukah mamanya bahwa dia sering dibully? Dan akhirnya, secara tak sengaja Freya membantunya mengungkapkannapanyang dia pendam selama ini. Kekecewaan terhadap mamanya lebih besar dan menyakitkan dari pada perkataan Freya.


Bagaimana pun, Arby tidak ingin Nuna dan Freya bertengkar apalagi karena dirinya, meskipun peryengkaran itu telah terjadi, apalagi salah satu diantaranya adalah gadis yang dia sukai.


.


.


.


“Aku mendukung pernikahan kamu dengan Freya, karena aku pikir jika dia menikah dengan kamu, dia bisa bebas dari keluarganya. Tapi ini apa? Aku muji-muji kamu ganteng, kaya, dan segala macam sampai-sampai Freya salah paham, dia pikir aku suka sama kamu.”


“Bisa enggak sih jangan marah-marah terus, mana aku tahu kalau bakalan seperti ini jadinya.”


“Tahu gini mendingan Freya nikah saja sama Mico.”


“Nuna, jangan bikin kesel, deh.”


“Ya lagian, sejak dekat dengan Mico, Freya kelihatan senang. Aku sih bakalan mendukung siapa saja yang dia suka. Kalau dia suka kamu, aku dukung. Kalau dia suka orang lain, ya aku dukung. Lagian Freya kayanya emang enggak suka tuh, sama kamu. Dulu sebelum kalian nikah, aku berkali-kali muji kamu ganteng di depan dia, tapi dia biasa-biasa saja, deh. Lepasin saja Freya, biar dia bahagia. Kamu enggak kasihan dan enggak sayang sama dia?”


“Ya sayang, lah.”


“Sayang sebagai sahabat, kan?”


Arby tak menjawab.


Saat di Vila


Arby berkirim pesan pada Nuna.


Nuna


[Aku mau jengukin Freya di vila.]


Arby


[Jangan, nanti dia cemburu buta.]


Nuna


[Mana mungkin dia cemburu buta, suka sama kamu aja enggak.]


Arby


[Kan dari benci jadi cinta.]


[Kalau kamu mau ke sini, pura-pura jadian sama Ikmal, ya?]


Arby berusaha memancing Nuna, apakah gadis itu menyukai sahabatnya atau tidak.


Nuna


[Sialan, kamu jadiin aku tumbal?]


Arby


[Ya kali, kamu suka sama Ikmal.]


Nuna


[Kita lagi ngebahas Freya, ya.]


Arby


[Hm.]


Nuna


[Pokoknya nanti kita harus ketemu. Aku tahu pasti ada yang kamu tutupi. Ingat Ar, jangan sakiti sahabat aku. Kalau kamu nyakitin dia terus, aku doain Freya pergi dari kamu dan kamu jadi duda seumur hidup.]


Arby


[Jahat amat. Kalau aku jadi duda, nanti dia jadi janda.]


Nuna


[Lah, dia jadi janda juga, janda kece. Otak cerdas, kaya, seksi, cantik, apa coba yang kurang. Para lajang dan duda-duda keren juga masih bertebaran di mana-mana. Mico juga pasti enggak keberatan.]


Arby


[Jahat banget kamu.]


Nuna


[Bodo amat. Aku mah enggak mikirin kebahagiaan kamu, yang aku pikirin kebahagiaan Freya.]


Karena kesal, Arby langsung menghapus pesan-pesan tersebut. Dan pesan selanjutnya tidak sempat dia hapus dan baca, dan yang lebih sialnya lagi, dibaca oleh Freya.


Satu hari setelah Freya marah kepadanya, Marcell, Vian dan Ikmal di mall


"Kamu sih, pakai bohong segala," Vian mendelik kesal pada Marcell.


"Kan aku maksudnya mau beli kado dan persiapan kejutan buat ulang tahun Nania. Kamu juga bohong sama Aruna!"


"Lah, kan aku nememin kamu, masa aku bilang sama Aruna kalau lagi nemenin kamu ke mall."


"Iya juga, ya."


Lagi-lagi kesalah pahaman terjadi akibat ulah Marcell dan Vian, sama seperti beberapa tahun yang lalu.


Keesokannya, Nuna datang ke kampus Arby dan melabrak cewek yang bernama Angel.


"Dasar cewek ganjen, bisa-bisanya kamu hodain Arby. Arby tuh milik Freya, tahu enggak. Kamu tuh enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Freya.


Terjadilah aksi saling cakar, jambak dan caci maki dengan mengabsen kebun binatang. Membuat Arby dan Ikmal kualahan menengahi mereka. Angel yang didukung oleh ketiga temannya, menyerang Nuna yang tak kalah garang, apalagi dia juga bisa bela diri sama seperti Freya.


" Ya ampun Ar, kemarin Freya, sekarang Nuna. Makanya kalau sudah sold out, jangan tebar pesona. Repot sendiri kan kamu jadinya."


Arby hanya mendengkus pada Vian dan Marcell yang baru datang, bukannya bantuin, malah ngerocos.