
Hari ini Yuri dan semua teman sekelasnya liburan bersama ke Puncak. Mereka menggunakan bis agar bisa satu kendaraan. Sepanjang perjalanan, Yuri hanya diam saja.
Perempuan yang biasanya rusuh itu, hanya duduk dengan tatapan kosong di sudut jendela.
"Yuri, apa kamu terlalu sedih kita akan berpisah?" tanya Chia.
"Iya," jawabnya singkat.
Sesampainya di Puncak, Yuri lalu menghembuskan nafasnya. Menghirup udara sejuk dari pohon-pohon dan kebun teh.
Dia harus menikmati liburan ini. Liburan terakhir bersama teman-teman sekelasnya. Setelah ini, mereka akan menuju tempat yang berbeda.
Deo menggandeng tangan Yuri, meski tidak berkata apa-apa.
Waktu masih pagi. Mereka lalu mencari makanan untuk mengisi perut.
"Habis makan kita ke mana?"
"Kita ke kebun saja. Di sana banyak sayur dan buah yang bisa dipetik untuk makan."
Vila ini memang milik keluarga Deo.
"Kita bisa masak sendiri untuk makan siang dan malam, atau meminta bibi yang memasaknya."
Mereka lalu pergi ke kebun. Ternyata benar, banyak sayur dan buah yang di tanam. Yang perempuan memetik buah, sedangkan yang laki-laki memetik sayur.
"Ada empang juga di dekat sini, juga kandang ayam."
Mereka ada di kebun sampai lupa waktu. Memakan buah yang langsung dipetik dari pohonnya memang terasa berbeda.
"Udah yuk, aku lapar," ucap Yuri.
Deo mengangguk. Mereka lalu menuju vila. Sudah ada beberapa ekor ayam kampung yang sudah dipotong-potong.
Mereka duduk selonjoran di halaman belakang. Melihat bibi dan pekerja lainnya memasak.
Deo lalu ke dapur, membuatkan Yuri makanan untuk mengganjal perutnya agar tidak kelaparan.
"Makan dulu Yang, biar kamu enggak masuk angin."
Itu adalah salah buah dan sayur. Deo menyuapi Yuri, yang membuat teman-teman mereka jadi iri dan baper.
Mereka yang sudah lapar juga memakan cemilan yang sudah dibuatkan oleh pelayan di vila itu. Kue-kue tradisional yang jarang mereka makan selama ada di Jakarta, berjejer rapih dan menggiurkan di hadapan mereka.
Deo dan Yuri suap-suapan, tidak peduli dengan teman-teman mereka.
"Kalian nanti kuliah di tempat yang sama lagi?" tanya Rizki.
Yuri langsung tersedak makanan. Wajahnya kembali sedih.
"Iya," jawab Yuri pelan tanpa semangat.
Chia dan Airu saling pandang. Berteman selama bertahun-tahun dengan Yuri, mereka sudah tahu bagaimana sifat Yuri.
Deo mengusap kepala Yuri, tidak ikut berkomentar.
"Nona, Tuan, makanannya sudah jadi."
Makanan itu lalu diantarkan di hadapan mereka. Makan secara lesehan dengan menggunakan daun pisang dan dengan tangan.
"Kelihatannya enak banget. Aku jadi tambah lapar."
"Makan yang banyak Tuan, Nona. Bibi sudah masak yang banyak, kalau mau tambah, masih ada."
"Iya, makasih Bi. Bibi dan yang lain juga makan ya, jangan ditunda," ucap Deo.
"Makasih Den Deo."
Cuaca yang dingin ditambah tadi mereka sudah memetik. udah dan sayur, membuat selera makan mereka meningkat.
Sambal yang dibuat sangat pedas, membuat keringat bercucuran. Meski begitu, tidak ada yang mau berhenti mengunyah. Tetap saja nasi yang sudah habis di piring, diisi lagi.
Makannya memang sederhana. Makanan rumahan biasa, bukan makanan ala kafe atau restoran.
Tapi di makan dengan suasana yang seperti ini bersama teman-teman yang sebentar lagi akan berpisah, membuat semuanya terasa sangat nikmat.
Yuri meneteskan air matanya.
Bukan hanya kerena kepedasan, tapi juga sedih akan segera berpisah dengan mereka, mungkin juga akan LDR dengan Deo.