
Mereka masuk ke dalam ruang perawatan Yuri. Setelah melihat keadaan Yuri, mereka lalu keluar lagi dan berbicara dengan polisi.
"Saya mau masalah ini diusut. Kami tidak mau pelakunya sampai lepas. Siapa pun orang itu, dia harus mendekam di penjara."
"Kami akan menyelidikinya, Tuan."
Kepala sekolah, para guru, dan teman-temannya ikut sedih dengan keadaan Yuri.
"Belum pernah ada kejadian seperti ini di sekolah."
Papanya Rizki, sebagai kepala sekolah, merasa sangat malu. Kenapa saat dia menjabat kepala sekolah, ada hal seperti ini yang terjadi. Kenapa harus anak sahabatnya yang menjadi korban?
💦 💦 💦
Karena masalah ini, para murid perempuan sekarang tidak berani ke toilet sendirian, dan itu juga dikarang okeh para guru. Mereka diharuskan ke toilet bersama, atau minta ditemani oleh teman mereka. Sekuriti sekolah juga ditambahkan. Kegiatan ekstrakurikuler dihentikan sementara sampai pelakunya ditangkap.
Masih belum ada jejak yang bisa dilacak dari masalah ini. CCTV yang terpasang sudah dirusak lebih dulu. Tidak ada sidik jari atau apa pun yang tertinggal.
Yuri bangun dari tidurnya, dan langsung menjerit. Dia menangis histeris dan sangat ketakutan.
"Papi, Mami, tolong aku!" teriak Yuri.
"Sayang, tenang." Deo mencoba memeluk Yuri, tapi perempuan muda itu malah semakin ketakutan.
Papi dan mami datang bersama dokter, setelah sebelumnya melakukan konsultasi.
"Papi, Mami!" Papi dan maminya langsung memeluk Yuri, merasakan kalau tubuh anak semata wayang mereka itu bergetar kencang.
Mereka tahu, trauma itu kembali datang.
Selama beberapa kemudian, Yuri masih diam saja. Dia tidak bisa jauh dari papi dan maminya. Perusahaan untuk sementara ini diurus oleh orang kepercayaan papi dan diawasi oleh kakek Yuri dan daddy Deo.
Di sekolah, sama suramnya.
Ketidak hadiran Deo dan Yuri membuat suasana sangat sepi, dan membosankan. Mereka juga sangat kesal dengan orang yang sudah berbuat sangat jahat pada teman sekolah mereka, apalagi itu perempuan.
"Ayo kita selidiki sendiri," ajak Gara.
"Gimana caranya? Polisi saja belum menemukan petunjuk," sahut Chia.
Teman-teman sekelas Deo Yuri itu sedang melakukan meeting, membahas tentang ketua mereka yang disakiti oleh orang lain.
Tidak hanya mereka, anak-anak dari kelas lain juga ternyata ingin ikut membantu. Apalagi mereka yang pernah atau sering mendapatkan pertolongan dari Yuri.
Yuri sering membagi mereka diam-diam, baik di sekolah atau pun di luar sekolah, dan tidak pernah mengungkitnya apalagi di depan orang lain.
Dari situ mereka tahu, walau Yuri suka bicara ceplas ceplos dan terkadang terkesan sombong dan pamer, tapi itu hanya candaan saja, tidak ada maksud menyinggung siapa pun. Pertengkaran dengan Deo juga sering mereka anggap hiburan.
Tapi kali ini, ada kejadian yang seperti ini, membuat mereka tidak habis pikir. Ada dendam apa orang itu pada Yuri atau keluarganya?
"Bisa saja orang itu juga menyuruh orang lain lagi."
"Kira-kira, siapa yang iri sama Yuri?"
Kalau dibilang iri, ya ada saja yang iri. Yuri cantik dan pintar, juga kaya. Dia anak yang ceria dan disukai banyak orang juga sebenarnya.
Mereka menghela nafas.
"Coba tulis siapa saja yang kira-kura punya dendam pada Yuri di kertas."
Ada beberapa nama ditulis, misalnya saja anak perempuan yang dulu sempat berdebat dengan Yuri saat perjalanan liburan. Tapi yang paling banyak, mereka menulis satu nama ....