
Emily menatap sinis pada Yuri. Dian merasa selalu tersaingi dengan Yuri.
Apa-apa Yuri
Apa-apa Yuri
Yuri begini
Yuri begitu
"Kamu sakit?" tanya Deo, dilihatnya wajah Yuri yang pucat, dan memegang perutnya.
"Perut aku keram."
Sakit perut bulanan, untung saja Deo yang siaga sudah membawa obat Yuri. Dia lalu membeli makanan dan menyuruh Yuri meminum obat.
Emily mengepalkan tangannya, lalu pergi ke keluar.
Keesokannya
"Kamu enggak usah pergi ke sekolah, deh. Kan masih sakit perut."
"Enggak, ah. Aku mau sekolah saja."
Mereka pergi ke sekolah dengan wajah lesu karena semalam hampir tidak tidur. Bukannya apa-apa, tapi Yuri selalu mengeluh sakit perut. Untung saja Deo sudah terbiasa dan tahu akan hal ini, kalau enggak, pasti dia sangat panik.
Pelajaran ke dua adalah olah raga. Mereka berlari di lapangan, Yuri yang sudah tidak kuat dengan perutnya, meremas pelan perut itu. Dia lalu terjatuh.
"Emi, apa-apaan, sih? Lihat tuh Yuri sampai jatuh!" bentak Chia.
Yuri menangis kesakitan.
"Perut aku, sakit banget."
"Darah?!"
"Yuri, kamu nembus banyak banget."
Deo berlari menghampiri Yuri. Dilihatnya celana olah raga Yuri yang sudah basah karena darah. Tanpa pikir panjang, Deo langsung menggendong Yuri.
Chia, Airu, Gara dan Qavi menyusul di belakang.
Mereka lalu masuk ke mobil.
Beberapa saat kemudian
"Ini kita mau ke mana, sih?" tanya Chia.
"Iya, kita ini mau ke mana?"
"Rumah sakit," jawab Deo.
"Ngapain ke rumah sakit? Kan di sekolah juga ada UKS dan pembalut."
Mereka diam, kenapa baru kepikiran?
"Udah terlanjur, sekalian saja jalan-jalan."
Mereka tiba di rumah sakit enggak lama kemudian. Dilihatnya Yuri yang sudah sangat pucat, merintih kesakitan, dan darah yang bukan lagi merembes, tapi mengalir di kakinya bahkan sampai menetes di lantai.
Perawat segera membawa Yuri ke UGD.
"Segera hubungi keluarganya!" perintah seorang perawat.
Akhirnya mereka menghubungi keluarga Yuri. Deo juga menghubungi keluarganya.
"Kamu ngapain ikut-ikutan menghubungi keluarga kamu, Deo?"
"Ya sekalian, daripada nanti aku yang salah."
Cukup lama mereka menunggu.
"Kenapa lama banget, ya?"
"Iya, kan hanya datang bulan saja."
"Mungkin karena perutnya sakit banget."
"Tiap bulan Yuri kan memang keram perut, tapi emang pernah masuk rumah sakit?"
Deo hanya menyimak pembicaraan Chia dan Airu, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD.
"Di mana keluarganya?"
"Belum datang, Dok."
"Saya keluarganya," jawab Deo.
Dokter itu hanya diam. Tidak lama kemudian datang dokter lain.
"Deo, ada apa? Apa yang terjadi dengan Yuri?"
"Enggak tahu, Om."
"Dokter Farel?" tegur dokter yang menangani Yuri.
"Ada apa dengan Yuri, Dokter Juan? Yuri keponakan saya. Keluarganya sedang dalam perjalanan."
"Begini ...." Dokter Agam melihat kelima remaja di hadapannya, yang berseragam sekolah (seragam olah raga).
"Katakan saja, tidak apa!"
Dokter Juan lalu membisikkan di telinga dokter Farel.
"Apa? Tapi ...."
Dokter Juan menggeleng.
Keluarga Yuri dan Deo datang.
"Farel, apa yang terjadi dengan Yuri? Kenapa dia bisa dibawa ke rumah sakit?"
"Dokter, ada apa dengan anak saya?"
"Cepat bilang!"
"Bisa kita bicara di ruangan saya?"
"Kenapa harus di ruangan Anda? Cepat katakan sekarang!"
"Cepat katakan, apa yang terjadi dengan cucu saya! Sekarang!"