
Tidak lama kemudian datang orang-orang yang membuat mereka tertegun.
Deretan pria dan wanita yang sudah tidak muda lagi, dengan baju pesta.
"Selamat malam semuanya. Kami sengaja mengadakan pesta ini untuk merayakan pesta ulang tahun ketua yayasan."
Mereka adalah keluarga Yuri, Deo, juga sebagian dari orang tua murid yang lain, yang dulu juga sekolah di sekolah mereka saat masih muda.
"Mereka reuni?"
"Mungkin. Terserah lah, yang penting aku mau makan kambing guling dulu."
Yang muda sibuk dengan yang muda, yang tua sibuk dengan yang tua.
Kepala sekolah juga sangat senang bisa berkumpul lagi dengan teman-teman masa sekolahnya.
☘️☘️☘️
Mereka kembali ke Jakarta, dan selama perjalanan, ada saja ulah para murid yang dilakukan. Untung saja sang sopir sudah belajar dari pengalaman. Dia sudah menyiapkan headset agar tidak mendengar segala macam kicauan campur aduk para murid rusuh itu.
Deo sendiri sedang sibuk dengan ponselnya, mencari beberapa tempat wisata yang akan dia datangi bersama Yuri untuk liburan selanjutnya.
"Kamu mau liburan lagi?" tanya Gara.
"Iya, aku punya tugas penting dari orang tua aku, yang sampai sekarang belum bisa, bahkan sangat sulit aku lakukan."
"Apa?"
"Menghabiskan uang mereka. Gila, habis selembar, datang seribu lembar."
"Aku mau, buat aku saja uangnya."
Kekuatan uang memang ajaib, Yuri yang tadinya tidur nyenyak dalam ketek Deo, langsung bangun begitu mendengar kata uang yang tidak habis-habis.
"Dasar sedeng kalian semua."
"Yang penting cantik."
"Yang penting kaya."
"Baby, nanti kamu mau liburan ke mana dulu?" tanya Deo pada Yuri.
"Baby atau babi, sih?" tanya Chia, takutnya dia salah dengar.
"Babi!" jawab yang lain kompak, karena mereka menjawab berdasarkan logika, bukan pendengaran. Apa mungkin Deo memanggil Yuri dengan sebutan baby? Sepertinya tidak mungkin.
Yuri dan Deo menatap mereka dengan tajam.
"Dasar anak-anak durhaka. Apa mommy mengajarkan kalian seperti itu? Hari ini kalian tidak dapat makan, mengerti."
Guru yang mendengar itu, hanya geleng-geleng kepala. Seharusnya dia juga memakai headset seperti sang sopir. Dia ingin merasakan ketentraman selama sisa perjalanan ini.
"Perjalanan ini, terasa sengat menyedihkan, sayang kau tak duduk di sampingmu, kawan ...."
Yuri bernyanyi dengan suara indahnya. Indah bagi dirinya sendiri, dan sialnya, semua harus mendengarkan.
Mereka menyalahkan Deo yang sudah membuat Yuri bangun, lebih baik gadis itu tidur saja, kalau perlu sampai di Jakarta terus tidur, padahal mereka belum juga tiba di Surabaya.
Uang dan cantik adalah kata-kata kramat yang bisa membangunkan dan membangkitkan Yuri dari tidur panjangnya.
"Orang tau kita enak banget ya, pulang pergi naik pesawat, nah kita naik bis," ucap salah satu murid yang juga orang tuanya hadir di reuni itu.
"Maklum saja, mereka kan sidah tua. Penyakitnya banyak, sakit pinggang, encok, bokongnya sudah tipis."
Di dalam pesawat, banyak yang tersedak. Mereka mengucapkan istigfar bersama-sama, meminta keselamatan hingga sampai tujuan.
Kembali ke dalam bis.
"Pak, nanti kelas tiga kami dipisah tidak, Pak?"
"Dipisah. Kalah tidak, kasihan yang menjadi wali kelas kalian."
"Semoga kami tetap bersama, dan Bapak kembali menjadi wali kelas kami."
"Aamiin," jawab mereka serempak.
Ya Allah, apa dosa hamba?