Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Perihal Isyarat Bulan merah


Keputusan ke pulau empat musim sifat bulat sudah menjadi tekad Rani. Dia harus segera menyelesaikan pelaku teror misterius itu. Hanya ada dua pilihan, antara Bulan merah atau Binta. Rani ingin menjatuhkan pilihan tersangka ketiga yaitu makhluk di penduduk bunian, namun dia tau kalau memang dari awal penduduk bunian pelakunya pasti setelah kelahiran Rani sampai sekarang sudah menjadi kemungkinan yang besar mereka akan meneror dan menyerbu Rani. namun di tepis karena setelah kehadiran Binta dan Bulan merah kehidupan Rani semakin berubah menjadi buruk.


Tidak semua makhluk-makhluk di Penduduk bunian itu jahat. Seperti di dalam cerita yang tertulis ada beberapa makhluk yang masih mau menyelamatkan manusia. Awal peristiwa kehilangan Bara beruntun menghilangnya Tamsi. Rani masih terlalu trauma di tambah teror demi teror yang hadir di hidupnya. Rani masih bernasib beruntung di hadirkan kembali kedua sahabatnya di sepanjang waktu.


Surat pemberitahuan nama para mahasiswa pilihan ke negeri bunga indah berlanjut dengan segala hari lelah. Di ujung sore hari selesai melakukan objek wisata Rani meluruskan kaki di ruang keluarga bersama keluarga besar.


"Rani kemarilah, ayah dan ibu mau menyampaikan sesuatu."


Rani berjalan mendekati kedua orang tuannya yang menatap serius.


"Jadi ayah mau mengajak survei lokasi bagaimana keadaan disana, jika memang terarah maka kamu boleh sekolah disana."


"Terimakasih ayah, ibu."


Rani tersenyum dan mencium ke dua tangan ibu dan ayahnya. Dia sangat bersemangat di hari itu. Rani sudah tidak sabar menemui nenek misterius yang sudah menyelamatkannya dari incaran Bulan merah.


...----------------...


Tok, tok, tok.


Suara ketukan dari dinding yang sama, hanya hari-hari dan jam tertentu suara itu kembali berbunyi.


Huffhh.. sudahlah aku sangat lelah dan ingin beristirahat malam ini, gumam Rani memejamkan mata.


Tanpa tersadar Rani telah tertidur dan nampak terlelap. Pemandangan wajah anak manusia yang menghadapi hari-hari kelabu telah itu di pandangi oleh sesosok penyihir dari wilayah bunian. Malam yang gelap, pemadaman listrik telah menelan pekat. Bara memutar api di atas lilin-lilin besar dan meletakkan di atas meja belajar Rani.


"Rani sahabat ku!" bisik Bara bernada rendah


...----------------...


"Rani.."


"Dimana aku?"


Rani berjalan sepanjang sampai di ujung jalan dan terhenti di hamparan bukit yang luas. Dari atas langit, Rani melihat Bulan merah turun menghampiri Rani. Tangan kanan Rani sedikit lagi menyentuhnya dan bulan merah itu menghilang dari pandangan Rani.


"Arrgh, arghh"


Pita suara Rani sangat susah keluar mengucapkan sepatah kata. Tubuh Rani terasa kaku dan terasa sangat berat.


"Tubuhku kenapa berat sekali" batin Rani.


Matanya sudah terbuka namun tubuhnya tetap saja masih belum bisa di gerakkan.


"Ibu" kata yang terucap dari bibir Rani.


Si kucing hitam mengeong dari luar pintu kamar Rani. Suara Tamsi yang kuat membawa kak Alfa mencari sumber suara.


"Kau kenapa Tamsi?" tanya kak Alfa yang berdiri tepat di depan pintu kamar Rani."


Gerakan Tamsi yang seperti ingin mendorong pintu kamar Rani.


Tok, tok, tok.


"Dek kamu nggak kuliah? bangun!"


panggilan Alfa dari luar kamar Rani. Akan tetapi Rani masih belum bisa menjawab panggilan kakaknya.


"Kak Alfa Tolong!"