Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Perseteruan


Pertanda kedatangan bulan merah dari negeri bunga indah telah meluluh lantakkan kehidupan Rani. Tamsi tidak bisa keluar dari kotak berlapis kain hitam. Rani jatuh pingsan di pindahkan oleh Cika ke kursi.


"Bisa-bisa aku di usir Tante dan om kalau mengetahui keadaan Rani seperti ini," gumamnya.


Kring..


"Halo..Rani"


Panggilan dari kak Alfa membuat Cika kebingungan.


"Kak Alfa, Rani pingsan", sahut Cika menggigit bibir.


"Kenapa bisa pingsan? Kakak akan pulang sekarang", tutupnya.


Di bawah sinar mentari yang terik, Tamsi di bawa ke suatu tempat yang sangat jauh dari letak rumah Rani. Binta melempar kan kucing hitam yang berada di dalam kotak ke sungai di dekat hutan terlarang. Sesosok makhluk anak kecil masih membuntuti dari belakang untuk memberikan kabar dengan Rani. Tamsi di lempar ke dalam sungai yang berarti deras. Binta tersenyum menang memberikan secangkir darah segar kepada makhluk berambut putih pendampingnya.


"Ini adalah hadiah untuk hasil kerjamu."


"Kakak.."


Rani membuka matanya dan melihat jarum infus melekat pada tangan. Kak Alfa sedang tidur dengan posisi terduduk di dekat tempat tidur Rani. Wajahnya terlihat sangat lelah, sesekali terdengar suara dengkuran memenuhi ruangan kamar.


"Kak..!"


Kak Alfa kaget terbangun dari tidurnya. Dia berdiri dan mencari segelas air untuk Rani.


Rani tersenyum tipis dan meneguk air pemberian sang kakak.


"Terimakasih kak, dimana Cika?"


Rani berpikir bahwa kejadian yang di alaminya adalah kenyataan. Sandiwara apa yang sudah di lakukan Cika sehingga Rani tertekan dalam keadaan sulit. Rani hanya mengharapkan seberkas sinar di hidupnya yang penuh misteri.


Dia berpikir lagi dan menekan kembali perasaan lebih mendalam. Rani tidak ingin menambah beban hidup kak Alfa dengan segala permasalahan. Di pikirkan Rani, kak Alfa sudah sangat bersusah terbebani untuk menjaganya. Di satu sisi, jika dia ingin mengadu kepada kakaknya, apakah ada bukti? tidak, yang ada hanya ada pertengkaran kembali.


"Kak Alfa, maaf Rani ceroboh, tapi kenapa Rani harus di infus?"


Kak Alfa melipat tangan di depan dada. Dahinya mengernyit dan bibir manyun mejeng menambah wajah asam.


"Suhu badan kamu tinggi, kakak malah berniat untuk membawamu ke rumah sakit, tetapi karena ibu bilang di rawat di rumah aja dengan menyewa perawat pribadi jadi Kaka berkewajiban memperhatikan kerja perawat itu kepada adikku."


Rani memegang dahi dan merasakan sentuhan dingin seperti es beku, sangat dingin seakan mencapai kedinginan di selat Antartika.


"Mmhh aneh sekali"


...----------------...


Perawat perempuan itu bernama Bu Siti. Dia sangat telaten merawat Rani. Sudah seminggu Cika tidak terlihat. Sepertinya dia menghindar Rani. Seiring berjalannya waktu jarum infus Rani sudah bisa di lepas. Kak Alfa setelah pulang kerja juga sangat rutin memberikan tambahan vitamin dan buah-buahan.


Kak Alfa sangat paham dengan sifat adiknya yang sangat malas untuk makan.


"Kak Alfa.. ayah dan ibu kapan pulang?"


"Di perkirakan Minggu depan ayah dan ibu pulang, pesan ibu kepada Rani untuk tidak keluar ke belakang rumah."


"Huffhh" Rani menghela nafas.


Dia sangat menghawatirkan Tamsi. Makhluk kecil yang membuntuti Binta setiap hari mencoba mengajak berkomunikasi kepada Rani, namun Rani menghiraukan karena kamarnya silih berganti dengan kehadiran kak Alfa dan Bu Siti.