Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Sekali lagi


Ini adalah selembaran dari ratusan lembaran lukisan-lukisan coretan menjalani hari yang pilu akan dua dunia. Melukis adalah salah satu kegemaran para anak indigo. Tidak jarang mereka mengekspresikan diri untuk menumpahkan luapan gunung Merapi atau ombak di lautan bebas. Seharusnya mereka lebih suka melukis hantu, akan banyak hal yang memberatkan dan melarangnya. Mereka takut lukisan hantu itu hidup dan menjadi nyata, atau menjadi sebuah penampakan misterius di setiap guratan misteri.


Gadis bermata biru mempunyai amarah yang sangat sulit untuk di kendalikan. Namun air tidak akan mendidih dan menguap jika tidak di panaskan oleh kejahatan yang menghadang. Dahan ranting pohon yang kokoh tidak akan terbakar jika tidak di sulut oleh api kehancuran.


Air laut tidak akan meluap jika tidak di guncang oleh penghianatan.


...----------------...


Hari ini tidak ada hujan atau tetesan embun yang membasahi pepohonan ataupun genting rumah. Tidak juga dengan siraman kebahagiaan dari pasir Waktu. Jadi siapa yang memberi genangan dan juga tanda di atap kamar kak Alfa?


Flashback mengulang mimpi Rani, akan pertemuan dengan nenek tua yang sama di belakang rumah. Bekas rumah waktu silam peninggalan Belanda memberi gambaran sesosok laki-laki misterius pemilik rumah lamanya. Koleksi hewan yang telah dia jahit hidup-hidup itu di awetkan dan di susun di ruangan bawah tanah dekat pohon besar. Sepertinya tuan Thomas adalah pelaku tersangka pembunuh hantu wanita penunggu kamar kak Alfa. Atap kamar yang basah menetes air yang beraroma tidak sedap. Semua itu semakin nyata karena balasan ketukan dari balik dinding yang di balas oleh kak Alfa.


"Usir saja dia."


Anak bunian yang menggendong boneka Teddy bear menunjuk makhluk yang menempel di dinding kamar kak Alfa.


"Seharusnya dia mengesot, kenapa jadi menempel di dinding? menyusahkan sekali", gumam Rani.


"Rani, ikutlah denganku"


Tamsi berlari menuju keluar rumah di susul oleh jalan santai tubuh Rani yang masih ngilu oleh bekas luka-luka kecelakaan kemarin . Tamsi menunjukkan batu besar di depan rumah yang persis sama di lihat oleh Rani saat berjalan-jalan di bawah alam tidurnya.


"Jadi, batu besar ini adalah benar tanda kuburan nya?


"Ayah, kenapa atap kamar Alfa masih bocor? bukankah sudah di perbaiki?"


Panggilan suara ibu dari dalam rumah yang terdengar oleh Rani. "Aku harus mencari cara agar dia tidak menggangu kakakku"


...----------------...


Pembicaraan panjang setelah makan siang di tutup dengan pemindahan kamar Alfa. Di rumah itu seakan penuh misteri setelah pemberitahuan kak Alfa mengenai hantu ngesot yang mengejar-ngejarnya.


"Jangan keterlaluan seperti itu, aku hanya ingin mendekatinya", bisik makhluk yang berada di kamar Alfa.


Rani mengabaikan perkataannya dan pergi berlalu. Tamsi tetap berada di kamar Alfa seolah berbicara dengan makhluk itu. Dari balik pintu, Rani melihat Tamsi yang terus berdiri dan menatap atas dinding kamar Alfa.


"Kak..."


Anak kecil menarik baju Rani dan memasang wajah memelas. Tangannya yang panjang seperti akar menjulur meminta sesuatu pada Rani.


"Tidak, jangan ganggu aku! tidak ada permen atau apapun!"


"Padahal jika kucing itu mati, bukankah aku pengganti temanmu?" Perkataan yang terdengar menyakiti hati Rani.


Lemparan sendal kayunya telah mendarat sempurna di kepala makhluk bunian itu. Dia menangis dan menghilang meninggalkannya.