Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Serangan Makhluk ghaib


Rani semakin berangsur membaik dengan hiburan tingkah laku Tamsi yang membuat dia tertawa di samping. Dia mencari jejak-jejak bersejarah mengenai reruntuhan bangunan kuno yang masih menjadi teka-teki di kehidupan. Rani masih menggali cerita dan menyusuri bekas-bekas reruntuhan kuno. Dia berdiri di sebuah bekas puing-puing artefak di dekat pulau jawa. Rani menyentuh tiap-tiap ukuran dari benda-benda itu. Ada hawa panas yang terasa di tangannya. Seketika matanya tertuju di sebuah tangga tua yang telah retak di dekat sungai.


"Rani ayo kita pulang, ibu dan ayah telah lama menunggu kita", teriak kak Alfa.


"Rani akan menyusul turun ke kebawah bersama Tamsi kak", jawab Rani.


Hari itu mereka kembali berkunjung ke wilayah pulau sawah kuning di sekitar pesisir pantai.


"Tamsi bantulah aku mencari dimana jasad Bara", raut wajah Rani begitu khawatir, dia sangat menghawatirkan Bara.


Hari mulai petang namun tidak ada tanda-tanda yang terlihat.


Tamsi mengeong ke arah sungai yang berada di dekat puing bangunan. Dia mengorek di antara tepi sungai dan lumpur yang berair. Tampak cincin delima merah yang timbul karena hasil bekas cakaran tamsi dari dalam pinggiran air sungai.


"Aku tidak mau memungutnya Tamsi ! aku tidak mau mendapat akibat dari benda-benda ghaib itu", kata Rani sambil mengangkat kucingnya itu pergi menjauh dari sungai.


"Kakak, kak.." panggil makhluk bunian yang berada di belakang halaman rumah Rani.


Pencarian di akhiri ketika hari mulai senja, Rani juga tidak menghiraukan perkataan makhluk itu dan pulang menuju villa bersama keluarga. Malam ini mereka menginap di dekat villa yang letaknya tepi laut. Terdengar suara tangisan dari sudut lorong kamar-kamar yang berada di penginapan itu.


Seorang anak laki-laki mengadah tangan menemui Rani dengan rambut yang lusuh, dia berkata," Tolong bantulah aku, wanita tua itu ingin memukul ku!"


Kemudian anak laki-laki itu menghilang dengan sambutan angin yang kencang.


Rani sedang bermimpi berdiri di pesisir pantai dengan wanita asing di hadapannya.


Dia menatap wanita yang sinis itu dan berjalan menjauh darinya.


"Aku tidak pernah mencampuri urusan siapapun!" Rani membalas jeritan.


Wanita itu mencekik leher Rani, "Matilah kau, Seandainya kau melancarkan niatku membunuh orang-orang yang ku inginkan dan tidak melepaskan putri duyung itu ! kau pasti akan selamat!"


Darah Rani bercucuran deras membasahi celah-celah jemari panjang makhluk. Dia membanting tubuh Rani ke tengah lautan lalu Rani pun tenggelam. Tamsi berlari melompat memasuki lautan. Tamsi juga ikut menghilang dari pandangan makhluk jahat itu.


Dari tengah lautan, Air ombak menggulung menghempas ke arah tepi pantai. Makhluk itu tidak menghiraukan semburan ombak yang menggulung tinggi. Dia masih saja berjalan ke arah air dan menyelam mencari-cari keberadaan Rani dan tamsi.


"Wahai kau penghuni laut, aku akan mengambil santapanku yang berada di sini!" seraya dia berteriak dan masuk mencari mereka.


Ombak menggulung Rani dan menghempaskannya ke tepi. Makhluk itu tertawa dan berkata, "Hahah tamatlah riwayat mu!"


Tamsi berubah wujud dan menggendong Rani menghilang dari pandangan keganasan wanita.


"Tunggu aku akan mengejarnya sampai ke ujung dunia!" teriak wanita tersebut.


"Argghh", jeritan Rani membangunkan seisi villa.


Ibu mengguncangkan badan anaknya berusaha menyadarkannya, "Bangun kamu kenapa nak?"


Mata Rani terbuka dan dia terbangun dari tidurnya, seperti mimpi yang nyata. Leher Rani penuh darah seperti cekikan kuku panjang.


Ibu menutup darah yang mengalir dari leher Rani dengan selimutnya.


"Rani apa yang terjadi denganmu nak?" tanya ibu dengan histeris.