Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tanda kunci misteri


"Tamsi..."


Panggilan suara Rani mencari-cari sahabatnya.


Tiupan angin menggoyangkan kotak berpindah di tepi sungai. Pepohonan bergerak seakan membuka jalan bersama sorot Lentera Rani. Kotak hitam itu telah terdampar tersangkut pada akar pohon, Tamsi sepertinya masih mendapat nasib baik karena kotak tidak sampai menuju muara aliran sungai besar. Jika Kubik air di sungai bunian mencapai kapasitas yang tinggi pasti akan membawa benda itu hilang tanpa tersisa.


Lama sekali Rani menyisir sungai dan melihat kotak tersebut dari kejauhan. Rani berlari menghampirinya, bajunya basah menenggelamkan setengah anggota badan.


Kucing tampan tampak sangat lemah. Dia berupaya tegar bangun menggapai tangan Rani. Makhluk yang sangat penurut bangkit kembali disisi Rani.


"Sudah cukup semua sekarang hanya tinggal kita dua saja" bisik Rani.


"Terimakasih majikan ku"


Kerling mata tampan Tamsi berusaha menunjukkan dia berupaya memberi semangat kepada Rani.


"Bagaimana kita bisa melewati penunggu sungai disana? batu permata itu telah aku berikan kepada anak-anak kecil sebagai pengganti mereka keluar dari tempat ini?" tanya Rani.


Si kucing hitam melihat ke sekeliling mencari jalan lintas menghindari makhluk. Kekuatan Tamsi masih sangat melemah. Mereka tidak tau cara kembali menembus dimensi ghaib. Makhluk aneh penunggu batas sungai itu masih tampak melingkar di dahan.


"Rani.. Cucuku"


Panggilan suara yang tidak asing di telinganya. kakek tua penjaga wilayah bunian meriah. Dia kembali mengantar Rani dan sekarang membawa Tamsi menuju dimensi nyata.


...----------------...


"Rani..."


Rani terbangun dari mimpinya, itu adalah mimpi yang nyata. Rani berlari memastikan keberadaan Tamsi di keranjang tempat tidurnya. Senyum kemenangan berkibar membersihkan hujan badai tadi malam. Tamsi telah kembali dan sedang tertidur di ruang keluarga.


"Ah.. kini tinggal menunggu kedatangan Bara"


Bisik Rani menuruni anak tangga sambil mengingat jejak-jejak tanda tanya yang di berikan pada Rani ketika bersama Bara dahulu.


Tapak kaki menuju anak tangga terakhir.


Dibawah sana sudah ada keluarga besar yang berkumpul. Cika berdiri dengan tas dan koper di dekatnya. Wajahnya melipat berkerut dan masam. Dia jengah acuh tak acuh mengabaikan Rani.


"Rani sayang, ayok pamitan sama Cika.. dia mau kembali ke negeri teratai putih" Senyum ibu sembari mengusap rambut Rani.


"Ya Bu.. hati-hati ya Cika" sahut Rani berjalan memeluk pinggang ibu.


Sepertinya Alfa tidak menceritakan hal aneh itu kepada ayah dan ibu. Demian juga Rani yang masih menekan segala perasaan kecewa pada Cika.


"Mmh.. setelah kau hampir membunuh Tamsi kini, bukannya minta maaf padaku. Kau malah membuang jejak pulang" batin Rani.


Ingin sekali Rani memberitahu keluarganya tentang perbuatan Cika. Tapi karena Cika adalah sepupu Rani yang hidup tanpa sesosok kedua orang tua. Rani memilih diam dan mengabaikan semua kejadian yang telah berlalu. Bambu kuning pemberian Rani kini sia-sia setelah menyelamatkannya dari makhluk yang menggangu Cika. Mereka berpamitan mengantarkan kepulangan Cika dengan lambaian tangan.


...🔥🔥🔥...


"Tidak ada yang masuk akal disini semenjak aku ketemu hantu tadi malam !" batin Alfa.


Aneh sekali, pikirnya. Alfa tersadar dari lamunannya. Dia mengerjakan mata, memusatkan perhatian pada lukisan Rani di samping halaman rumah. Alfa menyapu halaman dengan lamunan yang melambung tinggi.


"Seakan-akan bergerak sendiri, mengapa hantu itu mengganggu ku?"