Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tirai maut


Sisa air hujan tadi malam menggenangi jalan lintas menuju hutan Cemara rimbun.


Perjalanan menuju negeri bunga indah memakan waktu tujuh jam lebih setelah penerbangan dari pulau hijau. Hutan suasana kuno yang berkisar ribuan tahun lamanya mengisahkan berbagai misteri yang terselubung. Ayah mengemudi mobil bersama keluarga besar dari kota X ke hutan Cemara rimbun berlanjut melewati tiga jam karena jalanan banyak berjatuhan dahan-dahan pohon yang patah di tengah jalan.


Rani masih ingat betul hutan Aokigahara ini menjadi saksi keanehan nenek. Di kala itu saat hujan datang, nenek berlari menuju keluar rumah di susul oleh Tante Ela. Nenek mengubur album foto keluarga di antara pohon-pohon yang sudah di lewati oleh mobil Rani keluarganya sekarang. Kejadian itu masih teringat jelas di pelukan mata Rani, dia paham betul akan kesedihan Cika yang kehilangan Tante Ela. Akan tetap ketika Rani berjalan-jalan ke dua dimensi, dia melihat satu rumah angker meresahkan pikirannya sampai saat ini. Seolah semua kejadian itu masih menjadi tanda tanya apalagi sampai membakar habis rumah kakek dan nenek.


Rute perjalanan lintas di telusuri oleh ayah, dia masih terlalu muda jika pikun mengingat jalan yang sering di lewati ketika ke kota bunga indah. Sudah dua kali seolah mobil mereka berputar-putar di hutan itu. Lama sekali, bekas rumah nenek dan kakek seharusnya dekat dengan rumah paman dan bibi.


"Sudah sampai belum yah?" ibu menggigit bibir dan mengamati keadaan dari luar jendela kaca mobil.


"Aneh sekali karena biasa rumah paman dan bibi tidak begitu jauh."


Ayah mencari-cari jalan potong, dahinya sudah menggerut sesekali ayah mengetuk-ngetuk lengan setir. Tangannya sudah hampir kebas terlalu lama menyetir.


Di sisi lain Alfa sedang sibuk mendengarkan musik di MP3 dengan menganggukkan kepalanya. Keras sekali suara musik dari ear phone-nya sampai keluar terdengar oleh Rani. Kakaknya yang pecinta zombie yang berkeinginan juga ingin seperti zombie, sungguh menggelikan pikiran Rani jika kakaknya benar-benar menjadi zombie maka Rani membayangkan maka dirinya pasti akan di gigit dan dia menjadi zombie indigo, sungguh pemikiran yang sedang kacau balau.


"Haduh Kak Alfa!" pekik Rani.


"Kak Alfa!" Rani menarik ear phone dari telinga Alfa. Wajahnya tersenyum geli melihat ekspresi aneh kakaknya.


Tin, tin, tin ( Suara klakson mobil).


Seisi mobil kaget menyaksikan rem pakem ayah yang hampir menabrak seseorang.


Klakson panjang ayah memberi kode minggir pada seseorang yang berdiri di tengah jalan tadi sepertinya tidak di dengar oleh orang tersebut.


"Ayah hati-hati, kita bawa anak-anak" ibu Aisyah mengomel panjang melihat suaminya.


"Ibu.. ayah tidak salah karena orang gila itu yang salah" tunjuk Alfa.


"Husshh nggak boleh sembarang ngomong gitu apalagi di daerah sini Alfa" ketus ibu.


Sepertinya dia bukan orang yang pernah di lihat Anggota keluarga. Rani hafal betul sosok itu, sosok yang menggangu sepupunya. Dia telah mengetahui semua hal lewat anak-anak bunian yang ikut mengajaknya bermain di hutan. Makhluk yang sama yang merasuki nenek dahulu.


"Ayah, ibu dan kak Alfa jangan ada yang keluar mobil sebelum lewat jam 12 siang."


Rani merendahkan suaranya dan membisikkan sesuatu ke telinga ibu.


"Dia yang pernah merasuki nenek dan Tante Ela Bu."