Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Lika-liku api abadi


"Binta lepaskan tangan mu yang kotor dari pundakku sekarang atau.."


"Atau kau mau memanggil kucing bunian yang sudah kerdil itu? ahahah, sebentar lagi dia akan mati!" bentak Binta.


Rani membalikkan badan dan menamparnya.


Prraggghh! Tangan Rani sukses mendarat di wajah Binta.


"Tidak perduli kau manusia jadi-jadian atau kau iblis menyerupai manusia. Tapi sudah ku katakan jika kau menghina sahabatku berarti kau menghina diriku sendiri"


Angin berhembus kencang di Padang hamparan rumput yang luas. Suara semilir bisikan angin bersahutan di telinga Rani.


"Siapapun kalian tidak semua Makhluk ghaib itu jahat! bantu aku mengusir makhluk yang di hadapan ku ini! " bisik Rani.


Pepohonan bergoyang di terpa angin kencang membawa dahan yang patah berhamburan. Tangan Binta yang masih kokoh mencengkeram pundak Rani kini terlepas. Hawa panas bagai api yang menyala tiba-tiba muncul di tubuh Rani.


"Sial! kenapa kenapa tiba-tiba tubuh gadis ini mengeluarkan api"


Binta mencoba berjalan mendekati Rani. Perlahan dia mendekati Rani namun tangannya sangat sulit menggapai Rani.


"Lari" bisik makhluk yang tidak terlihat oleh Rani membuyarkan emosinya.


"Lari!" hentakan suara makhluk itu bergema.


Rani berlari meninggalkan Binta yang masih di tahan oleh pusaran angin kencang.


"Tunggu pembalasan ku!"


...----------------...


Tap, tap, tap.


"Aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh lemah" gumam Rani.


Kamu menelepon di saat yang tidak tepat mi. Pikirnya.


Pulang tanpa ongkos dan kak Alfa masih di kantor dan ayah ibu masih berada di luar kota. Bagaimana caranya agar Rani bisa pulang? Rani terus berjalan dan mencoba memutar pikiran. Hanya ada satu cara pulang melewati penduduk bunian. Namun di sisi lain Rani takut lebih tersesat jika perjalanannya tidak tembus menuju halaman belakang rumah. Dia menghentikan langkah di pinggir trotoar jalan. Jalan jembatan layang itu terdapat sungai di bawahnya.


Rani tidak berniat lompat seperti film drama Korea yang mengakhiri hidup tersiksa sebagai anak indigo. Dia hanya termenung dan melamun sambil menikmati air sungai dari atas jembatan. Dorongan untuk terjun bebas di tepis Rani sejauh mungkin, Rani tidaklah gadis sebodoh itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Rani menunggu kakaknya yang biasa pulang kerja dua jam lagi. Dia tidak mau mengganggu kakaknya atau seorang adik yang terkesan seperti anak bayi.


"Bara!"


"Bara! kau dimana?" batin Rani sambil melempar batu-batu kecil ke arah sungai.


...----------------...


"Rani.. maafkan aku yang tidak hadir! aku mendengarnya ya benar suara manjaku itu Sahabatku" gumam Bara.


Bara sudah mempunyai ikatan di penduduk bunian yang tidak bisa di lepaskan begitu saja. Dia pernah mencoba merubah keadaan namun tragedi demi tragedi membuat pertikaian kepada makhluk-makhluk yang tinggal di wilayah bunian.


"Aku akan selalu berusaha untuk menjaga mu walau hanya dari kejauhan."


Bara memandangi Rani dari balik bola kristal.


...----------------...


"Bara! dimana kau?"


Lemparan batu kerikil kesekian kalinya. Rani mengirimkan pesan ke Mia. Keringat di dahinya sudah meluncur deras. Rani benar-benar terasa sangat lelah.


📩Mia jemput aku sekarang di jembatan layang atau semua akan berakhir.