Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Pertanda Aska


Hujan deras mengguyur kota sepanjang hari kemarin. Janji Mia dan Rani kepada Aska untuk berziarah kerumah baru neneknya Aska di urungkan. Mereka pulang ke rumah masing-masing dan berjanji kembali akan berkunjung lagi ke rumah Aska. Mia duduk bersama Tamsi di teras sembari menyelesaikan lukisan-lukisan. Dari balik pintu, Rani mendekati dan melihat sesosok wajah yang sangat mirip dengan Aska.


"Aska, kamu Aska tidak?" kata Rani gemetar.


Aska berlari ke arah jalan luar rumah , Rani mengejarnya dan di susul Tamsi dari belakang.


"Aska tunggu, elo kenapa?"


Rani begitu tergesa-gesa mengejarnya. Tanpa sadar dia telah tersesat di suatu tempat yang sangat asing baginya.


"Oh tidak, dia terlihat jelas seperti sahabat ku. Kenapa dia menjadi aneh sekali? gumam nya berkecamuk.


Rani berhenti di lautan luas berwarna hitam. Berbeda dari laut yang pernah Rani singgahi Waktu itu, laut yang bersinar cerah berwarna hijau kebiru-biruan. Ada penampakan ganjil yang terlihat tentang kehadiran Aska. Terlihat Aska duduk di pinggir laut dengan pandangan kosong memakai gaun putih. Namun Rani tersadar bahwa Aska sedang duduk di atas kasur neneknya yang sudah mengambang di atas air. Wajahnya begitu pucat dan tidak ada jawaban sedikitpun darinya kepada Rani.


"Aska elo ngapain duduk disitu dan ada apa dengan baju Lo? kata Rani.


Rani berjalan mendekati Aska dan memegang tangannya.


"Astaga Aska tangan Lo dingin banget!" jerit Rani.


Suara tangis panjang Aska seperti merintih membuat merinding bulu kuduk Rani.


"Rani, gue pamit ya mau pigi di panggil nenek!" kata Aska dengan suara lirih dan terbata-bata.


"Aduh jangan mengada-ada gue nggak suka. Tamsi sini lihat sahabat Rani kenapa? Hiks ,suara Rani bercampur tangisnya menjadi satu.


Namun Tamsi tidak sama sekali mendekati mereka, Tamsi hanya memandang tajam Aska.


"Maaf ya udah di panggil nenek ", Kata Aska.


"Sebenarnya nenek Lo ikut ilmu apa? gue nggak terima dengan keadaan Lo seperti ini!" kata Rani.


Rani dengan sekuat tenaga menarik tangan Aska yang dingin, kaku dengan sekujur gaun putih tersapu ombak di laut. Namun semua terlihat hanya sia-sia belaka karena Aska telah menjauh ke arah tengah laut. Manik lingkar netra menghitam, dia duduk di atas kasur itu sambil memandangi Rani.


"Hiks, hiks"


"Kenapa dengan sahabat ku? Misteri apa yang tersembunyi dari nenek Aska sehingga cucunya berubah drastis mengerikan", batin Rani berkecamuk menyaksikan kejadian tragis yang menimpa sahabatnya.


Perlahan dia merebahkan tubuhnya ke kasur dan melayang di antara lautan.


"Aska!", jerit Rani.


Rani berusaha melompat ke dalam laut. Akan tetapi seketika suasana berubah drastis dan Rani terjatuh di halaman belakang rumahnya. Dia keluar dari lubang hitam rumahnya yang pernah dia lihat dari dunia ghaib lain. Seiring perpindahan waktu dimensi lain, Rani kembali lagi ke menuju rumah. Batingan suara pintu rumah mengagetkan ibu.


"Apa yang terjadi sehingga kamu berantakan seperti itu?" tanya ibu.


"Rani melihat Aska Bu, Aska!" kata Rani. Bersusah payah dia mengatakan kejadian yang telah di alami.


Ibu menenangkan Rani, Rani beristirahat di dalam kamarnya dan memejamkan mata.


Genangan air matanya masih mengalir deras dari pipi.