
Hari ini adalah jadwal padat Rani mengunjungi perpustakaan di kampusnya, ada banyak buku-buku yang harus dia cari untuk bahan tugas.
Aku Rindu Aska dan Geri, gumam Rani.
Air matanya mengalir di pelupuk matanya, dia sangat sedih dan khawatir akan mereka.
"Rani sudah jangan nangis aja sini peluk!" kata Mia membuyarkan lamunan Rani. Mia mengusap air mata Rani dengan secarik tisu.
"Makasih ya", jawab Rani.
"Aku bawa Nara, anak kampus sebelah dia mau cari buku juga!" Ucap Mia sambil menarik tangan Nara.
"Hai Nara gue Rani", ucap Rani sambil tersenyum dan memberi jabatan tangan ke Nara.
Tangan Nara sangat dingin dan Rani melihat ada nenek tua yang bergelantungan di atas langit-langit ruang perpustakaan tepat di atas kepalanya.
"Makhluk apa itu?" gumam Rani sambil menoleh ke atas.
"Kamu lihat apa?" kata Nara bersuara datar.
" Tidak ada apa-apa"
Seolah kamu tau aku sedang lihat apa. hahh, seperti ada yang nggak beres! batin Rani menatap Nara.
Saat sudah selesai dan berada di luar perpustakaan, Rani, Mia dan Nara berjalan ke arah kantin kampus. Rani menoleh ke arah perpustakaan lagi, dia melihat sedang ada hujan yang begitu lebat di sekeliling pada bangunan perpustakaan Namun di tempat kampus lain cuaca cerah dan matahari bersinar terik.
Adakah penghuni atau dunia lain di tempat itu? batin Rani. Mereka duduk dan memesan meja di depan kantin.
"Kamu kok porsi makan kamu jumbo jua ya?" tanya Nara.
"Eheheh" ,(tawa Mia sambil melirik ke arah Rani).
"Baiklah anggota baru Jangan tanya kenapa dan mengapa atau bagaimana? karena Rani adalah Rani dan dunianya", Jawab Mia.
"Ahahah ada-ada aja kamu Mi dan buat Nara , ini lah aku yang apa adanya ", kata Rani dengan melahap lauk pauk kesukaan.
"Oh, kalau gitu aku gampang masak sayur mayur ala bontot hemat untuk Rani , ehehehh", jawab Nara.
...----------------...
Selepas dari kampus Rani sedang menyusun buku-bukunya ke rak buku meja belajarnya.
Tamsi mana ya? Tamsi, miaw!" panggilan alarm Rani ke tamsi.
Namun kucing tersebut tidak bergeming akan panggil Rani yang biasanya Tamsi langsung berlari menghampiri Rani dari segala penjuru.
"Bu, Lihat Tamsi?" tanya Rani.
Ibu sedang mengaduk tepung di dapur dan jarinya menunjuk ke arah bawah mejanya.
"Tuh dia lagi tidur di bawah meja ibu!" sahut ibu.
Rani langsung mengangkat si kucing ke arah ruang keluarga. Badan kucing itu sangat dingin dan hampir kaku.
Tamsi kenapa? gumamnya. Dia sangat khawatir dan langsung mengambil kain dan membalut tubuh nya rapat-rapat.
"Di daerah sini tidak ada dokter hewan? ayah sedang pergi dinas ke luar kota dan kak Alfa belum pulang kerja, apa yang harus aku lakukan?"
Rani menggendong Tamsi ke belakang rumah.
Dia terus memandangi lubang hitam yang terletak di sebelah kanan di halaman rumahnya dan rumah penduduk bunian di sebelah kiri halaman.
"Mana yang harus aku pilih? aku sangat bingung."
Rani terus menatap Tamsi dengan gelisah.
Dia mendekati lubang hitam dan berhenti tepat di depannya. Jika dia masuk kesini, akankah dia bisa menemukan jalan pulang? batin Rani berkecamuk.
"Hei kak!" seorang makhluk melempar Rani dengan buah jambu biji.
"Aku sedang kebingungan, tolong jangan menggangguku", jerit Rani.
Tidak pernah Rani membentak bangsa mereka walau amarah berlebihan apapun ke Rani. perasaannya tidak bisa di tutupi lagi.