Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Hari H (Segalanya tidaklah abadi)


"Hei gadis ghaib, ikutlah dengan kami."


Perjalanan mereka menuju tempat seperti lubang berbentuk selokan besar di dekat hutan terlarang.


SAMPAI PADA HARI-H


(Semuanya terasa seakan tersambar oleh petir di siang hari)


 


"Apakah dia adalah kucing mu?"


Bentak suara seekor kucing loreng menunjuk ke seekor jasad kucing hitam yang telah kamu di dalam lubang yang sangat lebar dan dalam.


Dari atas sana, Rani berjongkok dan ingin memastikan dan turun ke bawah. Selokan tampak sangat lebar dan dalam.


"Tidak! aku tidak percaya! kalian semua mengelabui dan membohongiku!"


"Kenapa masih tidak menerima kenyataan, kami hanya menyampaikan kebenaran"


"Tidak! Hiks, hiks."


Air mata Rani sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia menjerit sekuat tenaga berusaha berdiri dan terus menerus memanggil Tamsi. Rani berharap Tamsi akan terbangun dan melompat ke arahnya.


"Tamsi bangun, ayo pulang."


Rani terus menerus memanggil nama Tamsi dan mengusap air mata bagai hujan yang deras. Mimpi tadi malam seperti nyata.


...----------------...


Tidak ada lubang hitam Fortal ghaib untuk menembus dimensi yang berbeda. Tidak ada lagi wilayah bunian dengan penduduk bunian yang sama untuk Rani berpetualang. Halaman belakang rumah akan segera di tinggalkan.


Suara Rani lirih seperti berbisik sendirian dengan berlinang air mata. Gadis bermata biru itu benar-benar sangat terpukul. Sepasang mata yang bengkak dan hidung yang menjadi berwarna merah seperti tomat. Dari sudut bola mata, masih terlihat jelas banjir yang belum reda. Di dalam alam bawah sadarnya tadi malam yang seakan menembus dimensi ghaib, gambaran pertanda kucing kesayangan yang telah pergi untuk selamanya.


"Kalau memang semua salahku, aku sangat berdosa karena Tamsi jadi terbunuh oleh Bulan merah dan Binta."


Rani memandangi foto kucing tampan itu di wallpaper depan ponsel.


"Hiks, hiks."


"Kucing Rani tidak pergi, dia hanya berpindah di tempat yang berbeda dan kakak turut berduka lagi sedih, Tamsi akan selalu hidup di hati Rani untuk selamanya."


Perkataan kak Alfa yang sedikit menguatkan batin, Alfa menyodorkan segelas jus jeruk asam kesukaan Rani.


"Terimakasih kak, minuman ini seperti rasa hidup Rani! hiks, hiks."


Sudah berduka masih saja membuat kak Alfa ingin menaikkan sudut bibirnya mendengar perkataan adiknya terlihat sangat merana. Kak Alfa mengusap rambut Rani dan meninggalkan adiknya untuk menenangkan diri.


Dari sisa hujan semalam Rani belajar banyak hal arti kesetiaan akan ketulusan persahabatan yang di berikan oleh si kucing hitam. Jika benar Tamsi telah mengorbankan nyawanya demi gadis bermata biru. Maka seharusnya Rani tidak boleh menyiakan hidupnya. Binta telah lenyap setelah pertempuran dengan si kucing hitam. Dan bulan merah seakan menjauh dari Rani setelah melawan Tamsi dan Bara. Malam dengan sekuat tenaga, mereka menyatukan kekuatan untuk melawan bulan yang ganas itu namun Tamsi yang tidak sekuat Bara telah lenyap dan mati akibat sihir, kekuatan bulan merah.


Perpindahan rumah


Hari yang sibuk dan melelahkan . Rani dan keluarga menyusun semua barang-barang untuk di bawa oleh mobil-mobil box besok pagi. Sebelum meninggalkan rumah bersejarah itu, Rani menuju wilayah belakang rumah dan berbicara dengan bahasa batin ucapan kata-kata perpisahan.


"Hikss, hiks."


Lidahnya terlalu kaku untuk mengucapkan secara fasih dan air matanya sepertinya belum bisa berhenti.


"Tamsi, oh Sahabat ku."