
Rani mencari si kucing di sekeliling rumah, dia seperti mimpi terlihat di depan matanya Tamsi menghilang tanpa tanda-tanda apapun.
"Tamsi!"
Rani terpeleset dan hampir loncat ke luar jendela saat menoleh ke luar.
Bara menarik Rani dan tersenyum, Rani yang baru tersadar akan kehadiran Bara langsung bertanya, "Bara, apa kau melihat Tamsi ku?"
Bara memegang Tamsi dan memberikannya ke Rani.
"Aku baru saja meminumkannya serbuk sari penawar racun, bukan hal yang baru kucing ini menelan seekor ular. Tapi ular yang dia telan kemarin itu adalah ular yang dimasuki penghuni ghaib."
Bara dan Rani kembali masuk ke kamar, mereka duduk di bawah tempat tidur Rani sambil meletakkan Tamsi di atas selimut yang tebal.
Bara mendekati Rani seraya berkata: "Sungguh bahagianya kamu Tamsi di urus majikan yang tidak banyak menuntut apapun seperti Rani ! Oh iya Rani dengarlah, Nara teman baru kalian itu anak seorang dukun sakti yang suka bertapa di bawah pohon bendo , kamu pasti tau kan pohon besar mengerikan itu tempat apa?"
Rani menganggukkan kepalanya dan berkata; " Ya disana adalah rumah segala macam makhluk halus, di setiap dahan ranting tersembunyi segala rupa mereka".
FLASH BACK 16 TAHUN LALU.
Terdengar suara ketukan pintu begitu keras mengejutkan seisi rumah.
"Ada apa Ela? kenapa engkau begitu tergesa-gesa? dan seharusnya kalau mau kesini kasih kabar ke kakak dahulu sebelum sampai bandara biar Kaka atau Alfa yang jemput!" ujar ibu.
"Kakak, tolong lah anakku ini kak?" Tante Ela menggendong Cika kecil yang lemah tak berdaya.
Ayah menggendong Cika dari buaian Tante Ela dan membawanya ke ruangan keluarga sedangkan ibu menyiapkan bantal dan selimut. kak Alfa berlari membawa kan telepon genggam yang di suruh ibu, keadaan hari yang begitu risau.
"Kau beristirahatlah sebelum dokter datang, aku mau melihat Rani di kamarnya", kata ibu ke Cika.
Rani kecil sedang tertidur pulas di kamar dengan boneka di sekitar tempat tidurnya.
Lalu ibu menggendong Rani sambil kembali menuju ke rumah keluarga.Dokter telah datang dan hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Cika kecil baik-baik saja. Mereka belum cukup puas dengan keadaan Cika yang masih sangat lemah tidak berdaya. Mereka sangat khawatir, Ibupun sambil menggendong Rani kecil menemui nenek tetangga depan rumah mereka untuk meminta tolong kepadanya.
"Bagaimana keadaan anakku? tolong lah anakku nek", kata Tante Ela.
Hiks, hiks, hiks (Tangis Tante Ela pecah).
"Tolong bantulah keponakan ku nek", kata ibu.
"Syarat Adalah dengan membuat beberapa pincuk makanan tepung beras yang di taburi gula merah, letakkan di bawah pohon itu untuk menebus jiwa anakmu, jangan sampai aku yang turun tangan dan menjumpai makhluk jahat itu'', kata nenek.
"Terimakasih nek! hari ini aku akan langsung memasaknya dan sore hari aku langsung mengantarkannya", jawab Tante Ela.
Nenek duduk di samping Rani kecil yang tertidur di pangkuan ibu.
"Jagalah anak istimewa ini, sukmanya suka berpeluang saat dia tertidur atau terbangun", kata nenek sambil mengelus rambut Rani kecil.
"Anakku ini memang suka melihat makhluk tidak kasat mata nek, petuah dan nasihat selalu aku suguhkan untuk keselamatannya", kata ibu.
"Aku ini dulu juga seperti Rani kecil, hidup yang sangat menyedihkan karena belum terbiasa akan kehadiran mereka, namun seiring berjalannya waktu atas kuasa yang Maha Esa di hari tuaku aku bisa mengobati beberapa penyakit non medis dan kemungkinan dia juga bisa seperti ku!" tutur sang nenek.
setelah Tante Ela menyiapkan syarat yang di minta nenek maka Tante dan nenek di bonceng ayah pergi ke rumah Tante Ela. Ayah mengemudikan laju mobil dengan kencang agar secepatnya sampai tujuan. Hari yang membuat mereka semua sedang tergesa-gesa.
Setelah pemberian syarat mereka pulang dan berharap akan kesembuhan Cika kembali.
Ya benar sesuai perjanjian, mata Cika kecil perlahan kembali di buka dan diapun menangis.
"Jadi seperti itulah cerita yang ku dengar dari ibu, aku memang sudah tau kalau sepanjang hari Cika bermain di salah satu ranting pohon bersama anak-anak kecil disana, aku melihatnya dari mimpi dan saat ku panggil Cika pulang, ada sesosok makhluk tinggi besar yang melotot. Lalu aku terbangun, juga pohon bendo kedua di hutan bersama sahabat ku", kata Rani yang bercerita panjang ke Bara.
"Nenek yang sudah meninggal itu matinya tidak wajar, dia menyelamatkan Cika yang di sembunyikan makhluk gundo, lantas makhluk itu berbalik memburu sang nenek karena marah kepada nenek yang telah berhasil melepaskan tahanannya!" jawab bara sambil merapikan tempat tidur Rani.
Rani terkejut mendengar pengakuan bara , ternyata itu jawabnya. Dia teringat bambu kuning yang di berikan nenek kepadanya dan dia berikan lagi kepada Cika.
"Tidur lah, kau harus mempunyai tenaga untuk melawan Nara. Dia telah di masuki gundo untuk membalas dendam kepada kalian" kata Bara sambil menarik selimut Rani.
Apakah aku korbannya berikutnya? gumam Rani dalam hati.